Seribu Jalan Kutempuh sampai diberiNya Swedia

Semenjak diminta mengisi Studium Generale JTETI oleh Pak Sarjiya (sampe 2x bo), akhirnya banyak junior yang menanyakan kepada saya tentang pengalaman saya mendapatkan beasiswa. Oke deh sepertinya saya perlu ngeblog supaya lebih banyak yang mendapat informasi. (Aduh, berasa orang sukses aja, padahal saya blom ada apa-apanya T___T)

So mulai dari pengalaman saya dulu deh ya…
Dari awal mula perkuliahan saya sudah tanamkan niat mau exchange ke luar negri dengan mencari beasiswa. Harus! Wajib ‘ain! Sebenarnya ini juga pelampiasan karena nggak keturutan kuliah di luar negri. (Dulu saya daftar NTU, udah sampai tes di SMA TN, tapi gagal, eh salah satu penyebabnya karena ibunda nggak ridho, kata beliau “besok sekalian yang jauh aja!” nahlo beneran dapetnya ke Swedia lho Bu :P). Jadi sejak awal kuliah saya sudah rajin ikut acara pameran beasiswa, dulu pernah ada di GSP. Nah dari situ saya mulai familiar dengan DAAD, Chevening, Aminef, dan apalah itu. Tapi itu sebatas baru dengar saja, blom ada tindak lanjut.

Sampai pada suatu saat ada tawaran beasiswa ke Korsel, waktu itu ditawarkan Ketua KMTE pd saat itu, ke Ninan Kara. Namun saya jelas kepo dong ya, akhirnya ikut-ikut nimbrung dan pengen daftar. Ndilalah pas heboh-hebohnya saya lagi ada janji sama si Ahmad Nasikun, nah otomatis dan tanpa sengaja dia tau. Padahal itu aslinya pengumumannya agak tertutup. Sooooo dengan IPK dan TOEFL saya yang jelas kebanting sama si Ahmad Nasikun ini.. kisah kasih beasiswa exchange saya gagal untuk pertama kalinya, karena Nasikun yang berangkat. *ngesot2*gulingguling*

Sejak saat itu saya jadi super gencar mencari beasiswa. Saya nggak terlalu peduli mau itu ke negara mana, programnya kek apa, hehe. Doa saya juga kenceng banget. Pokoknya minta ditunjukkan beasiswa terbaik untuk saya. Setelah Korsel, saya mendaftar UGRAD, beasiswa exchange satu tahun di Amerika Serikat. Eh gagal, quotanya dikiiit banget ternyata T___T. Nyerah? Gak lah ya,, dilanjut lagi beasiswa Jepang SPACE sama Tohoku dan beberapa beasiswa lain, lupa deh namanya apa aja. Persaingan semakin mengerikan bung, beberapa teman saya satu jurusan udah keterima beasiswa exchange sebelum saya, si Azhar Sukma di Chuo University, Ramadhan PP di Kyushu University, Mitsalina di NTU, ditambah bestfriend SMA si Damara ke Hiroshima University of Economics. Hohoho.. Jelaslah saya semakin kebakaran jenggot. Kapan giliran gueee?

Beribu application form saya download, website OIA udah saya satronin tiap hari, essai-essai saya tulis, sertifikat TOEFL saya fotokopi, dosen dan guru saya minta rekomendasi,.. sampai pada akhirnya *jengjeng* lebai.

Kebakaran jenggot terjadi lagi ketika Mas Abi 06 keterima exchange ke Swedia dengan beasiswa Erasmus Mundus, dan beliau ambil jurusan bisnis! *ngiler* Pada saat bersamaan juga ada adek kelas SMA si Intan dari Psikologi yang akan berangkat ke Portugal dengan beasiswa yang sama. Setelah saya lihat, lhoh saya ketinggalan info. Kok bisa yah T__T Kayaknya lagi sibuk Imagine Cup & HNMUN waktu itu. Eh tapi tiba-tiba ada second call buat beasiswa tersebut :O langsung saya daftar. Dan bedanya, kali ini saya bener-bener all out, saya tanyain Intan n Mas Abi sampai habis *lebai* ternyata tips yang sama dari mereka berdua adalah rajin-rajin nanya ke koordinator.Β Kenapa kok harus rajin nanya? Selain dengan demikian kita jadi memperoleh informasi lebih jelas, kita bisa menunjukkan kalau kita betul-betul berminat dengan beasiswa ini. Jadilah saya menyambangi mbak Uma n mbak Acil yang jadi koordinator Erasmus Mundus di FT, saya spamming email ibu Daniela Olmunger sebagai koordinator EM Euroasia, dan beberapa koordinator universitas lain.

Sampai pada akhir bulan Maret 2010, saya membaca pengumuman saya keterima beasiswa EM-Euroasia. Alhamdulillahirabbilalamiiin :’) Sujud syukur hepi sekali saya, padahal blom liat kemana πŸ˜› Oh ternyata ke Swedia πŸ™‚ Dan pada (harusnya) tahun ke-empat saya kuliah, saya berangkat ke Swedia, untuk studi satu tahun di University of Boras.

Dari mendengar pengalaman exchange teman-teman semua, saya kok merasa beasiswa yang satu ini tu paling pas ya buat saya. Wah doa saya terkabul nih, alhamdulillah. Kenapa kok paling pas? 1. Program studinya pas banget sama saya yang pengen belajar bisnis IT. 2. Alhamdulillah jumlah beasiswa sedikit makmur, bisa buat traveling keliling Eropa. 3. Ketemu sama grantee yang lain yang super hebat yang dari dan bersama mereka aku (bisa dibilang) menemukan jati diri dan banyak belajar pengalaman hidup dan agama :’)

Moral of the story? Jangan pernah menyerah. Gagal itu biasa. Mulailah perjuanganmu seawal mungkin. Serahkanlah semua pada Allah, Dia sudah terbukti paling tahu apa yang terbaik buat kita kan πŸ˜‰

Jadi apa toh faktor yang penting dalam mencari beasiswa? IPK harus tinggi po? TOEFL harus dewa? Simak artikel selanjutnya yah, mau belajar UTS dulu nih πŸ˜› Biar pada kepo sedikit deh yaa πŸ˜€ Don’t forget to drop a comment!

Advertisements

Adab Bergaul dengan Non Muslim

Adab-adab bergaul dengan non muslim
30-10-11

  1. memberi kesempatan untuk mendengarkan kalamullah Attaubah:6 prakteknya gmn? tidak menutup diri langsung lakum dinukum waliyadin, tapi tetep ngasih kesempatan memperdengarkan kalamullah. prakteknya kaya apa? ternyata aku nemu di notes nya mas Rangga Almahendra tentang surat dari seorang RomoΒ :’)

    Attaubah:6 = Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.

  • tidak bersikap dzalim, tetap menunaikan amanah dengan mereka, tapi ga boleh terlalu cinta banget assyuara:15, kalau kita dizalimi, ampe diusir umat islamnya, maka boleh memerangi orang kafir tersebut
  • boleh bergaul dengan non muslim dlm keadaan damai, membantu finansial, makan dll tetap harus berlemah-lembut, almumtahanah, kalau musuh tidak memerangi, maka kita jg ga boleh memerangi.

    Al-Mumtahanah:8Β Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Al-Mumtahanah:1 Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.

  • tetap berlaku adil dalam perkara hukum, misalnya dalam pengadilan. contohnya pada kasus baju besi pada jaman Ali. Ali mengajukan saksi, pembantu dan anaknya tp blom baligh, tetap ga bs diterima kesaksiannya. Walaupun Ali khalifah n muslim tetep ngga bisa dimenangkan.
  • harus tetap meyakini ada perbedaan antara muslim dan non muslim. misalnya dalam diyat (ganti rugi keluarga yg terbunuh, klo yg ngebunuh non muslim ada perbedaan), warisan (ga boleh sebanding), pernikahan, perwalian dalam nikah.
  • wajib membalas salam tp cukup dengan jawaban ‘alaikum/waalaikum‘ (dan untukmu juga) tapi ga boleh ngucapin duluan
*disclaimer: ini cuman notes dari sebuah kajian, hehe. lebih jelasnya boleh nanya di komen iyaps*

Alhamdulillah, been to 5 continents at the age of 22

This blog post is not intended for showing off, just that I am trying to be more grateful of things in my life, trying to cultivate potentials rather than fixing mistakes, and so I think this is one of the biggest blessing from AllahΒ that not so many people get πŸ™‚ I hope this inspires me and us all.

1. Asia

Of course, its obvious, I was born, raised and today this post is written in Indonesia, which is Asia. But I have not been to any other countries than Indonesia inside Asia πŸ˜€ Well, maybe just for transit in Hong Kong and Kuala Lumpur. Oh here is the picture anyway for HK airports LOL.

HKIA 2010

2. Australia

Is the first foreign country I have been to πŸ˜€ My dad did his master in Brisbane and his doctoral in Adelaide. Our family lived in Brisbane on 1992-1993, I was only 3-4 years back then πŸ˜€ It was a good childhood memory :3

Brisbane 1993-1994

Then we lived in Adelaide during 2001-2002 and 2004-2005. This was a major transition phase in my life as a teenager, I have to adapt to new society when my age is reaching the stage of transition too.

Adelaide 2001-2002
Adelaide 2004-2005

Ok the pics aren’t that representative of my whole experience in Australia maybe; it does look like taken from one event only πŸ˜› Well, coz its quite hard to find my pics with hijab xD

So I would say, my coming to Australia was just “lucky” that I have my special awesome Dad who brought me and my family there. But this is the stepping stone of my journey around the world! Yeah, since then I have been dreaming of studying abroad one day πŸ˜€

3. America

On February 2010 I went to Boston, US to attend Harvard National Model United Nations. It was quite a struggle to get chosen into the 10 people team of UGM’s delegation and it was much more hardwork to get us flown to the US. I remembered at some point I walked on the streets of NYC not believing that I was actually there! It was a good memory of teamwork and a whole lot of new experiences.

Boston-NYC Feb 2010

4. Europe

I had been applying for scholarship for exchange study abroad a lot during my second and third year. I failed a lot until on March 2010 I got news that I have been granted an Erasmus Mundus EuroAsia scholarship for one year study in Hogskolan i Boras, Sweden. I would say that this scholarship was the best one for me, the study program suited my interest and … I travelled around Europe!

University of Boras, 2010-2011

So in Europe, I had a chance to visit 14 cities πŸ™‚ It was during the winter we travelled around Europe by train. It was not only a good vacation, we learned a lot about European culture or just learning how to “survive” the journey (with limited budget, limited time, and limited luggage space!) πŸ˜€ Here is the highlight of that journey.

Germany, Winter 2010
Italy, 2010
France, 2010
Andalusia, Spain, 2010
Barcelona & Madrid, Spain 2010

Europe is rich of culture, differs from one country or region to another. The best thing is that with one visa you can travel to all the Schengen countries! Thanks EU, you made me able to travel a lot πŸ˜›
Aaand the blessing did not stop there, on spring I traveled again to London!

London, UK, 2011

5. Africa

On Spring 2011, me and my two friends decided to take a trip to Morocco. So this is Africa! My fifth continent πŸ™‚ It was very nice to be in a muslim country after a long while staying in Europe as minorities. Morocco is very pretty πŸ™‚ A great country to complete my journey around 5 continents πŸ™‚

Morocco, Spring 2011

Alhamdulillah, at the age of 22, I have been to 5 continents πŸ™‚
Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah.. no matter how much I said it, I know it would never be enough.

Ok, one little disclaimer, I hope you don’t get the idea that my life is really really wonderful and smooth. Well, it quite is, for the sake of being grateful, but there are big and long struggles behind those happy pictures either afterwards or in advance.

Now we just have to reflect, have we been grateful enough? 😦
Are my glory days going to stop here? :S
Where are we planning to go next? πŸ˜‰

Let’s dream big and work hard!