Istilah dan Kosakata dalam Bahasa Prancis

Kalau dari bahasa pengantarnya, kuliah di Prancis ada dua macam, kuliah dalam bahasa Prancis dan kuliah dalam bahasa Inggris. Kalaupun kuliah dalam bahasa Inggris, tetap sangat disarankan untuk belajar bahasa Prancis untuk bertahan di kampus maupun dalam kehidupan sehari-hari, karena, ya begitulah (c’est la vie :p), banyak orang Prancis yang tidak mau diajak bicara bahasa Inggris, entah itu dia nggak bisa, nggak pede, atau nggak mau.

Nah kalo kasus saya sih, saya blas nggak belajar bahasa Prancis sebelumnya, muhaha, jangan dicontoh. Di kampus memang ada course bahasa Prancis, tapiiii bahasa Prancis tu syusyah kakaaak.. Satu kata bisa bermetamorfosis jadi beeerbagai bentuk. Cara baca beda sekali dengan penulisan dan berubah-ubah jika bertemu kata lain. Waktu sebentar itu gak cukup buat belajar bahasa.

Jadi, banyak sekali tuh istilah bahasa Prancis di kehidupan sehari-hari yang mungkin nggak diajarin di kursus bahasa tingkat pemula. Kadang istilah tersebut nggak ada padanannya di bahasa Inggris bahkan bahasa Indonesia. Tapi ya umumnya sih bisa dinalar kalo tau artinya. Cuman saya ga tau artinya hahahah. Seringkali istilah ini dipake oleh teman-teman mahasiswa Indonesia. Makin tampak cupu lah saya xD

Masa-masa tersulit bukan saja ketika pertama kali sampai di Prancis saja, namun juga sejak sebelum keberangkatan. Nah, siapa tahu Anda nanti akan kuliah atau hidup di Prancis, berikut saya kumpulkan istilah dan kosakata yang bakal sering muncul, beserta cara bacanya (kira-kira aja sih) dan arti dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Feel free kalau mau menambahkan atau mengoreksi di bagian komentar!

Tempat tinggal/Housing

  • Logement (lojemong) – housing – tempat tinggal
  • Residence (residong) – residence – kumpulan tempat tinggal, umumnya gedung atau kompleks isinya kamar/apartemen
  • Proprietere (proprieter) – landlord – yang punya rumah
  • Disponible (disponib/dispo) – available – siap huni
  • Rendez-vous (rande vhu) – appointment – janjian ketemuan
  • Arrondisement (arrongdismong) – district – distrik/daerah
  • Libre (lib) – free – bebas/kosong
  • Garant (garong) – guarantor – orang yang bisa menjamin kita lancar bayar rumah, biasanya orang yang sudah stabil pemasukannya dan sudah tinggal di Prancis cukup lama
  • Crous (krus) – student housing – ada kepanjangannya tapi saya lupa, intinya badan milik pemerintah pengelola tempat tinggal mahasiswa. Biasanya sewanya termurah, tapi antrinya panjaang.
  • Batiment (batimong) – building – bangunan, biasanya dalam satu komplek, bangunan diberi nama atau nomor
  • Etage (etazh) – floor/level – lantai (pertama, kedua, ketiga, dsb..)
  • Escalier (eskaliye) – stairs – tangga
  • Ascenceur (assongsehr) – elevator – lift
  • Par mois (pahr moa) – per month – per bulan
  • Cuisine (kuizin) – kitchen – dapur
  • Salle de bain (sal de bang) – bathroom – kamar mandi
  • Laverie (lav-ri) – laundry – tempat cuci baju
  • Chambre (syambhre) – room – kamar
  • Studio (s-cudio) – studio – satu kamar dengan kamar mandi dan dapur
  • Meublé (meu-bleh) – furnished – kamar yang sudah lengkap dengan perabotan
  • Studette (s-cudet) – small studio – studio versi kecil
  • Colocation (kolokasyong) – place sharing – biasanya satu apartemen buat bersama atau satu kamar bersama

Dokumen Penting/Important documents

  • Attestation (attestasyong) – statement – surat keterangan/pernyataan
  • RIB (rib) – bank information – dari kata Relevé d’Identité Bancaire yaitu surat keterangan informasi bank. Biasanya kalo di Indonesia sih buku tabungan, tapi ini cuman satu surat keterangan gitu
  • CAF (kaf) – social benefits for student – bantuan sosial untuk mahasiswa, favorit kita nih hehe

Transportasi/Transportation

  • Terminus (terminus) – pemberhentian terakhir
  • Sortie (sortie) – exit/jalan keluar
  • Arret (arret) – stop – pemberhentian
  • Descend (desong) – get off – turun dari transportasi
  • Prochain arret (prosyen arre) – next stop – pemberhentian selanjutnya
  • Reduction (reduksyong) – reduction – potongan harga, biasanya buat anak sekolah, remaja di bawah 26 tahun, atau yang sudah sangat sepuh
  • Reduit (redui) – reduced – mirip lah sama reduction, mungkin jenis katanya beda hehe
  • Valide/valides (valid) – validate – dari kata ‘valider’, artinya validasi kartu. Jadi kalo punya kartu bulanan harus di-tap dulu untuk validasi. Gak semua stasiun menggunakan pintu yang terbuka ketika kartu di-validasi loh.

Nama tempat umum/Public places

  • Boulangerie (bulongzheri) – bakery – toko roti, jenis rotinya lebih ke roti yang dimakan sehari-hari seperti baguette, croissant, dsb
  • Pattiserie (pattiseri) – pastry shop – toko pastry, jenis roti lebih ke makanan penutup atau yang dimakan bersama teh atau kopi
  • Bibliotheque (bibliotek) – library – perpustakaan
  • Libraire (librer) – book shop – toko buku

Kata seru/Interjection

  • Salut! (salu) – hi – hai (informal, biasanya kepada teman dekat)
  • Ça va? (sa va) – how are you doing?/okay? – apa kabar?/baik-baik?
  • Bonjour! (bongzhu) – good day/hello – halo
  • Bonsoir! (bongsua) – good evening – selamat malam
  • Au revoir! (au r’vua) – goodbye – selamat tinggal
  • Bon appétit! (bonapeti) – enjoy your meal! – selamat makan
  • Coucou! (kuku) – Cuckoo! – Hai!
  • Voila! (wala) – Here you go/here it is – Ini dia!
  • Merci! (mehrsi) – Thank you – terimakasih
  • Pardon! (pahrdong) – Sorry – maaf/permisi.. biasanya kalau mau lewat di keramaian
  • Pardon? (pahrdong) – Sorry?/What? – apa? gimana? biasanya kalo kurang jelas
  • Excusez-moi! (ekskuzhe moa) – excuse me – permisi.. biasanya saat pertama mengajak bicara orang
  • Désolé (dezole) – Sorry – maaf .. biasanya disertai kalimat penuh seperti je suis desole (zhe sui dezole) – saya minta maaf
  • D’accord! (dakohd) – okay! got it! – oke!
  • Attention! (attangsyong) – look out! – awas! hati-hati!
  • Attendez! (attonde) – wait! hang on! – tunggu! biasanya kalo kita ada barang ketinggalan
  • C’est bon? (se bong) – is it good? is it enough? – gimana? cukup? biasanya di tempat makan, ketika penjaganya memastikan apakah ada pesanan cukup, atau butuh apa gitu
  • C’est toutes? (se tu) – is it all? – sudah? biasanya di tempat belanja, penjaga memastikan sudah apakah sudah semua barang kita dapatkan, biasanya habis itu dia menyebutkan berapa kita harus bayar

Kampus/Campus

  • Etudiant(e) (etudiong/etudiont) – student – mahasiswa
  • Examen (egsamang) – exam – ujian
  • Cours (kuhr) – course – mata pelajaran
  • Stage (stazh) – internship – magang
  • Soutenance (sutenongs) – defence – ujian skripsi/thesis atau pendadaran
  • Vacances (vakongs) – holiday – liburan!

Art and Craft

There are people who were born artistic. Their senses work really well to pull strings here and there to make a great piece. But I am pretty sure that not every artists are just talented. Some achieve it from hard work. The question I had in mind is, how do they learn?

Growing up in a country that has large population and huge education gap, many times I feel that the education system is lacking in appreciating people’s individuality. For example, to get to a good school, you only need to be good in three or five subjects. Other subjects somehow does not count. Probably the government meant that the subjects are the threshold to pass. But in reality, other subjects were kind of forgotten. It is no surprise for kids who become engineer and doctors can survive this. But what about artists?

When we travel to places, a lot of the attraction are about arts: music, dance, shows. I am zero in arts. Well, I do dance a little bit, but for everything else, I have no idea. But I do start questioning when I travel. Of how artists can create beautiful, awesome, full of meaning, artistic stuff.

Then I started to realise arts has a lot of engineering! Firstly you have different raw materials to explore from. It is not just about canvas and brush or pen. You have clay. Paper. Plastic. Glass. Metal. Seashells. Sand. Water. Oil. Feather. Wax. Bamboo. Wood. Bronze. Silver. Gold. And. Many. More. From many of these materials, I am amazed with myself of how little do I have experience with them even they are very easily available around me.

So with the wiiiide availability of raw materials to use from, now comes even more engineering part. You need to process the materials. You want to make a shape. You want to join one part with another. You want to make it stand. You want to make it hang nicely. You want to make it interactive. You want to change the colour. You want to highlight, you want to hide. A lot of these things need some time to learn the technique. Certain material need special ways to process. You sand them. You heat them. You rub some chemical onto it. You knead them.

And oh you need to know how to make the harmony of the shapes. A lot of great piece have strong calculation behind it. Well, ok, the government wasn’t so wrong in making math in one of the required subject in the final exams. But I wish I knew that math is useful in arts too. Haha I complain too much.

I want to share some pics I took when I went to Christmas market in Champs-Elysees. There was some kind of “artist village”. I really admire how crafty and skilful they are.

IMG_20150103_192940

Sleep lights. The artist cut woodboards in different layer and arranged them into a cube. Then adding some lights behind the layer of woodboard, it becomes like lights between trees and grass.

IMG_20150103_193433

Iron work. Shapes and ornaments you can put as decoration in your houses. Some miniature too.

IMG_20150103_193601

Glass blowing. Look at the different little creature he made. That is super amazing because you shape glasses as you blow them–while they are hot!

IMG_20150103_193744

Jeweleries. Made from different stones.

IMG_20150103_194713

Clay work. Glass. Signs. and more.

IMG_20150103_194823

Little magnets. I forgot what they are made of.

IMG_20150103_195720

Colorful lights. Customizable.

Jelajah Maroko Bagian 1: Gang Senggol Fez

by: Alvi, dengan Sigit sebagai kontributor. Foto: Sigit, Rani, Alvi.

Alkisah tiga orang mahasiswa perantau di Swedia dan Spanyol berencana memanfaatkan liburan musim dingin ke Maroko. Maroko? Yup, karena letak geografisnya yang berbatasan dengan benua Eropa. Kalau secara pribadi, awalnya liburan ini saya memang berencana “mencari matahari” berhubung di musim dingin, matahari pelit banget menunjukkan wajahnya. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah ke Maroko, tapi hanya jalan-jalan di kota-kota besar. Kali ini mau coba kota-kota lain yang belom pernah seperti Fez dan Marrakech, dan juga.. Gurun Sahara!

Terima kasih kepada Ryan Air, tiket ke Maroko pp hanya 1000 SEK (sekitar 1,8 juta rupiah) saja dari Stockholm. Namun, terima kasih kepada Ryan Air juga, saya dan Sigit harus gak tidur malam sebelumnya, karena penerbangannya pagi-pagi pukul 7.35, artinya harus sampai bandara sekitar pukul 6. Padahal perjalanan ke bandara 90 menit sendiri, artinya jam 4 dari kota, padahal jam segitu belum ada transportasi umum yang beroperasi dan Stockholm Centralstation tutup setelah tengah malam. Untung saja ada Satu (ini bener-bener nama orang), yang kebetulan waktu itu megang kunci rumah punya kantornya di deket City Terminalen Stockholm, sehingga saya dan Sigit enggak menggelandang malam itu :’)

Sayang sekali tiket murah artinya banyak menclok alias transit dulu. Sebelum ke Fes, saya dan Sigit harus transit dulu di Paris selama 8 jam. Yaaahhh lumayan.. bisa main ke kota lihat Eiffel dan Museum Louvre (luarnya doang) sekaligus isi bensin di warung halal yang satu-satunya saya tahu *cupu*, nyam nyam. Oya jangan kaget ya kalau di Eiffel tiba-tiba disambut penjual replika Eiffel sambil teriak-teriak “1 Euro dapat 5…. Bagus, bagus.. Murah, Murah….”. Asli, penjualnya bisa ngomong Bahasa Indonesia. Sepertinya pertanda kalau banyak orang Indonesia jalan-jalan ke Paris.

Transit di Paris

Transit di Paris

Setelah capek dan bosan transit akhirnya terbang juga kami ke benua tetangga. Oh iya serunya Ryan Air itu, duduknya bebas kaya di bus, asik kan (tapi kabarnya sih sekarang udah nggak bebas). Selain itu, kalau pilotnya berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus, penumpangnya ramai tepuk tangan. Dan itu terjadi saat kami landing di Fez, hahaha. Kami sampai di Fes jam 10 malam. Jangan membayangkan bandara di Fez gede. Sepanjang mata memandang, yang terlihat cuma ada 1 pesawat, pesawat yang baru saja kami naiki. Pantesan si pesawat waktu itu parkirnya seenak jidat sekali. Jika ada orang Indonesia yang ke negeri ini terutama setelah mencicipi benua Eropa pasti akan langsung berasa ada di tanah air. Salah satu penyebabnya karena transportasi umum yang nggak jelas sehingga taksi lebih banyak beroperasi. Dan taksinya juga banyak yang ga pake argo. Waktu kami mau naik taksi, sempet nawar-nawar harga dulu, tapi berhubung sudah malam dan mereka segerombolan, ya udah deh ngikut aja harganya.

Ternyata taksi itu cuma mengantarkan kami sampai Bab Boujloud, yaitu “gapura”-nya Fez medina, sementara hotel kami berada di dalam medina. Medina di Maroko merupakan sebutan kota tua dimana tempatnya menyerupai labirin, tiap bangunan dekat satu sama lain sehingga gangnya sempit, mirip gang senggol di perkampungan di Indonesia. Nah loh gimana nih cuma diturunin di depan gapura, sementara nyari jalan ke hotelnya susah. Sejak turun dari taksi kami sudah diikutin oleh anak umur 13 tahun-an yang nawarin nunjuk jalan ke hotel. Namanya baru dateng, dan nggak ngerti, kami iya-iyain aja. Sampai depan hotel si anak ini minta dikasih tip 100 dirham. Currency converter di kepala saya belum berfungsi dengan benar, belum ngeh 100 dirham tu banyak atau sedikit. Tapi saya tetep berusaha ngeles ga bawa duit banyak dan akhirnya ngasih 50 dirham. Sampai di kamar, ketemu Rani yang cerita kalo dia beli jeruk 10 dirham dapet satu plastik besar. Errrr… 

Bab Boujloud

Bab Boujloud

Paginya kami pergi ke terminal untuk beli tiket bus ke Rissani (salah satu kota terdekat menuju Gurun Sahara). Nama bis nya lucu sekali: CTM. Setelah itu, masih dengan mindset perjalanan jaman dulu dimana saya kemana-mana naik taksi, saya nyari taksi untuk memulai perjalanan di Fes. Niatnya sih biar nggak susah-susah nyari. Tujuan pertama kami adalah Masjid Al-Qarawiyyin. Berhubung itu hari jumat, kami berniat ikut jumatan. Eh nggak taunya sama taksi diturunin lagi di depan Bab Boujloud yang cuma selempar kolor dari terminal dan cuma bayar 10 dirham. Hahaha ngekek banget kita.. Nampaknya semua spot menarik di Fez itu memang di dalam medina.

Kembalilah kami berputar-putar dalam labirin “gang senggol” medina tersebut untuk mencari Masjid Al Qarawiyyin. Sepanjang gang senggol isinya toko-toko yang menjual baju, kerajinan kulit, minyak wangi, sembako, makanan, wuih meriah pokoknya berasa pasar di Indonesia, ditambah keledai yang suka lewat menangkut barang-barang.

Gang Senggol Fez Medina

Gang Senggol Fez Medina, toko-tokonya pas tutup tapi, berhubung hari Jumat

Cerita punya cerita, Masjid Al Qarawiyyin ini satu kompleks dengan University of Al-Karaouine, yang mana adalah institusi pembelajaran tertua di dunia yang masih beroperasi (source: http://www.guinnessworldrecords.com/world-records/3000/oldest-university), wuih keren banget yak.

Al Karaouine Mosque & University + penulis nampang, karena jaketnya matching

Al Karaouine Mosque & University + penulis nampang, karena jaketnya lagi matching *alasan

Seusai jumatan, kami bertemu dengan satu keluarga dari India yang tinggal di Amerika, yang sedang mengunjungi anaknya yang ganteng mirip Daniel Radcliffe yang sedang mengambil break dari sekolah medical school-nya di Amerika untuk belajar bahasa Arab di University of Al-Karaouine *klepek-klepek maksimal*. Dari ngobrol dengan mereka, kami diantarkan ke tempat penyamakan kulit alias “tannery”. Awalnya emang berencana ke sini, tapi blom tau harus gimana, ah rejeki indah banget ditunjukkin jalan sama adek ganteng keluarga ini :’)

Yoi, salah satu produksi kebanggaannya Fes adalah kerajinan kulitnya. Di sini kami naik ke atas sebuah gedung lalu melihat prosesnya. Ada kolam-kolam kecil warna warni dimana kulit unta, sapi atau kambing dicelupkan dalam pewarna. Tetapi ada juga beberapa kolam yang berwarna putih, usut punya usut itu isinya “pigeon poo” yang mana digunakan sebagai agen alami untuk melembutkan kulit-kulitnya. Pantesaaan baunya di sekitar situ “wangi” banget. Saya dan Rani juga membeli tas kulit di situ, dan baunya gak ilang-ilang sampai sekarang, huahaha.. Eits tapi modelnya kece-kece dan masih banyak bagian yang dikerjakan dengan tangan. Dan setelah kami jalan ke kota lain, harga produk kulit di Fez jauuuuh lebih murah.

Tannery yang cantik tapi bau, tapi tidak apa-apa

Tannery yang cantik tapi bau, tapi tidak apa-apa, kan alami

Setelah lelah berputar-putar (baca: belanja) di medina, kami mampir makan. Restoran dan kafe di Maroko itu cukup unik, karena meja-mejanya banyak yang diletakkan di luar ruangan dan semua kursinya menghadap ke jalan, bukannya menghadap satu sama lain di satu meja. Kesannya nontonin orang di jalan yang sliwar-sliwer hehe. Ah alhamdulillah akhirnya! Freedom is merasakan jajan yang bebas ga perlu mikir halal haramnya dan dengan harga yang pas dengan porsinya. Kami memesan couscous khas Maroko yang gurih dan lembut dan ayam goreng yang rasanya mirip ayam penyet di Indonesia. Selamat makaan!

Kuliner Maroko, nyam nyam

Kuliner Maroko, nyam nyam

Sesudah makan, kami berjalan-jalan mencari ransum untuk selama perjalanan 10 jam ke Rissani dan juga nanti saat di Gurun Sahara. Di salah satu warung sembako yang tata letaknya persis plek sama warung sembako di Indonesia, kami terharu banget menemukan kardus berisi Indomie. Setelah ditinjau lebih lanjut, Indomie itu made in Saudi Arabia. Ah jadi inget artikel nya Pak Andi Mallarangeng tentang diaspora. Kami membeli beberapa bungkus untuk sangu. Dan di bagian selanjutnya Anda akan membaca bagaimana Indomie ini akan menjadi sangat berkesan dalam perjalanan kami 😉 *spoiler*

Saat akan kembali ke hotel, saya terusik dengan papan yang menunjukkan “Clock Cafe”. Saya ingat pernah membaca nama kafe tersebut di TripAdvisor dan mendapat rating yang tinggi. Mampirlah kami ke sana untuk ngopi sejenak. Wuih bener tempatnya bagus, kami naik ke rooftop yang di sebelahnya bisa liat sebuah minaret/menara yang cantik. Kalau pas adzan pasti rasanya mendayu banget di situ. Waktu itu Rani memesan satu minuman aneh tapi enak, namanya almond milkshake, rasanya seger gurih kayak ada yang bisa di gigit tapi sebenernya ga ada.

Penulis dan Tim jalan-jalan nampang dulu di Clock Cafe

Atas-bawah: Minaret&almond milkshake, penulis dan tim jalan-jalan nampang dulu di Clock Cafe

(bersambung ke Jelajah Maroko, Bagian 2: Indomie di Gurun Sahara)

Filosofi Gerakan Tari Rampoe

Gerakan Tari Rampoe (Saman) khas Aceh menorehkan beberapa rasa buat saya. Terutama tentang sebuah ukhuwah.

  1. Barisan yang sempurna adalah yang rapat dan lurus, sama seperti shalat.  Ga ada orang kok nampil tari saman terus barisannya bolong.
  2. Kalau sudah dalam barisan sebaiknya sampai pundak menempel dengan sebelahnya. Hal ini membuat kita peka dengan sekitar kita.
  3. Satu kesalahan bisa menular ke sebelahnya, tapi begitu juga semangat dan gerakan yang benar. Kalau pas latihan kita sering ngacak yang bisa dengan ga bisa, biar “nyetrum”.
Jadi keywordnya untuk sebuah performance perjuangan dalam sebuah barisan adalah “peka” dan “menular“.
dan senyum
Debut saya di Sanggar Kesenian Aceh UGM. sst ga usah dikomen penampakannya :p
ditulis di sela-sela kebosanan nyekripsi terus.
I believe everybody needs a touch of art in their life 🙂 Here is mine.

Cultural Invasion

I have just been watching TV again now (yes, I don’t watch TV most of the time, and if I do, mostly I watch Disney Channel or Nick #seriously) and just realized there are more variant of cooking reality show: Top Chef, Masterchef, Hell’s Kitchen, etc. They introduce us to the concept of fine dining, three courses meal, or just eating with damn many set of forks, knives and spoons. Meanwhile in Islam our Prophet Muhammad teaches us to eat using our three fingers. However we can’t deny that our eating customs today is not like what our Prophet taught us. Sometimes it is not because we don’t want to follow the teaching, just because the type of food we eat requires us to use the custom of where that food comes from.

And this brought me to the thought of a religious talk a long time ago (probably during high school), that “the west” is invading us using 3F “Food, Fashion, Film”. Looking at the reality today, I think this is true. These 3Fs are the most powerful aspects to insert a foreign culture values. I want to take Korean pop culture as an example. (Dear Korean pop lovers, I don’t hate Kpop culture, I just find it is interesting that it is very viral! More than Japanese). It got my attention through its entertainment world, starting from their unique music stream, their fresh style of reality show, their interesting drama series. Slowly this is bringing us to move to the other Fs, like Fashion (example: Ayu Ting Ting, a dangdut singer who likes to adapt Korean style) then to Food (yess more Korean restaurants gets popular as the entertainment world rises).

Cursing the darkness, are we? Hating those culture who successfully infect our children and bringing them far from the culture they should be following? Thinking that the solution to this is to raise our voice and tell them to stop?

I’d like to see a different approach to this matter. If 3Fs are the key of which they successfully used to give that cultural invasion to us, why don’t we now focus on improving our 3Fs? Take Dian Pelangi as an example. She is a fashion expert who introduces hijab (head coverings used by muslim woman) in her fashion line. I like her in the way she tries to bring Islamic air to the fashion world. Yes, fashion world is overly glamorous, which is not in line with the modesty teaching of Islam. But fashion is art! Just like those paintings exhibition but shown in fabrics and worn by models. But I am sad that some people still criticize her of being unIslamic 😦

Ok I’ve been moving around too much with this discussion, from food, to Kpop, to Dian Pelangi 😛 The point is I wanna show that don’t leave the 3Fs world and say that they have nothing to benefit our religion’s spread. I hope in the future there are more Muslims who are experts in these fields and are competitive with other culture 🙂 Lets light more candle, not curse the darkness.