Little Mosque on the Prairie

During high school, I watch movies and tv series with my friends. We rent or buy movies in a disk store or rental. Most of the time I return the disk late, and had to pay some fine. In college, I have my own laptop so I can watch anything anytime. In campus I can get access to the FTP that serves as the database for movies and tv shows. I also start downloading YouTube video when the network is not so crowded.

When I had a job, I need to watch tv show so much after work. A good entertainment was the cure to wind down after a long day. Living abroad by myself like now or a few years back, tv shows are so much important. They give my room sounds, so that I don’t feel so alone. Sounds sad? Well, I’m not the homesick type that I want to stick with my family all the time. But I was brought up living with my family, always busy in the morning and at night. Yeah okay, I feel alone sometimes.

So that was how important tv shows was for me.

The thing is, when I was given the freedom of what I can watch, I hardly can go for something new. When I already like certain tv shows, I only watch those over and over again. It was different on the era of TV. I can end up watching something I didn’t intend to. This was fun, I kinda miss it (though I also hate TV). Unlike now where I can’t move on from that, that, and that tv series again and again.

In this post I want to talk about one of them, called Little Mosque on the Prairie. I love love it so much. Firstly, it is about Islam and how we are just like other human beings. Then it is a comedy. I didn’t realise at first, but it was quite risky to make it a comedy for a religious theme. But that’s where it clicks and works to deliver the message without the tension, defence, or preachy. The character were particularly awesome in delivering smart jokes.

But lately, yeah lately I have started watching them again, I like it because the setting was in a prairie. It feels like it was a happy place to be. There is not many thing you can do in a small town like Mercy, you bump into the same person all the time, but it sounds fun. You work for you and your community. Your community is you.

And and I am jealous they have so much time to bond, to play board games together, chit chat in Fatima’s cafe, or hanging out in the mosque after dinner. And oh when the setting was in the prairie itself, they have so much sunlight and beautiful nature. I sometimes wish to live in small town like that.

But I think I am just having the winter gloom.

Mencuci dan Perjalanannya

Tinggal berpindah-pindah tempat tentu saja membuahkan pengalaman yang banyak. Melihat tempat baru, bertemu orang baru, mencicipi makanan baru, berpindah tempat dengan transportasi baru, dan banyak lagi. Termasuk satu hal krusial yang sederhana: mencuci.

Bzzzbbbzbbzbzbbt. Kita kembali ke saat-saat saya pertama mencuci baju sendiri. Kapankah itu? SD? Oh tentu tidak, karena Ibuk saya adalah Ibu stay-at-home-mom (but not so much now haha) luar biasa tiada terkira. Lagian SD saya dulu termasuk  SD yang tidak umum, dimana anak-anaknya pulangnya siang atau bahkan sore. SMP? Nope :p SMA? Yes. Tapi hanya setahun saja kok. Tepatnya saat diajak Bapak sekolah di Adelaide. Kami tinggal di flat–satu gedung terdiri dari beberapa rumah kecil, rusun kind of thing. Di flat, anda bisa membeli mesin cuci sendiri, atau tidak. Keluarga kami tidak.

Sehingga pada akhir pekan, kami bergiliran mencuci baju. Di flat kami ada bak cuci atau laundry basin yang bisa digunakan untuk mencuci baju. Biasanya sembari mengucek baju, saya mendengarkan radio Mix 102.3 Adelaide. Hal yang paling nostalgic adalah ketika menjemurnya di sebuah ‘Hills Hoist’ (A Hills Hoist is a height-adjustable rotary clothes line. The Hills Hoistand similar rotary clothes hoists remain a common fixture in many backyards in Australia and New Zealand. They are considered one of Australia’s most recognisable icons, and are used frequently by artists as a metaphor for Australian suburbia in the 1950s and 1960sHills Hoist, Wikipedia)

Cara pakainya adalah dengan memutar handle nya sehingga jemuran menjadi tinggi dan bisa diterpa angin lebih banyak. Saat akan diambil, diturunkan lagi. Satu hills hoist dipakai untuk beberapa rumah. Kadang ketemu tetangga yang sama-sama jemur baju, trus lirik-lirik mengantisipasi gimana caranya biar dapet bagian lebih banyak. :))

Fast forward ke tahun 2010, ketika saya tinggal di negeri dengan 6 bulan musim dingin. Tentu saja di negeri ini mencuci pun menjadi  berbeda. Jemur pakaian di luar menjadi sangat aneh, karena matahari sangat jarang bersinar. Sementara itu, negara ini adalah negara yang sangat mikirin kemakmuran warganya sampai hal-hal terkecil. Setiap tempat tinggal dipastikan punya akses ke mesin cuci, atau paling tidak, ada tempat untuk menaruh mesin cuci di dalam rumah. Beneran, pemerintah Swedia itu ribet soal ini. Dan saat inilah saya mulai berkenalan dengan mesin cuci front load. Hej, trevligt att träffas.

Mesin cuci front load yang saya kenal saat itu memiliki banyaak program. Tiap program berbeda-beda dalam suhu air, lama mencuci, dan (mungkin) kecepatan perputaran mencucinya. Puyeng lah pasti dengan semua itu karena saya berasal dari negara dengan mencuci cukup pakai air biasa tanpa mikirin suhunya. Saat itu saya bodo amat dan memilih program yang kira-kira cocok dengan semua jenis pakaian. One for all.

Saya pun mulai mengenal tumble dry. Itu lo, mesin pengering berputar. Sejak mesin pengering jenis lemari bikin baju saya kaku-kaku, entah memang begitu atau saya yang ga tau cara makenya, saya mulai mencoba pake tumble dry. Ternyata dengan tumble dry, baju-baju saya menjadi kering, lembut, seperti sudah disetrika! (iklan detected). Mulailah saya senang pake tumble dry. Namun olala olala tumble dry pun ga cocok dengan semua jenis bahan. Bahan jenis tertentu akan mengkerut jika dimasukkan ke tumble dry. Tapi saya masih cinta sama tumble dry, karena jilbab-jilbab saya gaperlu disetrika lagi!

Lompat lagi ke 2013. Masih di negeri yang sama namun sekarang di ibukota. Saya tinggal di student residence dimana ada laundry yang bisa dipakai secara bergiliran. Untuk menggunakan mesin cuci, kita harus booking terlebih dahulu secara elektronik. Menggunakan sebuah tag yang menjadi identifikasi, kita bisa booking waktu untuk laundry, maksimal 2 waktu seminggu (ssstttt landlordnya sih bilang sekali seminggu). Ada dua ruangan untuk mencuci, masing-masing dengan 5 mesin cuci, 3 tumble drier, dan 2 pengering lemari besar. Setiap kalo booking, kita mendapat akses ke 2 mesin, dan pengeringnya mah janjian aja, atau dulu-duluan.

Awalnya saya lupa-lupa ingat dengan cara mencuci dengan mesin front load. Beberapa kali baju saya kelunturan. Jeans masih belum kering sempurna. Beberapa jenis kain seperti ga bersih maksimal. Keset jadi tidak nyerep. Sedihnya. Kemudian saya mulai melihat bahwa setiap jenis kain ada instruksi membersihkannya sendiri. Apalagi kalau baju-baju dan fabric yang dibeli di Swedia, instruksinya dijamin lengkap dengan suhu untuk mencuci, dan cara mengeringkannya.

e044f9166be0ac164ecafefb40027584

washing labels joke http://www.thepoke.co.uk/2015/02/26/simple-guide-washing-machine-symbols-2/

 

Nah loh kalo setiap baju beda-beda instruksinya gimana dong :))))))))

Suatu hari saya booking laundry saat weekend, dimana sudah 2 minggu saya ga nyuci, satu-satunya waktu adalah pukul 7 pagi, dimana itu adalah subuh untuk ukuran bule. Surprisingly, tidak ada orang lain yang memakai mesin lainnya. Dan peraturannya, kalau sudah lebih 15 menit dan tidak datang saat waktu booking, maka orang lain bebas menggunakan mesinmu. Dan waktu itu.. tidak ada yang datang. EEEAA.. Saat itulah saya mulai memisahkan semua cucian saya ke dalam 5 kategori dan mencucinya dengan 5 mesin yang berbeda. Saya juga menggunakan satu tumble dry untuk mengeringkan jeans, dengan mode paling panas, dan paling lama. Sementara satu tumble dry lainnya untuk mengeringkan jilbab-jilbab, kadang ditambah satu tumble dry untuk seprei. Sisa baju-bajunya saya keringkan di lemari pengering. Alhasil semua pakaian bersih dan kering sempurna ga perlu setrika ulang. Bahagiaaaaaaa!! Gratis pula, tanpa tambahan biaya bulanan.

Dan sejak saat itu, saya selalu booking 2 slot di pagi hari pukul 7 tiap akhir pekan :3 Romansa mencuci dengan 5 mesin yang tidak terlupakan *dreamy eyes*

Bonjour 2014, pindah ke kota baru, negara baru, mencuci pun ada kisah baru. Jadi saya tinggal di basement sebuah rumah, tetapi punya pintu masuk sendiri, kamar mandi dapur sendiri, tapi tidak ada mesin cuci sendiri. Saat mencari kamar, saya menanyakan ke calon landlord, ‘Kalau mencuci dimana ya Pak?’ dan dijawab ‘That’s a good question!’. Toeng. Kata Bapak kos saya bisa ketok rumah kalo mau pake mesin cuci, ketika ada yang di rumah. Atau saya bisa pergi ke Laverie atau Laundromat.  Dua minggu pertama saya ketok rumah untuk numpang nyuci tanpa masalah. Bapak kost membiarkan saya nyuci di atas dan saya nunggu cucian dengan duduk-duduk di depan kamar mandi. Saya milih mode mencuci tercepat saja. Malas berlama-lama mengganggu aktivitas bapak ibu kos. Ketika mau menggunakan drier, Bapak kost bilang ‘Fresh air is better during summer!’ alias dijemur saja atuh bajunya! Oke pak!

Sampai suatu hari saya ketok rumah tetapi bapak kos sedang sibuk. Waduh. Sejak saat itu pekewuh lah saya buat ngetok rumah lagi. Dan terkadang jadwal kuliah tidak pas dengan jadwal bapak ibu kos di rumah. Kemudian saya mencoba main ke Laverie.

Laverie deket rumah

Laverie deket rumah

Satu mesin setiap penggunaannya seharga 4.40 euro dan pengering 10 menit seharga 1 euro. Sakit rasanya melihat harga mahal. Apalagi minimal nyuci kan 2x nyuci (warna dan putih). Pengering 10 menit? Apanya yg kering? Habis hampir 10 euro lah saya dalam sekali mencuci. Yah maklum sebelumnya habis ber-romansa dengan 5 mesin cuci, sekarang kenyataannya berubah. Sempat agak denial gitu. Tetapi setelah bertemu teman-teman dan main ke rumah teman, ternyata kebanyakan nyuci dengan tangan. Aahhh.. kembali teringat saat SMA dulu… :3 Semoga di sini mataharinya ramah ya, supaya jemuran saya bisa kering.

p.s. ini blogpost tidak penting
p.p.s. maaf emang sengaja warning-nya belakangan

Romansa Warung Lotek

Mbak Alfi! ….. Mbak Alfi!

Panggilan yang kedua terdengar lebih keras daripada panggilan yang pertama. Itu karena aku sedang duduk di teras sebuah warung lotek ternama itu. Di warung ini semua pesanan harus disertai nama pemesannya dan ketika pesanan sudah siap, kemudian pelayan bertugas mencari tuan dari pesanan ini dengan memanggilnya. Berbeda dengan rumah makan yang menggunakan nomor meja. Itu karena pembeli biasanya pesan dahulu baru sesuka hari menentukan dimana mereka akan duduk.

Warung lotek ini memang tidak besar dan tidak mewah, tetapi sudah cukup nyaman untuk mengundang kalangan menengah keatas untuk mampir ke warung ini. Yang datang mulai dari mahasiswa, pegawai dengan dandanan klinyis-klinyis, sampai bos-bos besar. Akibatnya, parkir kendaraannya pun sampai kemana-mana.

Letaknya yang tidak jauh dari kampus UGM tentu saja membuat warung ini sering dikunjungi mahasiswa UGM sepertiku (dulu). Itu membuatku sedikit malu ketika namaku disebut di depan banyak orang seperti itu. Awalnya aku hanya ingin pesan lotek untuk dimakan di kampus. Tetapi mendung siang itu sudah berubah menjadi hujan. Ya sudah, kursi kosong di meja-meja kecil itu masih banyak. Cukup nyaman buat aku yang makan sendirian.

Hanya saja ketika namaku disebut… Aih… Continue reading