Jelajah Maroko Bagian 1: Gang Senggol Fez

by: Alvi, dengan Sigit sebagai kontributor. Foto: Sigit, Rani, Alvi.

Alkisah tiga orang mahasiswa perantau di Swedia dan Spanyol berencana memanfaatkan liburan musim dingin ke Maroko. Maroko? Yup, karena letak geografisnya yang berbatasan dengan benua Eropa. Kalau secara pribadi, awalnya liburan ini saya memang berencana “mencari matahari” berhubung di musim dingin, matahari pelit banget menunjukkan wajahnya. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah ke Maroko, tapi hanya jalan-jalan di kota-kota besar. Kali ini mau coba kota-kota lain yang belom pernah seperti Fez dan Marrakech, dan juga.. Gurun Sahara!

Terima kasih kepada Ryan Air, tiket ke Maroko pp hanya 1000 SEK (sekitar 1,8 juta rupiah) saja dari Stockholm. Namun, terima kasih kepada Ryan Air juga, saya dan Sigit harus gak tidur malam sebelumnya, karena penerbangannya pagi-pagi pukul 7.35, artinya harus sampai bandara sekitar pukul 6. Padahal perjalanan ke bandara 90 menit sendiri, artinya jam 4 dari kota, padahal jam segitu belum ada transportasi umum yang beroperasi dan Stockholm Centralstation tutup setelah tengah malam. Untung saja ada Satu (ini bener-bener nama orang), yang kebetulan waktu itu megang kunci rumah punya kantornya di deket City Terminalen Stockholm, sehingga saya dan Sigit enggak menggelandang malam itu :’)

Sayang sekali tiket murah artinya banyak menclok alias transit dulu. Sebelum ke Fes, saya dan Sigit harus transit dulu di Paris selama 8 jam. Yaaahhh lumayan.. bisa main ke kota lihat Eiffel dan Museum Louvre (luarnya doang) sekaligus isi bensin di warung halal yang satu-satunya saya tahu *cupu*, nyam nyam. Oya jangan kaget ya kalau di Eiffel tiba-tiba disambut penjual replika Eiffel sambil teriak-teriak “1 Euro dapat 5…. Bagus, bagus.. Murah, Murah….”. Asli, penjualnya bisa ngomong Bahasa Indonesia. Sepertinya pertanda kalau banyak orang Indonesia jalan-jalan ke Paris.

Transit di Paris

Transit di Paris

Setelah capek dan bosan transit akhirnya terbang juga kami ke benua tetangga. Oh iya serunya Ryan Air itu, duduknya bebas kaya di bus, asik kan (tapi kabarnya sih sekarang udah nggak bebas). Selain itu, kalau pilotnya berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus, penumpangnya ramai tepuk tangan. Dan itu terjadi saat kami landing di Fez, hahaha. Kami sampai di Fes jam 10 malam. Jangan membayangkan bandara di Fez gede. Sepanjang mata memandang, yang terlihat cuma ada 1 pesawat, pesawat yang baru saja kami naiki. Pantesan si pesawat waktu itu parkirnya seenak jidat sekali. Jika ada orang Indonesia yang ke negeri ini terutama setelah mencicipi benua Eropa pasti akan langsung berasa ada di tanah air. Salah satu penyebabnya karena transportasi umum yang nggak jelas sehingga taksi lebih banyak beroperasi. Dan taksinya juga banyak yang ga pake argo. Waktu kami mau naik taksi, sempet nawar-nawar harga dulu, tapi berhubung sudah malam dan mereka segerombolan, ya udah deh ngikut aja harganya.

Ternyata taksi itu cuma mengantarkan kami sampai Bab Boujloud, yaitu “gapura”-nya Fez medina, sementara hotel kami berada di dalam medina. Medina di Maroko merupakan sebutan kota tua dimana tempatnya menyerupai labirin, tiap bangunan dekat satu sama lain sehingga gangnya sempit, mirip gang senggol di perkampungan di Indonesia. Nah loh gimana nih cuma diturunin di depan gapura, sementara nyari jalan ke hotelnya susah. Sejak turun dari taksi kami sudah diikutin oleh anak umur 13 tahun-an yang nawarin nunjuk jalan ke hotel. Namanya baru dateng, dan nggak ngerti, kami iya-iyain aja. Sampai depan hotel si anak ini minta dikasih tip 100 dirham. Currency converter di kepala saya belum berfungsi dengan benar, belum ngeh 100 dirham tu banyak atau sedikit. Tapi saya tetep berusaha ngeles ga bawa duit banyak dan akhirnya ngasih 50 dirham. Sampai di kamar, ketemu Rani yang cerita kalo dia beli jeruk 10 dirham dapet satu plastik besar. Errrr… 

Bab Boujloud

Bab Boujloud

Paginya kami pergi ke terminal untuk beli tiket bus ke Rissani (salah satu kota terdekat menuju Gurun Sahara). Nama bis nya lucu sekali: CTM. Setelah itu, masih dengan mindset perjalanan jaman dulu dimana saya kemana-mana naik taksi, saya nyari taksi untuk memulai perjalanan di Fes. Niatnya sih biar nggak susah-susah nyari. Tujuan pertama kami adalah Masjid Al-Qarawiyyin. Berhubung itu hari jumat, kami berniat ikut jumatan. Eh nggak taunya sama taksi diturunin lagi di depan Bab Boujloud yang cuma selempar kolor dari terminal dan cuma bayar 10 dirham. Hahaha ngekek banget kita.. Nampaknya semua spot menarik di Fez itu memang di dalam medina.

Kembalilah kami berputar-putar dalam labirin “gang senggol” medina tersebut untuk mencari Masjid Al Qarawiyyin. Sepanjang gang senggol isinya toko-toko yang menjual baju, kerajinan kulit, minyak wangi, sembako, makanan, wuih meriah pokoknya berasa pasar di Indonesia, ditambah keledai yang suka lewat menangkut barang-barang.

Gang Senggol Fez Medina

Gang Senggol Fez Medina, toko-tokonya pas tutup tapi, berhubung hari Jumat

Cerita punya cerita, Masjid Al Qarawiyyin ini satu kompleks dengan University of Al-Karaouine, yang mana adalah institusi pembelajaran tertua di dunia yang masih beroperasi (source: http://www.guinnessworldrecords.com/world-records/3000/oldest-university), wuih keren banget yak.

Al Karaouine Mosque & University + penulis nampang, karena jaketnya matching

Al Karaouine Mosque & University + penulis nampang, karena jaketnya lagi matching *alasan

Seusai jumatan, kami bertemu dengan satu keluarga dari India yang tinggal di Amerika, yang sedang mengunjungi anaknya yang ganteng mirip Daniel Radcliffe yang sedang mengambil break dari sekolah medical school-nya di Amerika untuk belajar bahasa Arab di University of Al-Karaouine *klepek-klepek maksimal*. Dari ngobrol dengan mereka, kami diantarkan ke tempat penyamakan kulit alias “tannery”. Awalnya emang berencana ke sini, tapi blom tau harus gimana, ah rejeki indah banget ditunjukkin jalan sama adek ganteng keluarga ini :’)

Yoi, salah satu produksi kebanggaannya Fes adalah kerajinan kulitnya. Di sini kami naik ke atas sebuah gedung lalu melihat prosesnya. Ada kolam-kolam kecil warna warni dimana kulit unta, sapi atau kambing dicelupkan dalam pewarna. Tetapi ada juga beberapa kolam yang berwarna putih, usut punya usut itu isinya “pigeon poo” yang mana digunakan sebagai agen alami untuk melembutkan kulit-kulitnya. Pantesaaan baunya di sekitar situ “wangi” banget. Saya dan Rani juga membeli tas kulit di situ, dan baunya gak ilang-ilang sampai sekarang, huahaha.. Eits tapi modelnya kece-kece dan masih banyak bagian yang dikerjakan dengan tangan. Dan setelah kami jalan ke kota lain, harga produk kulit di Fez jauuuuh lebih murah.

Tannery yang cantik tapi bau, tapi tidak apa-apa

Tannery yang cantik tapi bau, tapi tidak apa-apa, kan alami

Setelah lelah berputar-putar (baca: belanja) di medina, kami mampir makan. Restoran dan kafe di Maroko itu cukup unik, karena meja-mejanya banyak yang diletakkan di luar ruangan dan semua kursinya menghadap ke jalan, bukannya menghadap satu sama lain di satu meja. Kesannya nontonin orang di jalan yang sliwar-sliwer hehe. Ah alhamdulillah akhirnya! Freedom is merasakan jajan yang bebas ga perlu mikir halal haramnya dan dengan harga yang pas dengan porsinya. Kami memesan couscous khas Maroko yang gurih dan lembut dan ayam goreng yang rasanya mirip ayam penyet di Indonesia. Selamat makaan!

Kuliner Maroko, nyam nyam

Kuliner Maroko, nyam nyam

Sesudah makan, kami berjalan-jalan mencari ransum untuk selama perjalanan 10 jam ke Rissani dan juga nanti saat di Gurun Sahara. Di salah satu warung sembako yang tata letaknya persis plek sama warung sembako di Indonesia, kami terharu banget menemukan kardus berisi Indomie. Setelah ditinjau lebih lanjut, Indomie itu made in Saudi Arabia. Ah jadi inget artikel nya Pak Andi Mallarangeng tentang diaspora. Kami membeli beberapa bungkus untuk sangu. Dan di bagian selanjutnya Anda akan membaca bagaimana Indomie ini akan menjadi sangat berkesan dalam perjalanan kami 😉 *spoiler*

Saat akan kembali ke hotel, saya terusik dengan papan yang menunjukkan “Clock Cafe”. Saya ingat pernah membaca nama kafe tersebut di TripAdvisor dan mendapat rating yang tinggi. Mampirlah kami ke sana untuk ngopi sejenak. Wuih bener tempatnya bagus, kami naik ke rooftop yang di sebelahnya bisa liat sebuah minaret/menara yang cantik. Kalau pas adzan pasti rasanya mendayu banget di situ. Waktu itu Rani memesan satu minuman aneh tapi enak, namanya almond milkshake, rasanya seger gurih kayak ada yang bisa di gigit tapi sebenernya ga ada.

Penulis dan Tim jalan-jalan nampang dulu di Clock Cafe

Atas-bawah: Minaret&almond milkshake, penulis dan tim jalan-jalan nampang dulu di Clock Cafe

(bersambung ke Jelajah Maroko, Bagian 2: Indomie di Gurun Sahara)

Advertisements

Adapting the Life of An Entrepreneur

I come from an academic family; my dad is a lecturer, my grandma used to be a head of primary school. Then I study engineering. These two environments I have lived in is not that related to the world of entrepreneurship. Now I currently study in EIT ICT Labs Master School, where they offer a combination of both entrepreneurship and ICT. I can’t say that I chose the wrong program, because I have been so fond of entrepreneurship since back then: I joined entrepreneurship society in my previous uni, been selling this and that, founded a web design company with my friends, and finally went to see and attend an entrepreneurship workshop at the heart of ICT business of the world. And I really love it; it’s a wonderful world where your ideas get to be realized. If someone asks whether I want to be an entrepreneur, yes I do–I do want to spend some time of my life as an entrepreneur. But I must say that I still don’t have everything that it takes to be an entrepreneur–I am still adapting.

I am taking Human-Computer Interaction and Design as my major. I found that there is a similarity between the life of a designer and an entrepreneur: talking to users. This challenge, somehow, I do not face in my previous study. I was quite annoyed at first–it’s a waste of time and energy, why can’t we just figure out the problem on our own?? But then I learn the biggest lesson: we (entrepreneurs, designer, and basically everyone!) are not always right. We always fall in love with our idea. And in a user-centered system design or an ideal soon-to-be-established business, this is not healthy. We need to listen to users and customers, and to accept if our ideas must be killed.

So this part of ‘talking to people’, is the thing I am still adapting to. I used to go to entrepreneurship meetings or bump into entrepreneur-kind-of-people and I got irritated very much: they talk way too much. I am the kind of person who is never been able to dominate a conversation, but then these people I meet are people like that. When I came home after these meetings, I used to always get so upset and lost some self esteem. Do I really want to go with this?

I always remember how my mom hates talking to entrepreneur-kind-of-people who according to her they are just talking useless things and after some time, they think they have established a good connection to you, they will take some advantage of you. Now for the sake of my courses here, I often find myself going out to a dinner just to talk to user/customer. Now this is how it feels becoming something you or your loved ones hate. (Lesson learned: don’t hate anything! except if its absolutely bad)

I don’t know why my family have bad image about entrepreneurs. But I see this as a requirement to become something better than what is already there. If people have a hesitation that entrepreneurs will rip you off, keep a pure intention. You want to hear the problems they are facing, get a better understanding of the problem, not forcing them to buy our idea. Even though it is called ‘talking to users/customers’, it is actually a time when we need to listen more than to talk. Business is about money, but most of the time it is more than just money, right?

So, we–designer and entrepreneurs–cannot do things without everyone else. We need your love too 🙂