Double Kill

(warning, this post is just to record my wandering thought, it’s so raw and random)

Here is another wall paint ads

The technology is created by Lenkote, Australia. You sell the product AND plant in the culture (by putting a ‘BULE’ in the ads). Double kill.

Just imagine if Indonesia creates a product and also planting in the culture into the branding. Well, ok, today we will doubt that it’s gonna sell succesfully. But let’s talk about persistence.

Do you know about the Burberry Check? It’s this pattern Continue reading

Advertisements

Antara TOEFL iBT, TOEFL ITP, dan IELTS (2-selesai)

Seusai tes iBT, saya sudah menduga nilainya akan kurang maksimal. Dan benar saja, masih berada di bawah batas minimal sekolah ke Eropa. *sigh*

Mau nggak mau saya harus tes lagi. Kemudian saya mulai membuka-buka lagi buku tes TOEFL milik Fajar untuk belajar. Padahal yang punya sampai sekarang belum memanfaatkan buku tersebut, hahaha (piss jar). Nah salah satu kesalahan saya lagi adalah nggak segera ndaftar tes lagi, karena masih belum pede. Ternyata eh ternyata jadwal tes di Jogja lagi penuh-penuhnya, nggak IELTS, nggak iBT. Yang terdekat ternyata IELTS pada tanggal 5 Januari. Bagaimana ini? Masa saya harus banting stir ke salah satu testnya yang nggak tau formatnya seperti apa, bisa-bisa saya kacau lagi seperti di iBT kemarin.

Sebelumnya saya sempet ngobrol sama Tatha, mbak dosen muda di FT yang juga lagi nyari sekolah. Tatha bercerita kalau ke Eropa sebaiknya IELTS, karena batas nilai yang menjadi syarat tidak terlalu tinggi, sementara nilai iBT yang yang dipersyaratkan cukup tinggi. Sementara kalau ke Amerika, iBT yang dipersyaratkan cukup rendah sementara IELTS nya tinggi. Wahhh ini.. ternyata ada tendensi. Saya belum survey terlalu mendalam, tetapi memang benar, untuk Eropa biasanya syarat IELTS 6.5 dan iBT 90 seperti ini. Sementara Amerika mensyaratkan IELTS 7 dan iBT 80 seperti ini. (Note: ini hanya survey terbatas beberapa universitas saja). Nah, berhubung target saya kebanyakan di Eropa (Amerika beasiswanya dikit sih) bismillah deh, saya ambil IELTS aja. Toh iBT saya bisa jadi masih kepake kalo kali-kali mau ke Amerika, hehe. Harganya US$ 220 jika tes di IDP Yogyakarta, dan US$ 195 jika tes di Real English (tapi sepertinya ada plus biaya admin 200 ribu rupiah). Continue reading

Antara TOEFL iBT, TOEFL ITP dan IELTS (1)

Bismillahirrahmanirrahiim..

Sehubungan dengan ikhtiar mencari sekolah lagi, yang saya harap mampu berjodoh dengan salah satu sekolah di luar Indonesia, otomatis terdapat persyaratan untuk memiliki sertifikat berbahasa inggris. Berhubung sertifikat TOEFL ITP saya sudah expired dan untuk jenjang S2 di luar sudah tidak bisa menggunakan sertifikat institusional, dimulailah kisah saya mengejar sertifikat bahasa inggris ini.

Mungkin banyak yang berkata, “Ah kalo Alvi mah kalo bahasa inggris udah nggak perlu ditanyakan lagi..” daaannn.. sayang sekali kenyataanya nggak sebegitu mulus kali ini.

Mulanya saya bingung menentukan mau tes apa. Biasalah orang sanguin tipe B. Setelah surfing kesana kemari, saya merasa kalau TOEFL iBT lebih widely accepted. Yang katanya UK sebagai basis tes IELTS pun masih menerima TOEFL iBT. Sementara di Amerika kok saya lihat ada universitas yan tidak menerima IELTS.

Dengan pertimbangan tersebut, saya kemudian mendaftar untuk tes TOEFL iBT di Real English Yogyakarta (lokasi di gedung IONs). Harga resminya lebih murah daripada IELTS yaitu US$175 plus biaya administrasi Rp 200.000. Jatuhnya nyaris 2 juta rupiah. Oya ternyata untuk pendaftaran bisa langsung online lewat ets.org dan bisa dilihat langsung tanggal dan tempat tesnya. Dan kalo daftar dan bayar online tidak kena biaya admin, menurut info kawan saya, Arif HW.

Jarak pendaftaran dan tes saya hanya dua minggu. Minggu pertama saya sama sekali nggak terpikir mau tes, jadi kesadaran mau belajar pun nggak ada. Huahaha. Oh, karena saya baru gres-gresnya masuk kerja sih trus kenapa. Sebelumnya saya sering main ke American Corner buat baca-baca buku IELTS/TOEFL iBT. Setelah kerja jadi ga bisa kesana lagi deh. Untung dipinjami buku TOEFL iBT nya Fajar yang baru saja dia beli secondhand dari Fahim. Nah minggu kedua saya mulai serius baca-baca bukunya, melihat tipe soal dan teknis soalnya. Tapi ini serius-serius nggak serius juga sih, belum pernah mencoba tesnya secara penuh. Saya belum ada bayangan jumlah soalnya berapa, waktunya berapa lama dll yang ternyata menjadi sebuah kesalahan yang fatal.

Hari ujian tiba. Continue reading

Mobile Phones and Unemployment

IELTS Writing Excercise

Some people argue that the government should give every unemployed person a mobile phone and should make sure they have access to the Internet.

They believe this is the best way of using p ublic money to recude the problem of unemployment.

To what extent do you agree or disagree?

The growth of communication technology rises exponentially nowadays. This brought mankind into a new age called the information age. There are no longer boundaries such as time or geographical location for information to flow. Mobile phones and the internet are the key instrument for information today. The flexibility of mobile phones suits life in information era. Not to forget the internet, where the magic of connecting into everything else in the world happens.

People are now moving forward as the access to information gets easier. On the other hand, when people don’t follow the fast-paced era of information, they will be left behind. The same thing applies to unempleyed people. Unemployed people are the ones who really need to be kept informed. I think everyone should agree that the government is responsible to make sure that every citizen especially unemployed people have access to information.

However the question is whether it is appropriate to execute the idea by using public money to provide unemployed people with mobile phones and internet. Public money is best used for programmes with long term vision. It is very inappropriate to use public money for instant and personal favor. We have to consider that mobile phones and internet here can also be used for personal need of the unemployed people.

Public money is hoped to bring a lot of benefit for the public, including the problem of unemployment. In my opinion public money could be used to improve libraries or other public facilities that can be used for unemployed people to help them find jobs or to keep them educated. This will be a better solution for long term plan.