A Box of Poisonous Fume

There is a wooden box,
not too small and not too large,
just the right size to carry around.
The wood is no longer firm,
scrapes are everywhere.

Painted white,
with thin embroidered laces around the edges.

Right in the middle,
a keyhole with golden plate.
That is vintage-style,
dented,
the shape we cannot guess
what kind of key shall open it.

A little girl takes the box
to whatever places she goes,
although she never opens it.

There is probably nothing inside the box,
there isn’t any sound,
no weight but just wood.

Probably there is only damp air,
or just the rusting of the plate,
or the dust of the wood.
It becomes dangerous,
just like poisonous fume.

Not-knowingly,
some emotions,
secrets,
hence trapped inside the box.

The girl must keep it safe.
Not just anyone can find out what is inside.
Nevertheless she, too,
is hurting
because of the state of the box.

She has to find the key soon.

She has to move her secrets somewhere else.

Somewhere safer, to protect herself and her secrets.

Maybe to another box.

Advertisements

Out of the Comfort Zone

Just saying, why aren’t there many athletes who are “native” Indonesians, and so are some other occupations like entrepreneurs. I know most people seeks things like “kemapanan”. From the beginning to now on people tend to follow the system. I am not saying its bad, because they do well in that system. Things are different with people who don’t really follow the system, but they fight hard for it, right from the beginning. They know they have less chance to reach comfort zone by doing so, but this what makes them have extraordinary working spirit. They are willing to take the risk.

In some ways, Indonesia should thank its minority group because they dare to take the out of comfort zone
occupations.

#watchingthomasuber #gogoindonesia

Laa ilaaha illallaah

(Emha Ainun Nadjib)

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Demikian lelaki itu berdzikir
Demikian mulutnya berdzikir
Demikian kakinya berdzikir
Demikian tangannya berdzikir
Demikian jiwanya berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Lelaki itu terhimpit
Di tengah jejalan orang-otang
Di tengah mereka yang berebut jalan
Di tengah tenaga yang mendorong
Menyeret dan menekan
Tetapi ia tetap tegar
Tetapi ia pelihara keyakinan
Ia arahkan mata ke satu titik pandangan

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Jalan begitu terjal
Jalan penuh batu dan dajjal
Angin merasukkan khayal
Tapi sukmanya mengebal
Tapi sukmanya terus berdzikir
Keringatnya terus berdzikir
Langkahnya terus berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Matahari menancapkan cahaya di matanya
Tapi ia tidak silau
Bumi menyemburkan bau harum di hidungnya
Tapi ia tidak tersengau
Kibaran rambutnya terus berdzikir
Derap hidupnya terus berdzikir
Desah nafasnya terus berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Orang-orang di sekelilingnya berebut tempat
Orang di sekitarnya berebut kursi
Berebut pisau
Berebut mahkota
Berebut kostum
Berebut simbol
Tetapi senyum lelaki itu terus berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Orang-orang meloncat dari bumi
Tapi tak bisa sampai ke langit
Orang-orang bagaikan burung
Ditinggalkan terbangnya
Orang bagai api ditinggalkan panasnya
Orang bagai bom ditinggalkan ledakannya
Tapi tegak dada lelaki itu terus berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Inilah jimat
Inilah kunci
Inilah logam
Inilah kursi
Inilah jaman
Inilah tambang bumi
Tetapi sang lelaki hanya berdzikir
Tetapi jantungnya hanya berdzikir

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Lelaki itu pergi ke gunung
Lelaki itu mengarungi lautan
Lelaki itu melintas gurun
Lelaki itu merambah hutan
Lelaki itu pergi pergi
Akhirnya kembali
Ke dalam diri
Ke dalam Allah yang menanti

Laa ilaaha illallaah
Tiada Tuhan selain Allah
Tiada ada selain Allah

Lagrima

Lagrima. Tears.

Lagu yang saya mainkan dulu ketika masih aktif les gitar. Kenapa ya di antara lagu-lagu Tarrego yang bermacam-macam feelingnya saya pilih Lagrima? Padahal lagu ini sedih, ndak semangat.

Saya sudah lupa cara main musik, gimana cara merubah rangkaian not dalam sheet kemudian kita mainkan sesuai dengan perasaan kita. Contohnya pemain ini, ada perasaan yang tegas ditunjukkannya ketika sampai di bagian yang sedih, dibandingkan dengan permainan lagrima yang lain. (Apa karena dia udah profe ya? Dunno)

Kangen deh.

pencapaian

kebanyakan dari kita sekarang kalau makan daging sudah tinggal beli saja. mana pernah merasakan harus memelihara seekor kambing dari peranakannya sampai besar, kemudian menyembelihnya, mengulitinya, sampai menemukan bagian yang lezat untuk dimasak. bagi yang doing so (memelihara, menyembelih sendiri) pasti rasa pencapaian ini sangat nikmat, beda dong sama yang beli di toko.
sama dengan bertemu dengan seorang kawan. bagaimana rasanya kalau kita nggak sering bertemu dengan orang itu, tetapi dia sudah sering nongol di halaman Facebook kita? bagaimana reaksi pertama kita ketika bertemu kembali dengan orang itu? apakah kita merasakan pencapaian tertentu yang bikin kita bahagia?

sometimes i just want to live the slow, simple, old school life, sending messages through mail, catch the bus or riding a bike instead of driving, read printed newspaper rather than browsing or watching tv