Romansa Warung Lotek

Mbak Alfi! ….. Mbak Alfi!

Panggilan yang kedua terdengar lebih keras daripada panggilan yang pertama. Itu karena aku sedang duduk di teras sebuah warung lotek ternama itu. Di warung ini semua pesanan harus disertai nama pemesannya dan ketika pesanan sudah siap, kemudian pelayan bertugas mencari tuan dari pesanan ini dengan memanggilnya. Berbeda dengan rumah makan yang menggunakan nomor meja. Itu karena pembeli biasanya pesan dahulu baru sesuka hari menentukan dimana mereka akan duduk.

Warung lotek ini memang tidak besar dan tidak mewah, tetapi sudah cukup nyaman untuk mengundang kalangan menengah keatas untuk mampir ke warung ini. Yang datang mulai dari mahasiswa, pegawai dengan dandanan klinyis-klinyis, sampai bos-bos besar. Akibatnya, parkir kendaraannya pun sampai kemana-mana.

Letaknya yang tidak jauh dari kampus UGM tentu saja membuat warung ini sering dikunjungi mahasiswa UGM sepertiku (dulu). Itu membuatku sedikit malu ketika namaku disebut di depan banyak orang seperti itu. Awalnya aku hanya ingin pesan lotek untuk dimakan di kampus. Tetapi mendung siang itu sudah berubah menjadi hujan. Ya sudah, kursi kosong di meja-meja kecil itu masih banyak. Cukup nyaman buat aku yang makan sendirian.

Hanya saja ketika namaku disebut… Aih… Continue reading

Advertisements