[InfoViz] Memvisualisasikan Berbagai Jenis Data

Beberapa tahun belakangan mulai ngetren yang namanya infographics, dimana informasi atau data disajikan dengan grafis atau visualisasi menarik. Sebuah informasi ternyata menjadi lebih menarik ketika disampaikan dalam bentuk infografis. Tadinya sebuah informasi bisa berupa berderet-deret angka dalam tabel atau bertumpuk-tumpuk paragraf. Infografis bisa merangkum informasi atau data dalam jumlah besar, sekaligus relasi antar variabelnya, dalam satu ilustrasi.

Dalam bidang penelitian HCI sendiri dikenal bidang information visualization (infoviz). Seiring dengan berkembang pesatnya big data, dibutuhkan cara yang tepat untuk menyajikan data yang besar itu. Kenapa harus divisualisasikan? Penglihatan adalah indera paling dominan manusia dan manusia mempunyai kemampuan yang bagus dalam mengenali pola-pola visual. Nah ketika kita bisa melihat pola dalam data, kita jadi tau lebih cepat bagian apa yang mau kita telusuri lebih lanjut. Selain itu informasi yang divisualisasikan juga jadi lebih gampang untuk dijelaskan.

Di bidang infoviz, banyak peneliti yang mengusulkan teknik visualisasi baru. Visualisasi data itu tak hanya bar chart, pie chart, scatterplot.. Setiap ada usulan baru harus dijelaskan kenapa teknik ini efektif, digunakan untuk data seperti apa, apakah usable, mudah dipahami, dan apa saja limitasinya. Media visualisasi juga menjadi faktor berkembangnya teknik visualisasi, misalnya buat wall-sized display bakal beda sama mobile display. Nah bagaimana kah cara mendesain visualisasi data yang baik?

Sebelum membuat suatu visualisasi, perlu dilihat dulu jenis datanya. Secara umum jenis data bisa dibagi menjadi:

  1. Nominal (data yang berbentuk kategori atau klasifikasi, contoh: jenis kelamin -> laki-laki, perempuan)
  2. Ordinal (data yang berupa order atau peringkat, contoh: kualitas barang tiruan -> KW I, KW II, dst, data ordinal bisa diurutkan, tetapi tidak bisa dilakukan operasi matematika)
  3. Kuantitatif interval (data yang berupa nilai atau rentang nilai, contoh: tanggal, jarak)
  4. Kuantitatif rasio (data yang berupa nilai, bisa diberi semua operasi matematika, contoh berat, panjang, jumlah, dsb)

Kenapa mengetahui jenis data itu penting? Ternyata untuk merepresentasikan setiap jenis data ada cara terbaiknya masing-masing. Apalagi ketika kita menyandingkan satu jenis data dengan jenis data yang berbeda, nggak semua cara bisa. Contohnya di grafik di bawah ini, apa yang salah?

grafik salah

sapi, kambing, ayam, kelinci itu tidak saling terhubung

Dalam membuat visualisasi dua dimensi ada yang namanya building blocks, antara lain :

  • Poin/titik
    Poin menggambarkan lokasi, tetapi belum tentu punya nilai besaran,
  • Garis
    Garis memiliki panjang yang bisa diukur, tapi nggak punya luas area. Garis bisa digunakan untuk menggambarkan koneksi, perbatasan, atau rute.
  • Bidang/Area
    Bidang punya luas yang dapat diukur. Sebuah bidang yang sama nilainya biasanya nggak akan berubah ukurannya, tetapi bisa berubah posisinya.

Building blocks di atas kemudian punya visual variable. Visual variable ini nanti yang memberikan nilai pada building blocks di atas. Visual variable antara lain ada shape, size, value, orientation, color, dan texture. Selain itu untuk visualisasi yang menggunakan layar komputer bisa memiliki visual variable tambahan seperti gerakan/motion, kedalaman, iluminasi, transparensi.

visual variable

Ibarat bermain game menggunakan weapon yang berbeda-beda, visual variable ini punya efek yang berbeda-beda. Efek ini disebut juga characteristic of visual variable yang  dideskripsikan dalam poin-poin di bawah ini.

  • Selective
    Apakah visual variable bisa dengan mudah membedakan satu nilai dari nilai yang lain?
  • Associative
    Apakah visual variable bisa dengan mudah mengelompokkan nilai-nilai?
  • Ordered
    Apakah visual variable bisa dengan mudah menunjukkan urutan dari sekumpulan nilai?
  • Quantitative
    Apakah visual variable bisa dengan mudah menunjukkan jumlah?
  • Length
    Seberapa banyak variasi visual variable yang bisa menunjukkan nilai yang berbeda-beda?

Karakteristik ini bersifat pre-attentive atau harus bisa dilihat/dipahami tanpa seseorang harus melihat secara fokus.

Kita lihat salah satu contohnya. Size misalnya. Gambar di bawah ini menunjukkan tiga building blocks dengan size yang berbeda.

Screen Shot 2015-12-02 at 10.31.18

Dari gambar di atas, apakah kita bisa langsung melihat walau sekilas (pre-attentively) variasi data dari size yang berbeda-beda? Bagaimana dengan mengelompokkan? Mengurutkan? Menunjukkan jumlah? Menurut Bertin [1], size memenuhi semua karakteristik kecuali menentukan jumlah (quantitative). Misalnya ada lingkaran besar yang mempunyai 2x luas dari sebuah lingkaran kecil. Kita tahu kalau lingkaran besar itu punya jumlah lebih banyak, tapi ketika masih dalam tahap pre-attentive, sulit untuk menemukan kalau ternyata si lingkaran besar ini jumlahnya tepat 2x lingkaran kecil. Contohnya pada gambar di bawah ini. Apakah mudah membayangkan jumlahnya? Bagaimana dengan proporsi lingkaran kecil dengan lingkaran yang besar?

Screen Shot 2015-12-02 at 10.50.15

Ternyata memang size tidak terlalu cocok untuk menggambarkan jumlah. Selain itu rasio mana yang dipakai? Radius atau luas? Menurut saya bar chart akan lebih jelas memberikan gambaran.

Karakteristik visual variable bisa dirangkum dalam tabel berikut. Perlu diingat selalu bahwa karakteristik ini dilihat dalam keadaan pre-attentive.

Screen Shot 2015-12-03 at 14.49.42

 

Kembali lagi ke jenis data yang kita bahas di awal. Setelah melihat visual variable yang memberikan efek atau karakteristik yang berbeda, maka, dalam menyajikan jenis data yang berbeda, dapat dipilih visual variable yang paling sesuai. Tabel di bawah ini merangkum setiap jenis data dengan visual variable yang digunakan dari yang paling akurat sampai tidak akurat untuk setiap jenis data. Mungkin ini yang saya bisa sebut tabel sakti yang jadi pedoman untuk visualisasi dengan jenis data yang bebeda.

Screen Shot 2015-12-03 at 15.09.58.png

Terakhir, berikut ini adalah salah satu contoh yang menarik dari penggunaan visual variable yang kurang sesuai. Dua grafik di bawah ini menunjukkan merk mobil dan dari mana asalnya. Semua variabel menggunakan data nominal (cek kembali tabel di atas kolom paling kanan). Grafik pertama menggunakan length sementara grafik kedua menggunakan position. Nah yang mana yang lebih mudah dipahami (dan tidak memberikan persepsi yang salah)?

Grafik sebelah kiri yang menggunakan length membuat kita beranggapan kalau mobil Volvo dan Saab buatan Sweden punya nilai lebih tinggi dari pada yang lain. Padahal itu bukan maksud dari grafik ini.

Nah itu kurang lebih demikian hal-hal dasar yang perlu diperhatikan untuk membuat visualisasi data yang baik. Teori yang dibahas di atas masih general, belum spesifik ke visualisasi menggunakan media komputer, dimana nanti bisa lebih “kaya” dengan interaksi.

Monggo kalau ada pertanyaan atau kritik, ditunggu di kolom komentar! 🙂

-dirangkum dari materi kuliah Interactive Information Visualization (01 Intro) oleh Aviz Lab Universite Paris-Sud –

[1] J. Bertin, Graphics and Graphic Information Processing. Berlin: Walter de Gruyter, 1977/1981

 

HCI-UX untuk Terus Berinovasi

Akhir pekan ini saya jalan-jalan di socmed dan menemukan artikel menarik tentang disruptive innovation berikut Uber and Gojek just the start of disruptive innovation in Indonesia. Saya excited melihat term yang sering saya baca saat kuliah, mulai menjadi topik di Indonesia. Memang seru banget menyoroti startup yang sedang bikin heboh di masyarakat itu. Namun poin penting yang disampaikan dalam artikel ini adalah bahwa disruptive innovation itu nggak main-main. Apalagi ternyata disruptive innovation nggak hanya menggoncang sustaining companies, tetapi juga menyinggung masalah sosial dan menjadi PR besar para penyusun kebijakan. Seperti di Amerika, kata teman saya orang jadi susah beli rumah karena banyak orang kaya yang beli properti kemudian disewakan di Airbnb. Kemudian di Indonesia sendiri Gojek menimbulkan kegelisahan ojek tradisional yang sering berujung kekerasan.

Anyway, saya nggak akan bahas tentang permasalahan sosial atau kebijakan, tetapi lebih ke emergence HCI dan UX sebagai pendukung inovasi. Dulu waktu S1 yang saya pahami tentang HCI itu adalah bagian dari rekayasa perangkat lunak (software engineering), gimana cara mengemas cantik si software supaya mudah dipakai. Sejak kuliah S2 di Swedia, saya baru ngeh kalau HCI itu ikut dalam tahap desain juga. Ternyata bermacam-macam prinsip desain dan metode-metodenya itu diaplikasikan pretty much dari awal sampai akhir. Kemudian beda lagi pandangan saya ketika kuliah di Prancis. Kebetulan ada dosen saya aktif banget di riset HCI sejak lama, dan ketika ikut kuliah dia, saya dan teman-teman heran banget apa yang disampaikan dia tentang HCI itu ternyata beda banget sama di Swedia untuk judul kuliah yang sama.

Sejak diajar beliau itu saya baru paham kalau HCI adalah sebuah bagian ilmu di computer science (CS). Kalau prinsip di CS pada umumnya adalah input->process->output. Sementara di HCI, diagramnya menjadi sebuah loop, karena di bagian input dan output ada ‘process’ yang terjadi pada manusia, dan apa yang terjadi di antara manusia dan komputer ini disebut interaksi. Kemudian ternyata si loop ini ga berdiri sendiri, karena pada dunia nyata, process yang terjadi pada manusia ditentukan juga dengan apa yang terjadi di sekitarnya, kurang lebih seperti gambar berikut.

Dari keadaan ini, dosen saya menyebutkan bahwa HCI menjadi sebuah bidang yang kompleks dan multidisipliner. Menurut saya dan didukung oleh Pak Peter Wegner dalam artikel Interaction is More Powerful than Algorithm, HCI adalah bidang ilmu di computer science yang memiliki paradigma berbeda: kalau CS (maaf agak generalisasi sih ini) bercita-cita menciptakan teknologi yang punya kemampuan komputasi yang makin cepat, konektivitas makin tinggi, data yang makin besar untuk diproses, HCI adalah bidang yang mikirin juga apakah teknologi yang makin bermacam-macam ini baik juga buat manusia. HCI dan UX mengkaji kembali dalam konteks apa teknologi ini digunakan, oleh siapa, dalam situasi apa, dsb.

Nah, coba digaris bawahi lagi di kata ‘manusia’. Kalau kita balik pake otak bisnis di sini, berperan sebagai apakah ‘manusia’ ini? Yes, User dan consumer. Kalau balik lagi ke artikel tentang disruptive innovation di atas, saya kutip

Disruptive innovation allows a new population of consumers to access products or services that were historically only accessible to rich consumers.

.. These innovations disrupt the market by creating new demands and new type of consumers. …

Helloooo~! New consumer beberapa kali disebut di sini. Nah ini dia tanda-tanda dibutuhkannya riset dengan paradigma HCI dan UX. Di HCI dan UX sangat dikenal yang namanya user research. Ternyata, user research ini bisa dipakai di HCI dan UX, juga dalam inovasi bisnis.

Kalau saya inget-inget jaman kuliah di Swedia nih, ada dua mata kuliah yang punya aktivitas hampir mirip, yaitu kelas HCI Principles and Design (HCID) dan kelas Business Development Lab (BD Lab). Di kelas HCID waktu itu kami disuruh bikin solusi teknologi untuk shopkeeper. Yang harus dilakukan di sana bukan membayang-bayangkan seperti apa kerjaan shopkeeper, tapi kami harus terjun langsung ketemu dengan shopkeeper untuk bertanya dan observasi. Setelah punya hasil, kami mendesain sebuah solusi, dan balik lagi ketemu para shopkeeper ini untuk mendapatkan feedback mereka. Interaksi langsung dengan user seperti ini gampang-gampang susah, belum tentu mereka mau diganggu pas kerja, belum tentu mereka paham apa yang kita bicarakan, dan ketika kita menanyakan feedback, sering banget mereka nggak mau menyakiti hati kita, jadi sering kali mereka bilang, ‘wah bagus ya’, ‘boleh juga’, ‘menarik..menarik’ dst, dan akhirnya kita menganggap teknologi kita sudah keren padahal belom tentu.

Di kelas BD Lab, kami bekerja menggunakan Business Model Canvas (BMC) yang punya 8 building blocks seperti pada gambar di bawah. Kami mencoba menjelaskan satu bisnis baru menggunakan BMC. Setiap elemen pada BMC ini adalah hipotesis kami. Nah untuk membuktikan hipotesis ini lagi-lagi kami harus ketemu orang-orang terkait, nanya-nanya, membuktikan apakah hipotesis kami benar, atau BMC kami perlu diperbaiki lagi. Dari aktivitas ini nggak jarang kami merasa tertampar bahwa hipotesis yang kami susun ternyata nggak begitu adanya di kenyataan. Dari kelas ini banyak banget lesson learned yang kami dapat.

Business Model Canvas: AirBnB. Building blocks antara lain: Value Proposition, Customer Segments, Channels, Customer Relationships, Cost Structure, Revenue Streams, Key Activities, Key Resources, Partner Network

Contoh Business Model Canvas milik AirBnB. Building blocks BMC terdiri dari: Value Proposition, Customer Segments, Channels, Customer Relationships, Cost Structure, Revenue Streams, Key Activities, Key Resources, Partner Network

Dari dua kelas ini ada kesamaan yang bisa kita lihat, yaitu bahwa asumsi dari kita sebagai penyedia solusi teknologi maupun bisnis, tidak selalu benar. Seringkali desainer dan entrepreneur jatuh ke dalam jebakan ‘falling in love with an idea‘, padahal belum ide itu terjadi beneran di dunia nyata. Kalo emang nggak ada, harus cepet diubah, harus sering kembali ke consumer.

Jadi saya pengen banget menekankan bahwa di era nahlo-disruptive-innovation-mulai-bermunculan-kita-kudu-berinovasi-juga-dong ini, HCI dan UX menjadi salah satu bidang yang sangat penting dalam mendukung inovasi. HCI perlu dikenalkan sebagai salah satu bidang di computer science yang memiliki paradigma yang berbeda. Kesamaan concern tadi, yaitu selalu kembali ke user, membuat kita bisa sambil menyelam minum air: insight tentang user bisa kita gunakan untuk memperbaiki solusi teknologi, as well as menerapkan strategi-strategi bisnis yang lebih sesuai dengan consumer maupun ketika ingin merangkul consumer baru.

Tak lupa selain itu, bidang HCI adalah salah satu bidang yang sangat kaya akan ide-ide baru, seringkali riset di bidang HCI menjadi teknologi yang sangat trending dan menjadi disruptive technologies. Contohnya nih, wearable technology, augmented reality, virtual reality, tangible interaction, gesture interaction… dan banyak lagi!

footnote: sorry saya nggak banyak bahas soal UX, tapi tau-tau banyak nyebut UX di sini, sebenernya ga tau banyak di bidang itu. Jadi UX adalah kependekan dari User Experience, kurang lebih prinsip-prinsipnya sih hampir sama ya dengan HCI, cuman UX lebih banyak menggunakan prinsip desain dan usability

Baca juga: Kenapa teknologi trending suka naik turun? Tengok artikel Hidung Panjang Inovasi.

Hidung Panjang Inovasi

Kalau kita melihat teknologi informasi (TI) sekarang, kita bisa beranggapan bahwa teknologi informasi itu berkembang sangat pesat. Dalam istilah ilmu hitung atau komputasi sendiri dikenal sebuah hukum bernama Moore’s Law, dimana bapak co-founder Intel ini mengatakan bahwa setiap dua tahun, jumlah transistor dalam integrated circuit akan selalu bertambah dua kali lipat. Artinya, ‘otak’ komputer akan memiliki kemampuan dua kali lebih banyak dari dua tahun sebelumnya. Terbayang kan bagaimana teknologi di atasnya berkembang akibat kekuatan komputasi yang selalu meningkat ini?

Namun bukan kekuatan komputer saja yang menentukan seberapa cepat perkembangan teknologi. Masyarakat juga ikut menentukan. Masyarakat lah yang membuat demand. Teknologi baru yang bisa masuk dalam pasar selain harus menunjukkan fungsi yang baik, juga membutuhkan kepemilikan ‘wow factor’. Semuanya saling mempengaruhi, ada teknologi dengan wow factor tapi tidak bisa berfungsi sebagai solusi di masalah yang tepat, mungkin tidak akan bertahan lama.

Yang saya bicarakan baru saja ini terangkum dalam suatu grafik bernama “Gartner’s Hype Cycle of Emerging Technologies”. Setiap tahun, perusahaan ini melakukan evaluasi tentang market promotion dan perception of value mengenai lebih dari 2000 teknologi, servis dan trend di lebih dari 119 bidang. Gartner menghasilkan sebuah laporan yang menceritakan bagaimana perjalanan teknologi bermula sebagai penemuan, kemudian menjadi ‘hype‘ atau sesuatu dengan ‘wow factor‘ sangat besar tadi, dan pada akhirnya menjadi bagian utama produksi bisnis TI hari ini.

Mari kita lihat seperti apakah grafik tersebut di tahun 2014

Gartner's Hype Cycle for Emerging Technologies 2014 http://www.gartner.com/newsroom/id/2819918

Gartner’s Hype Cycle for Emerging Technologies 2014 http://www.gartner.com/newsroom/id/2819918

Grafik ini menunjukkan tingkat ekspektasi terhadap waktu dan terbagi dalam lima bagian. Saya belum membaca versi lengkap report tersebut, namun bisa kita artikan bahwa ‘hype cycle’ dimulai dari ‘innovation trigger‘ dimana sebuah teknologi mulai ditemukan atau dikembangkan, atau bisa pula dimana sebuah ide baru saja dilontarkan. Setelah itu, terdapat ‘peak of inflated expectations‘ dimana teknologi muda tersebut memiliki ‘wow factor‘ yang tinggi sehingga orang begitu menyukai teknologi ini dan juga memiliki ekspektasi yang sangat tinggi. ‘Trough of disillusionment‘ adalah bagian yang terlihat paling menyedihkan, dimana mulai disadari bahwa teknologi tersebut tidak se-menjanjikan yang diharapkan, atau masih terlalu mahal. Namun setelah itu terdapat ‘Slope of Enlightenment‘ dimana teknologi kini mulai masuk dalam tahap perbaikan dan penyesuan untuk ‘bangkit kembali’. Sampai pada akhirnya teknologi akan mencapai ‘Plateau of Productivity‘ dimana teknologi sudah lebih matang dan menemukan penggunaannya yang berkelanjutan sehingga mencapai produktivitas.

Di tahun 2014, teknologi yang sedang berada pada ‘puncak’ pada tahun ini antara lain Internet of things, Wearable user interfaces, dan consumer 3D printing. Bagian lain yang menarik untuk dilihat adalah pada bagian ‘palung’ terdapat antara lain NFC, cloud computing, AR dan gamification.

Coba kita mundur ke 2012.

Gartner 2012 Hype Cycle for Emerging Technologies

Gartner 2012 Hype Cycle for Emerging Technologies

Menarik sekali untuk dilihat bahwa bisa ditemukan banyak perubahan dalam dua tahun. Ada teknologi yang berada di ‘puncak’ tahun 2012 ternyata berada dalam ‘palung’ di tahun 2014. Setiap teknologi memiliki waktu yang berbeda-beda dalam menempuh siklus ini. Ada yang cepat mencapai ‘plateau’, ada yang lambat. (Bisa jadi) Ada pula yang diam lama di suatu titik. Adapula yang ‘lapuk’ atau obsolete sebelum sampai ke plateau. Menurut saya, pun pasti ada pula yang tidak sepenuhnya mengikuti siklus pada grafik ini. Tentu saja ada criticism terhadap grafik ini, tetapi grafik buatan Gartner ini menjadi mapping nyata dari sebuah teori bernama ‘The Long Nose of Innovation’ oleh Bill Buxton.

The Long Nose of Innovation (Bill Buxton)

The Long Nose of Innovation (Bill Buxton)

Buxton menjelaskan bahwa sebuah inovasi berawal dari penemuan atau invention. Invention ini mengalami proses refinement & augmentation panjang dan cenderung memiliki perkembangan yang kecil dan sedikit sebelum menjadi sebuah teknologi yang dikenal sekarang. Buxton menekankan bahwa inovasi bukanlah tentang penemuan. Bisa jadi penemuan yang digunakan dalam inovasi tersebut adalah penemuan lama. Buxton dalam artikelnya mengambil contoh penemuan tetikus (mouse) oleh Engelbart dan English (1965) pada awalnya masih digunakan secara terbatas. Baru saat Macintosh diperkenalkan pada tahun 1984, tetikus mulai resmi dikenal sebagai perangkat masukan (input) pada komputer personal. Buxton meyakini, dibalik semua ‘wow’ pada teknologi yang sedang populer sekarang, terdapat proses yang panjang.

Teori dari Buxton ini membuat saya menyadari bahwa dari sebuah penemuan belum tentu terlihat langsung apa penggunaannya. Penemuan tersebut harus digabungkan dengan berbagai macam hal lain serta dicoba di berbagai macam ranah untuk menemukan penggunaannya. Dari situ juga terlihat mengapa teknologi yang sudah mencapai ‘peak of inflated expectations‘ bisa turun ke ‘trough of disillusionment‘. Teknologi tersebut butuh waktu untuk kembali melewati masa ‘refinement & augmentation‘.

Mempelajari laporan milik Gartner dan teori dari Buxton ada beberapa poin yang saya ambil :

1) Mengetahui dan memahami posisi

Sebagai pelaku teknologi, sebaiknya kita perlu melihat kembali teknologi yang sedang kembangkan, baik dalam riset maupun ditawarkan sebagai servis di industri maupun startup, ada di posisi apa. Apakah kita sudah menemukan penggunaan teknologi ini secara berkelanjutan? Atau teknologi ini masih dalam tahap ‘hype‘ dan masih butuh proses refinement panjang? Jika masih dalam refinement, seberapa jauhkah untuk mencapai plateau of productivity? Memahami posisi bisa membantu kita untuk menentukan langkah-langkah yang perlu kita ambil.

2) Melihat ke belakang sebelum melihat ke depan

Teknologi yang ‘turun’ belum tentu tidak memiliki potensi, hanya saja masih menemukan kendala. Jika belum juga ada solusi untuk kendala, maka terpaksa ide tersebut harus disimpan dulu. Jika hal ini sudah berlangsung dari dulu, coba bayangkan, sudah berapa banyak ide yang ‘tersimpan’ dari tahun-tahun yang lalu. Mungkin sekarang sudah saatnya ide tersebut kembali diangkat. Seperti halnya Steve Jobs, bukan penemu tetikus, tetapi yang paling sukses memperkenalkan penggunaan tetikus. Karena hal ini pula, buat saya, kunjungan ke museum itu selalu menarik.

3) Berinovasi dan berkolaborasi

Kendala dalam teknologi penyebabnya bermacam-macam. Mungkin saja teknologi tersebut masih terlalu mahal. Jika terlalu mahal, mungkin kita bisa berinovasi dengan mengambil bahan dasar lain yang lebih murah dan melakukan desain ulang, atau menemukan model bisnis atau supply chain baru, atau kita bisa mencoba algoritma lain, metode lain, atau kita bisa mengemas ulang penjualannya. Inovasi itu bukan istilah dalam satu bidang saja, tetapi berbagai macam bidang. Oleh karena itu kolaborasi juga dibutuhkan dalam inovasi.

4) Menemukan penggunaan yang tepat, memberikan value

Di suatu surat kabar elektronik saya pernah baca opini tentang wearable tech dan bagaimana penulis tidak menyukainya (karena mengganggu, menyebalkan, dan tidak aman). Saat membaca opini itu saya baru saja mendapat kuliah tentang hidung panjang inovasi (masih hangat-hangat tai ayam) dan otomatis bergumam, wah… penulis sepertinya belum tahu tentang proses hidung panjang inovasi.. (jadi sombong ya). Namun dulu saya sendiri juga termasuk sering tidak menganggap menarik teknologi dengan wow factor yang menurut saya kurang ‘manusia’. Menurut saya menemukan penggunaan yang berkelanjutan dengan memberikan ‘value‘ yang tepat adalah salah satu agenda dalam berinovasi. Respon negatif seperti ini menjadi masukan yang sangat baik untuk melakukan evaluasi value sebuah produk.

Kalau Anda bagaimana?

IKEA’s Store Shopping List: the feature that comes true

IKEA is so awesome, recently they post the ultimate trolling video of the year: the IKEA bookbook.

Lol.. I guess since that video, this “Apple-style” ads will be a joke, no? :p But in this post I am not going to talk about that, I want to share how awesome I found their website is, to help me with my “just moved” shopping.

I remember (not very well though) a few times during my study, students who were assigned to design a shop’s website would come up with many features, including “make a shopping list” feature. We dream of stores displaying all their product online and we can shop “virtually”: put things on the basket, the items in the basket will become a shopping list. Until recently, I have only heard this as a concept. I have not seen this feature in a real shop’s site.

Aaand, so the time comes when I have to move to a new city. And the most exciting thing for me is filling my new empty room with new stuff 😀 I don’t enjoy shopping for clothes as much as shopping for housewares :3 And the must visit store for this is definitely IKEA!

During two first weeks in France, I went to their big stores just to get familiar with the stores. France’s department stores in the suburbs like Auchan and Carrefour are ultra super very ultimate big. It is so so tiring that you have to go back to the aisle way down the store if you forgot something from that aisle’s “category”. Your feet will suffer if you don’t know what you need to get or if u are like me, the memory of these things only pops up at random and not always the right time.

I have lived in the country of IKEA–that the main supply of furniture and housewares are 99% from IKEA–for two years that this year I 80% know exactly what I need to get after moving into my new room. So I opened IKEA’s website to do an early browsing. Then I found this button “add to store shopping list” (after translated by Google Chrome from French to English) on mouse-over on each item.

1

At first I was just clicking this button for no reason.. I thought nothing had happened. In HCI term–no feedback. So after a while browsing and clicking the same button, I was getting curious about what this button does. They can’t have put a button that does nothing. So I tried clicking “My Cart” as it is the word in bold–the clearest to the eye. But there was nothing there. Okay.. Then somehow I saw the button “check your shopping list” I forgot where that was, and then I also figured out that they have a “store shopping list” button next to “my cart”.

2

Aaaaahhh.. so all the items I’ve clicked “add to store shopping list” are displayed in a neat list here ❤ After going back to browse for more stuff, the final shopping list is done! I can even click on which store I am going for shopping and check the availability of the product. There was a long moment of awe looking at the list.

3

It gives the total amount, so we can prepare the money. Having things well-prepared to the very detail is very Swedish… and it can even send the list to your email. Whoa.. easy access of the list on my mobile? I am in love!

Comparing IM/Chat User Interfaces

So I am to design for the interface of a chatroom-like application. Then I was thinking how do the successful chat application look like. This is challenging, though we use chat app all the time, sometimes the best designs are the ones that goes un-noticable. Lets have a look.

  • iRC, Jabber, AIM

Starting from the early age of Instant Messaging, we have MiRC, ICQ, Jabber. You might think there is no UI here, but this is the UI. Messages in all three platform look like command interface with some color codes, no separation or boxes between the messages. In MiRC group chat, it has time status in the beginning then followed by user name then followed by the message. in Jabber there is only user name and followed by its message, the color codes only for user’s name, not the message. In AIM, it has names, followed by time and message.

MiRC group chat

Jabber

  • Yahoo Messenger/MSN

I dunno if this is their latest UI, but I remember YM looks like this in desktop version for their personal chat. There is only user name and No timestamp, only when user sign in there is a timestamp. Still no separator or boxes, but they leave some space between the messages, so it doesn’t look too command-line-like. Picture of the user is shown in separate part of the window.

..Later I found out that you can set your chat to have timestamp if you want. But still the default setting you don’t have it. Oh and I think I remember in YM there is a “Last message received on dd/mm/yyyy hh:mm” isn’t it? Can’t find pic again.. -_-

Continue reading