Hidung Panjang Inovasi

Kalau kita melihat teknologi informasi (TI) sekarang, kita bisa beranggapan bahwa teknologi informasi itu berkembang sangat pesat. Dalam istilah ilmu hitung atau komputasi sendiri dikenal sebuah hukum bernama Moore’s Law, dimana bapak co-founder Intel ini mengatakan bahwa setiap dua tahun, jumlah transistor dalam integrated circuit akan selalu bertambah dua kali lipat. Artinya, ‘otak’ komputer akan memiliki kemampuan dua kali lebih banyak dari dua tahun sebelumnya. Terbayang kan bagaimana teknologi di atasnya berkembang akibat kekuatan komputasi yang selalu meningkat ini?

Namun bukan kekuatan komputer saja yang menentukan seberapa cepat perkembangan teknologi. Masyarakat juga ikut menentukan. Masyarakat lah yang membuat demand. Teknologi baru yang bisa masuk dalam pasar selain harus menunjukkan fungsi yang baik, juga membutuhkan kepemilikan ‘wow factor’. Semuanya saling mempengaruhi, ada teknologi dengan wow factor tapi tidak bisa berfungsi sebagai solusi di masalah yang tepat, mungkin tidak akan bertahan lama.

Yang saya bicarakan baru saja ini terangkum dalam suatu grafik bernama “Gartner’s Hype Cycle of Emerging Technologies”. Setiap tahun, perusahaan ini melakukan evaluasi tentang market promotion dan perception of value mengenai lebih dari 2000 teknologi, servis dan trend di lebih dari 119 bidang. Gartner menghasilkan sebuah laporan yang menceritakan bagaimana perjalanan teknologi bermula sebagai penemuan, kemudian menjadi ‘hype‘ atau sesuatu dengan ‘wow factor‘ sangat besar tadi, dan pada akhirnya menjadi bagian utama produksi bisnis TI hari ini.

Mari kita lihat seperti apakah grafik tersebut di tahun 2014

Gartner's Hype Cycle for Emerging Technologies 2014 http://www.gartner.com/newsroom/id/2819918

Gartner’s Hype Cycle for Emerging Technologies 2014 http://www.gartner.com/newsroom/id/2819918

Grafik ini menunjukkan tingkat ekspektasi terhadap waktu dan terbagi dalam lima bagian. Saya belum membaca versi lengkap report tersebut, namun bisa kita artikan bahwa ‘hype cycle’ dimulai dari ‘innovation trigger‘ dimana sebuah teknologi mulai ditemukan atau dikembangkan, atau bisa pula dimana sebuah ide baru saja dilontarkan. Setelah itu, terdapat ‘peak of inflated expectations‘ dimana teknologi muda tersebut memiliki ‘wow factor‘ yang tinggi sehingga orang begitu menyukai teknologi ini dan juga memiliki ekspektasi yang sangat tinggi. ‘Trough of disillusionment‘ adalah bagian yang terlihat paling menyedihkan, dimana mulai disadari bahwa teknologi tersebut tidak se-menjanjikan yang diharapkan, atau masih terlalu mahal. Namun setelah itu terdapat ‘Slope of Enlightenment‘ dimana teknologi kini mulai masuk dalam tahap perbaikan dan penyesuan untuk ‘bangkit kembali’. Sampai pada akhirnya teknologi akan mencapai ‘Plateau of Productivity‘ dimana teknologi sudah lebih matang dan menemukan penggunaannya yang berkelanjutan sehingga mencapai produktivitas.

Di tahun 2014, teknologi yang sedang berada pada ‘puncak’ pada tahun ini antara lain Internet of things, Wearable user interfaces, dan consumer 3D printing. Bagian lain yang menarik untuk dilihat adalah pada bagian ‘palung’ terdapat antara lain NFC, cloud computing, AR dan gamification.

Coba kita mundur ke 2012.

Gartner 2012 Hype Cycle for Emerging Technologies

Gartner 2012 Hype Cycle for Emerging Technologies

Menarik sekali untuk dilihat bahwa bisa ditemukan banyak perubahan dalam dua tahun. Ada teknologi yang berada di ‘puncak’ tahun 2012 ternyata berada dalam ‘palung’ di tahun 2014. Setiap teknologi memiliki waktu yang berbeda-beda dalam menempuh siklus ini. Ada yang cepat mencapai ‘plateau’, ada yang lambat. (Bisa jadi) Ada pula yang diam lama di suatu titik. Adapula yang ‘lapuk’ atau obsolete sebelum sampai ke plateau. Menurut saya, pun pasti ada pula yang tidak sepenuhnya mengikuti siklus pada grafik ini. Tentu saja ada criticism terhadap grafik ini, tetapi grafik buatan Gartner ini menjadi mapping nyata dari sebuah teori bernama ‘The Long Nose of Innovation’ oleh Bill Buxton.

The Long Nose of Innovation (Bill Buxton)

The Long Nose of Innovation (Bill Buxton)

Buxton menjelaskan bahwa sebuah inovasi berawal dari penemuan atau invention. Invention ini mengalami proses refinement & augmentation panjang dan cenderung memiliki perkembangan yang kecil dan sedikit sebelum menjadi sebuah teknologi yang dikenal sekarang. Buxton menekankan bahwa inovasi bukanlah tentang penemuan. Bisa jadi penemuan yang digunakan dalam inovasi tersebut adalah penemuan lama. Buxton dalam artikelnya mengambil contoh penemuan tetikus (mouse) oleh Engelbart dan English (1965) pada awalnya masih digunakan secara terbatas. Baru saat Macintosh diperkenalkan pada tahun 1984, tetikus mulai resmi dikenal sebagai perangkat masukan (input) pada komputer personal. Buxton meyakini, dibalik semua ‘wow’ pada teknologi yang sedang populer sekarang, terdapat proses yang panjang.

Teori dari Buxton ini membuat saya menyadari bahwa dari sebuah penemuan belum tentu terlihat langsung apa penggunaannya. Penemuan tersebut harus digabungkan dengan berbagai macam hal lain serta dicoba di berbagai macam ranah untuk menemukan penggunaannya. Dari situ juga terlihat mengapa teknologi yang sudah mencapai ‘peak of inflated expectations‘ bisa turun ke ‘trough of disillusionment‘. Teknologi tersebut butuh waktu untuk kembali melewati masa ‘refinement & augmentation‘.

Mempelajari laporan milik Gartner dan teori dari Buxton ada beberapa poin yang saya ambil :

1) Mengetahui dan memahami posisi

Sebagai pelaku teknologi, sebaiknya kita perlu melihat kembali teknologi yang sedang kembangkan, baik dalam riset maupun ditawarkan sebagai servis di industri maupun startup, ada di posisi apa. Apakah kita sudah menemukan penggunaan teknologi ini secara berkelanjutan? Atau teknologi ini masih dalam tahap ‘hype‘ dan masih butuh proses refinement panjang? Jika masih dalam refinement, seberapa jauhkah untuk mencapai plateau of productivity? Memahami posisi bisa membantu kita untuk menentukan langkah-langkah yang perlu kita ambil.

2) Melihat ke belakang sebelum melihat ke depan

Teknologi yang ‘turun’ belum tentu tidak memiliki potensi, hanya saja masih menemukan kendala. Jika belum juga ada solusi untuk kendala, maka terpaksa ide tersebut harus disimpan dulu. Jika hal ini sudah berlangsung dari dulu, coba bayangkan, sudah berapa banyak ide yang ‘tersimpan’ dari tahun-tahun yang lalu. Mungkin sekarang sudah saatnya ide tersebut kembali diangkat. Seperti halnya Steve Jobs, bukan penemu tetikus, tetapi yang paling sukses memperkenalkan penggunaan tetikus. Karena hal ini pula, buat saya, kunjungan ke museum itu selalu menarik.

3) Berinovasi dan berkolaborasi

Kendala dalam teknologi penyebabnya bermacam-macam. Mungkin saja teknologi tersebut masih terlalu mahal. Jika terlalu mahal, mungkin kita bisa berinovasi dengan mengambil bahan dasar lain yang lebih murah dan melakukan desain ulang, atau menemukan model bisnis atau supply chain baru, atau kita bisa mencoba algoritma lain, metode lain, atau kita bisa mengemas ulang penjualannya. Inovasi itu bukan istilah dalam satu bidang saja, tetapi berbagai macam bidang. Oleh karena itu kolaborasi juga dibutuhkan dalam inovasi.

4) Menemukan penggunaan yang tepat, memberikan value

Di suatu surat kabar elektronik saya pernah baca opini tentang wearable tech dan bagaimana penulis tidak menyukainya (karena mengganggu, menyebalkan, dan tidak aman). Saat membaca opini itu saya baru saja mendapat kuliah tentang hidung panjang inovasi (masih hangat-hangat tai ayam) dan otomatis bergumam, wah… penulis sepertinya belum tahu tentang proses hidung panjang inovasi.. (jadi sombong ya). Namun dulu saya sendiri juga termasuk sering tidak menganggap menarik teknologi dengan wow factor yang menurut saya kurang ‘manusia’. Menurut saya menemukan penggunaan yang berkelanjutan dengan memberikan ‘value‘ yang tepat adalah salah satu agenda dalam berinovasi. Respon negatif seperti ini menjadi masukan yang sangat baik untuk melakukan evaluasi value sebuah produk.

Kalau Anda bagaimana?