Out of the Comfort Zone

Just saying, why aren’t there many athletes who are “native” Indonesians, and so are some other occupations like entrepreneurs. I know most people seeks things like “kemapanan”. From the beginning to now on people tend to follow the system. I am not saying its bad, because they do well in that system. Things are different with people who don’t really follow the system, but they fight hard for it, right from the beginning. They know they have less chance to reach comfort zone by doing so, but this what makes them have extraordinary working spirit. They are willing to take the risk.

In some ways, Indonesia should thank its minority group because they dare to take the out of comfort zone
occupations.

#watchingthomasuber #gogoindonesia

Advertisements

Laa ilaaha illallaah

(Emha Ainun Nadjib)

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Demikian lelaki itu berdzikir
Demikian mulutnya berdzikir
Demikian kakinya berdzikir
Demikian tangannya berdzikir
Demikian jiwanya berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Lelaki itu terhimpit
Di tengah jejalan orang-otang
Di tengah mereka yang berebut jalan
Di tengah tenaga yang mendorong
Menyeret dan menekan
Tetapi ia tetap tegar
Tetapi ia pelihara keyakinan
Ia arahkan mata ke satu titik pandangan

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Jalan begitu terjal
Jalan penuh batu dan dajjal
Angin merasukkan khayal
Tapi sukmanya mengebal
Tapi sukmanya terus berdzikir
Keringatnya terus berdzikir
Langkahnya terus berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Matahari menancapkan cahaya di matanya
Tapi ia tidak silau
Bumi menyemburkan bau harum di hidungnya
Tapi ia tidak tersengau
Kibaran rambutnya terus berdzikir
Derap hidupnya terus berdzikir
Desah nafasnya terus berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Orang-orang di sekelilingnya berebut tempat
Orang di sekitarnya berebut kursi
Berebut pisau
Berebut mahkota
Berebut kostum
Berebut simbol
Tetapi senyum lelaki itu terus berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Orang-orang meloncat dari bumi
Tapi tak bisa sampai ke langit
Orang-orang bagaikan burung
Ditinggalkan terbangnya
Orang bagai api ditinggalkan panasnya
Orang bagai bom ditinggalkan ledakannya
Tapi tegak dada lelaki itu terus berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Inilah jimat
Inilah kunci
Inilah logam
Inilah kursi
Inilah jaman
Inilah tambang bumi
Tetapi sang lelaki hanya berdzikir
Tetapi jantungnya hanya berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Lelaki itu pergi ke gunung
Lelaki itu mengarungi lautan
Lelaki itu melintas gurun
Lelaki itu merambah hutan
Lelaki itu pergi pergi
Akhirnya kembali
Ke dalam diri
Ke dalam Allah yang menanti

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Filosofi Gerakan Tari Rampoe

Gerakan Tari Rampoe (Saman) khas Aceh menorehkan beberapa rasa buat saya. Terutama tentang sebuah ukhuwah.

  1. Barisan yang sempurna adalah yang rapat dan lurus, sama seperti shalat.  Ga ada orang kok nampil tari saman terus barisannya bolong.
  2. Kalau sudah dalam barisan sebaiknya sampai pundak menempel dengan sebelahnya. Hal ini membuat kita peka dengan sekitar kita.
  3. Satu kesalahan bisa menular ke sebelahnya, tapi begitu juga semangat dan gerakan yang benar. Kalau pas latihan kita sering ngacak yang bisa dengan ga bisa, biar “nyetrum”.
Jadi keywordnya untuk sebuah performance perjuangan dalam sebuah barisan adalah “peka” dan “menular“.
dan senyum
Debut saya di Sanggar Kesenian Aceh UGM. sst ga usah dikomen penampakannya :p
ditulis di sela-sela kebosanan nyekripsi terus.
I believe everybody needs a touch of art in their life 🙂 Here is mine.