Jelajah Maroko Bagian 2: Indomie di Tengah Gurun Sahara

Pembaca yang budiman, saya persilahkan Anda semua untuk menimpuk penulis yang bertahun-tahun nggak ngelanjutin sequel tulisannya sejak tahun 2014 haha! :sungkem: Baru sekarang penulis merasa kemampuannya nulis agak memudar sehingga perlu kembali menulis. Eniwai, mari kita simak kelanjutan kisah jalan-jalan di Maroko yang bagian sebelumnya dituliskan di sini Jelajah Maroko Bagian 1: Gang Senggol Fez

Setelah seharian jalan-jalan di Fez, langsung pada malam harinya ketiga mahasiswa ini harus melanjutkan perjalanan ke Rissani naik bus CTM. Ngapain ke Rissani? Sebenernya Rissani itu bukan destinasi wisata kebanyakan di Maroko. Kami berencana untuk desert tour dan camping di  Gurun Sahara, dan setelah Googling sana sini, salah satu destinasi favorit untuk itu adalah ke kota Merzouga. Sebelumnya kami udah mencoba mencari tour Sahara yang paling ekonomis di internet, yang mana bukan perkara gampang. Tour yang murah meriah yang kami temuin, websitenya masih dengan format Microsoft Frontpage (bahkan belum jamannya WordPress) :)). Dari website itu kami kontak-kontakan dengan penyedia tour.

Sebenernya agak deg-degan juga. Bayangin kami kontakan cuman lewat email, gak dikasih nomor telpon, sementara informasi umum tentang Rissani dan Merzouga juga nggak terlalu banyak bisa ditemukan di dunia maya, udah gitu nama koresponden di email itu adalah Linda. Errr.. kayak bukan nama orang Arab pada umumnya. Pesan Linda cuma satu, pagi sesampainya di terminal bus di Rissani, kami bakal dijemput oleh Hassan Africa. Oke. Ciri-cirinya si Hassan gimana, dijemput naik apa, meeting pointnya dimana? Nggak tau! :)))

Mendadak Paranoid

Bismillah positif thinking kita jalanin aja dulu. Setelah sampai di Rissani, ternyata udah banyak orang yang nungguin kita di depan bis. Ada beberapa orang yang manggil-manggil “Merzouga.. Merzouga..” bikin timbul rasa penasaran kami, jangan-jangan ini yang orang mau jemput. Berhubung bangsa Maroko menggunakan bahasa Arab dan bahasa Perancis sebagai bahasa sehari-hari, ketika kami deketin si bapak itu,”Merzouga Tours?” | “Yes.. yes..” dan bapaknya langsung ngomong bahasa yang entah apa kami ga ngerti, jalan duluan, dan akhirnya kami cuma bisa ngikut aja. Dia membawa kami ke sebuah ada mobil jeep, dan kami akhirnya naik jeep itu. Sebelum naik jeep masih inget banget aku sempat nanyain “Hassan Africa?” tapi ga dijawab sama bapaknya……………..

Sepanjang jalan kami bertiga ga ngobrol banyak ataupun menikmati pemandangan gurun yang mulai terlihat di kanan dan kiri jalan, melainkan mikir dan berharap ini bener si bapak dari tour yang kita booking. Jalanan sudah mulai off-road, jeep kami memasuki kawasan jalan yang sudah bukan lagi aspal, melainkan pasir. Akhirnya kami memasuki satu bangunan di tengah gurun yang dikelilingi tembok semen lumayan tinggi mirip benteng. Sampai juga kami di Erg Chebbi, kawasan Gurun Sahara dekat dengan Merzouga.

Excitement melihat tempat singgah yang unik itu pudar sementara ketika sopir jeep tiba-tiba minta kami bayar masing-masing 25 dirham untuk ongkos perjalanan. Wadew, kirain udah sepaket sama tournya. Gak jadi hepi, balik lagi ke mode deg-degan, bisa dipercaya ga ini tournya?

Tour kami baru dimulai sore nanti. Kami menunggu di tempat singgah yang nuansanya khas Arab seperti di gambar di bawah ini nih. Karena trauma dengan pengalaman buruk yang baru saja terjadi, kami jadi hati-hati banget di situ, barang-barang nggak pernah luput dari pengawasan.. padahal aslinya tempat itu sepi, ga banyak turis, di tengah gurun pula. Namanya juga udah paranoid.

DSC_0104-COLLAGE (1)

Tempat singgah di Erg Chebbi

Jalan-jalan ke Gumuk Pasir/Sand Dunes

Walaupun lagi paranoid, daripada mati gaya kami jalan-jalan ke gumuk pasir (sand dunes) deket situ, tentunya setelah mengamankan barang-barang bawaan.

DSC_0124-COLLAGE

Erg Chebbi sand dunes

Yaampun masih gak nyangka lagi ada di Gurun Sahara, yang selama ini cuman tau dari buku IPS waktu SD. Berjalan di atas pasir nggak kalah sama berjalan di atas salju, sama-sama meninggalkan jejak kaki. Ditambah melihat hamparan pasir yang luas banget bergunduk-gunduk kecoklatan. Dan nggak terlihat apapun sejauh mata memandang selain hamparan pasir. Hashtag mengharukan. Hashtag masya Allah alhamdulillah allahu akbar :’).

Balik ke persinggahan, kami kemudian menghadapi realita selanjutnya. Laper. Gimana caranya kita bisa dapet makan di tempat kayak ini? Nggak ada warung makan di sekitar situ. Kami sempat ngobrol sama penjaga persinggahan sebenernya mereka udah cerita kalau mereka menyediakan makanan. Tapi kami curiga, pasti harganya mahal. Dan bener saja, waktu Sigit iseng nanya, harganya 100 dirham atau 10 euro atau 130 ribu rupiah. Alamak. Biasanya di kota cuma habis 40 dirham untuk makan besar. Terus gimana caranya kita makan? :))

Indomie Penyelamat Mahasiswa, Di Mana Saja, Kapan Saja

Sebelumnya saat perjalanan ke terminal bus di Fez, kami dikejutkan oleh sebuah toko yang menjual indomie. Nggak nyangka jauh-jauh ke benua Afrika bisa nemu mie instan kebanggan bangsa itu. Langsung kami beli beberapa untuk bekal. Karena teringat masih punya stok Indomie, kami langsung coba basa basi ke penjaga persinggahan siapa tahu boleh masak di dapur. Bayar buat sewa dapur nggak apa deh, daripada bayar buat makan.

Untungnya akhirnya penjaganya berbaik hati, kami diperbolehkan masak indomie! Ini epic banget, makan indomie di Gurun Sahara. Padahal Maroko itu negara muslim, makanananya jelas halal dan harga makannnya biasanya cukup terjangkau. Jauh-jauh ke Maroko mustinya makan kus kus, tagine, atau apa gitu, ini kita makan…. indomie. :))

DSC_0236.JPG

Muka bahagia bisa bikin indomie

Alhamdulillah berkat indomie kami bisa bertahan menunggu sampai tour dimulai di sore harinya. Saat itu dipersinggahan nggak banyak orang, ada dua atau tiga turis bule. Namun ternyata untuk keberangkatan tour sore itu kami cuman bertiga. Wih, eksklusip ya.

Tur Gurun yang Sebenarnya

Tournya ngapain aja sih? Jadi kalau kata “Linda” (yang akhirnya kami ga tau itu siapa, ga ketemu orangnya sama sakali), tournya termasuk menginap di tenda di tengah gumuk pasir/sand dunes, perjalanan naik onta pulang pergi, makan malam di tenda, tour guide, dan makan pagi. Total biaya semua 30 euro per orang.

 

DSC_0238-COLLAGE.jpg

Nah ini baru Desert tour sebenernya

Sore itu tiga onta sudah bersiap di samping persinggahan. Perbekalan mulai dimasukkan ke onta yang paling besar, yang juga jadi onta yang aku naiki berhubung aku paling berat. Perjalanan dengan onta kurang lebih sekitar 1.5 jam. Seru sensasi goyang kanan kirinya, apalagi berjalan di pasir, bukan di tanah yang rata.

Sesampainya di tenda langit sudah mulai gelap. Tour guide kami, Muhammad, mulai menyiapkan makan malam. Makan malamnya dimasak di api unggun yang baru saja dia nyalakan. Kami makan (kalo ga salah) tagine yang dimasak Muhammad, yang di sajikan di periuk tanah liat, dilengkapi juga dengan teh daun mint khas Maroko. Jangan bayangkan kayak makan di resto ya, tapi untuk makanan camping, udah cukup mewaaah.

Setelah makan kami bercerita dengan Muhammad, dengan bahasa Inggrisnya yang terbatas, dia cerita tentang suku Berber yang masih nomaden sampai sekarang, sering berpindah-pindah tempat tinggal di sekitar Gurun Sahara bagian Maroko, bahkan sampai Tunisia. Muhammad juga sempat menyanyikan sebuah lagu Berber dengan memainkan gendang.

Walaupun ceritanya lagi di tengah gurun, suhu saat itu super dingin. Memang saat itu lagi musim dingin, dan dinginnya malam di gurun nggak kalah sama dinginnya salju di eropa, serius. Idealnya dengan suasana di alam terbuka, ada api unggun, ada gendang, enaknya malam dihabiskan dengan bernyanyi sambil lihat bintang yah. Tapi kami udah ga tahan sama dinginnya, udah pengen langsung kemulan. Di tenda banyak disediakan selimut tebal, tapi entah kenapa nggak ngaruh. Padahal sudah 3 lapis. Selimutnya memang bukan tipe duvet, tapi selimut tebal dan berat, jadi nggak ngunci panas tubuh gitu. Untung cuma nginep semalem aja.

Pagi setelah matahari terbit kami sudah bersiap naik onta untuk kembali ke persinggahan. Di perjalanan naik onta mataharinya semakin tinggi, kami menikmati banget sorotan mentari selama perjalanan itu. Meskipun kadang-kadang terpaksa melihat onta kami berulah dengan buang hajat di perjalanan ahahha.

Kembali di persinggahan, kami harus memikirkan perjalanan selanjutnya, yaitu gimana caranya, dari tengah-tengah gurun antah berantah ini, kami bisa ke belahan Maroko lainnya: Marrakech. Biasanya kalau lagi travelling semua detail perjalanan udah diriset dan dipersiapkan sebelum berangkat. Tapi kali ini belum, karena minimnya informasi tentang kota yang kami singgahi saat itu. Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? 😀

 

(bersambung ke bagian 3… yang entah kapan ditulisnya. hahaha. Ini perjalanan terlalu banyak epic momentsnya sih, jadi harus ditulis semua. Tapi panjang jadinya, agak mager memulainya.)

 

 

 

Art and Craft

There are people who were born artistic. Their senses work really well to pull strings here and there to make a great piece. But I am pretty sure that not every artists are just talented. Some achieve it from hard work. The question I had in mind is, how do they learn?

Growing up in a country that has large population and huge education gap, many times I feel that the education system is lacking in appreciating people’s individuality. For example, to get to a good school, you only need to be good in three or five subjects. Other subjects somehow does not count. Probably the government meant that the subjects are the threshold to pass. But in reality, other subjects were kind of forgotten. It is no surprise for kids who become engineer and doctors can survive this. But what about artists?

When we travel to places, a lot of the attraction are about arts: music, dance, shows. I am zero in arts. Well, I do dance a little bit, but for everything else, I have no idea. But I do start questioning when I travel. Of how artists can create beautiful, awesome, full of meaning, artistic stuff.

Then I started to realise arts has a lot of engineering! Firstly you have different raw materials to explore from. It is not just about canvas and brush or pen. You have clay. Paper. Plastic. Glass. Metal. Seashells. Sand. Water. Oil. Feather. Wax. Bamboo. Wood. Bronze. Silver. Gold. And. Many. More. From many of these materials, I am amazed with myself of how little do I have experience with them even they are very easily available around me.

So with the wiiiide availability of raw materials to use from, now comes even more engineering part. You need to process the materials. You want to make a shape. You want to join one part with another. You want to make it stand. You want to make it hang nicely. You want to make it interactive. You want to change the colour. You want to highlight, you want to hide. A lot of these things need some time to learn the technique. Certain material need special ways to process. You sand them. You heat them. You rub some chemical onto it. You knead them.

And oh you need to know how to make the harmony of the shapes. A lot of great piece have strong calculation behind it. Well, ok, the government wasn’t so wrong in making math in one of the required subject in the final exams. But I wish I knew that math is useful in arts too. Haha I complain too much.

I want to share some pics I took when I went to Christmas market in Champs-Elysees. There was some kind of “artist village”. I really admire how crafty and skilful they are.

IMG_20150103_192940

Sleep lights. The artist cut woodboards in different layer and arranged them into a cube. Then adding some lights behind the layer of woodboard, it becomes like lights between trees and grass.

IMG_20150103_193433

Iron work. Shapes and ornaments you can put as decoration in your houses. Some miniature too.

IMG_20150103_193601

Glass blowing. Look at the different little creature he made. That is super amazing because you shape glasses as you blow them–while they are hot!

IMG_20150103_193744

Jeweleries. Made from different stones.

IMG_20150103_194713

Clay work. Glass. Signs. and more.

IMG_20150103_194823

Little magnets. I forgot what they are made of.

IMG_20150103_195720

Colorful lights. Customizable.

Jelajah Maroko Bagian 1: Gang Senggol Fez

by: Alvi, dengan Sigit sebagai kontributor. Foto: Sigit, Rani, Alvi.

Alkisah tiga orang mahasiswa perantau di Swedia dan Spanyol berencana memanfaatkan liburan musim dingin ke Maroko. Maroko? Yup, karena letak geografisnya yang berbatasan dengan benua Eropa. Kalau secara pribadi, awalnya liburan ini saya memang berencana “mencari matahari” berhubung di musim dingin, matahari pelit banget menunjukkan wajahnya. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah ke Maroko, tapi hanya jalan-jalan di kota-kota besar. Kali ini mau coba kota-kota lain yang belom pernah seperti Fez dan Marrakech, dan juga.. Gurun Sahara!

Terima kasih kepada Ryan Air, tiket ke Maroko pp hanya 1000 SEK (sekitar 1,8 juta rupiah) saja dari Stockholm. Namun, terima kasih kepada Ryan Air juga, saya dan Sigit harus gak tidur malam sebelumnya, karena penerbangannya pagi-pagi pukul 7.35, artinya harus sampai bandara sekitar pukul 6. Padahal perjalanan ke bandara 90 menit sendiri, artinya jam 4 dari kota, padahal jam segitu belum ada transportasi umum yang beroperasi dan Stockholm Centralstation tutup setelah tengah malam. Untung saja ada Satu (ini bener-bener nama orang), yang kebetulan waktu itu megang kunci rumah punya kantornya di deket City Terminalen Stockholm, sehingga saya dan Sigit enggak menggelandang malam itu :’)

Sayang sekali tiket murah artinya banyak menclok alias transit dulu. Sebelum ke Fes, saya dan Sigit harus transit dulu di Paris selama 8 jam. Yaaahhh lumayan.. bisa main ke kota lihat Eiffel dan Museum Louvre (luarnya doang) sekaligus isi bensin di warung halal yang satu-satunya saya tahu *cupu*, nyam nyam. Oya jangan kaget ya kalau di Eiffel tiba-tiba disambut penjual replika Eiffel sambil teriak-teriak “1 Euro dapat 5…. Bagus, bagus.. Murah, Murah….”. Asli, penjualnya bisa ngomong Bahasa Indonesia. Sepertinya pertanda kalau banyak orang Indonesia jalan-jalan ke Paris.

Transit di Paris

Transit di Paris

Setelah capek dan bosan transit akhirnya terbang juga kami ke benua tetangga. Oh iya serunya Ryan Air itu, duduknya bebas kaya di bus, asik kan (tapi kabarnya sih sekarang udah nggak bebas). Selain itu, kalau pilotnya berhasil mendaratkan pesawat dengan mulus, penumpangnya ramai tepuk tangan. Dan itu terjadi saat kami landing di Fez, hahaha. Kami sampai di Fes jam 10 malam. Jangan membayangkan bandara di Fez gede. Sepanjang mata memandang, yang terlihat cuma ada 1 pesawat, pesawat yang baru saja kami naiki. Pantesan si pesawat waktu itu parkirnya seenak jidat sekali. Jika ada orang Indonesia yang ke negeri ini terutama setelah mencicipi benua Eropa pasti akan langsung berasa ada di tanah air. Salah satu penyebabnya karena transportasi umum yang nggak jelas sehingga taksi lebih banyak beroperasi. Dan taksinya juga banyak yang ga pake argo. Waktu kami mau naik taksi, sempet nawar-nawar harga dulu, tapi berhubung sudah malam dan mereka segerombolan, ya udah deh ngikut aja harganya.

Ternyata taksi itu cuma mengantarkan kami sampai Bab Boujloud, yaitu “gapura”-nya Fez medina, sementara hotel kami berada di dalam medina. Medina di Maroko merupakan sebutan kota tua dimana tempatnya menyerupai labirin, tiap bangunan dekat satu sama lain sehingga gangnya sempit, mirip gang senggol di perkampungan di Indonesia. Nah loh gimana nih cuma diturunin di depan gapura, sementara nyari jalan ke hotelnya susah. Sejak turun dari taksi kami sudah diikutin oleh anak umur 13 tahun-an yang nawarin nunjuk jalan ke hotel. Namanya baru dateng, dan nggak ngerti, kami iya-iyain aja. Sampai depan hotel si anak ini minta dikasih tip 100 dirham. Currency converter di kepala saya belum berfungsi dengan benar, belum ngeh 100 dirham tu banyak atau sedikit. Tapi saya tetep berusaha ngeles ga bawa duit banyak dan akhirnya ngasih 50 dirham. Sampai di kamar, ketemu Rani yang cerita kalo dia beli jeruk 10 dirham dapet satu plastik besar. Errrr… 

Bab Boujloud

Bab Boujloud

Paginya kami pergi ke terminal untuk beli tiket bus ke Rissani (salah satu kota terdekat menuju Gurun Sahara). Nama bis nya lucu sekali: CTM. Setelah itu, masih dengan mindset perjalanan jaman dulu dimana saya kemana-mana naik taksi, saya nyari taksi untuk memulai perjalanan di Fes. Niatnya sih biar nggak susah-susah nyari. Tujuan pertama kami adalah Masjid Al-Qarawiyyin. Berhubung itu hari jumat, kami berniat ikut jumatan. Eh nggak taunya sama taksi diturunin lagi di depan Bab Boujloud yang cuma selempar kolor dari terminal dan cuma bayar 10 dirham. Hahaha ngekek banget kita.. Nampaknya semua spot menarik di Fez itu memang di dalam medina.

Kembalilah kami berputar-putar dalam labirin “gang senggol” medina tersebut untuk mencari Masjid Al Qarawiyyin. Sepanjang gang senggol isinya toko-toko yang menjual baju, kerajinan kulit, minyak wangi, sembako, makanan, wuih meriah pokoknya berasa pasar di Indonesia, ditambah keledai yang suka lewat menangkut barang-barang.

Gang Senggol Fez Medina

Gang Senggol Fez Medina, toko-tokonya pas tutup tapi, berhubung hari Jumat

Cerita punya cerita, Masjid Al Qarawiyyin ini satu kompleks dengan University of Al-Karaouine, yang mana adalah institusi pembelajaran tertua di dunia yang masih beroperasi (source: http://www.guinnessworldrecords.com/world-records/3000/oldest-university), wuih keren banget yak.

Al Karaouine Mosque & University + penulis nampang, karena jaketnya matching

Al Karaouine Mosque & University + penulis nampang, karena jaketnya lagi matching *alasan

Seusai jumatan, kami bertemu dengan satu keluarga dari India yang tinggal di Amerika, yang sedang mengunjungi anaknya yang ganteng mirip Daniel Radcliffe yang sedang mengambil break dari sekolah medical school-nya di Amerika untuk belajar bahasa Arab di University of Al-Karaouine *klepek-klepek maksimal*. Dari ngobrol dengan mereka, kami diantarkan ke tempat penyamakan kulit alias “tannery”. Awalnya emang berencana ke sini, tapi blom tau harus gimana, ah rejeki indah banget ditunjukkin jalan sama adek ganteng keluarga ini :’)

Yoi, salah satu produksi kebanggaannya Fes adalah kerajinan kulitnya. Di sini kami naik ke atas sebuah gedung lalu melihat prosesnya. Ada kolam-kolam kecil warna warni dimana kulit unta, sapi atau kambing dicelupkan dalam pewarna. Tetapi ada juga beberapa kolam yang berwarna putih, usut punya usut itu isinya “pigeon poo” yang mana digunakan sebagai agen alami untuk melembutkan kulit-kulitnya. Pantesaaan baunya di sekitar situ “wangi” banget. Saya dan Rani juga membeli tas kulit di situ, dan baunya gak ilang-ilang sampai sekarang, huahaha.. Eits tapi modelnya kece-kece dan masih banyak bagian yang dikerjakan dengan tangan. Dan setelah kami jalan ke kota lain, harga produk kulit di Fez jauuuuh lebih murah.

Tannery yang cantik tapi bau, tapi tidak apa-apa

Tannery yang cantik tapi bau, tapi tidak apa-apa, kan alami

Setelah lelah berputar-putar (baca: belanja) di medina, kami mampir makan. Restoran dan kafe di Maroko itu cukup unik, karena meja-mejanya banyak yang diletakkan di luar ruangan dan semua kursinya menghadap ke jalan, bukannya menghadap satu sama lain di satu meja. Kesannya nontonin orang di jalan yang sliwar-sliwer hehe. Ah alhamdulillah akhirnya! Freedom is merasakan jajan yang bebas ga perlu mikir halal haramnya dan dengan harga yang pas dengan porsinya. Kami memesan couscous khas Maroko yang gurih dan lembut dan ayam goreng yang rasanya mirip ayam penyet di Indonesia. Selamat makaan!

Kuliner Maroko, nyam nyam

Kuliner Maroko, nyam nyam

Sesudah makan, kami berjalan-jalan mencari ransum untuk selama perjalanan 10 jam ke Rissani dan juga nanti saat di Gurun Sahara. Di salah satu warung sembako yang tata letaknya persis plek sama warung sembako di Indonesia, kami terharu banget menemukan kardus berisi Indomie. Setelah ditinjau lebih lanjut, Indomie itu made in Saudi Arabia. Ah jadi inget artikel nya Pak Andi Mallarangeng tentang diaspora. Kami membeli beberapa bungkus untuk sangu. Dan di bagian selanjutnya Anda akan membaca bagaimana Indomie ini akan menjadi sangat berkesan dalam perjalanan kami 😉 *spoiler*

Saat akan kembali ke hotel, saya terusik dengan papan yang menunjukkan “Clock Cafe”. Saya ingat pernah membaca nama kafe tersebut di TripAdvisor dan mendapat rating yang tinggi. Mampirlah kami ke sana untuk ngopi sejenak. Wuih bener tempatnya bagus, kami naik ke rooftop yang di sebelahnya bisa liat sebuah minaret/menara yang cantik. Kalau pas adzan pasti rasanya mendayu banget di situ. Waktu itu Rani memesan satu minuman aneh tapi enak, namanya almond milkshake, rasanya seger gurih kayak ada yang bisa di gigit tapi sebenernya ga ada.

Penulis dan Tim jalan-jalan nampang dulu di Clock Cafe

Atas-bawah: Minaret&almond milkshake, penulis dan tim jalan-jalan nampang dulu di Clock Cafe

(bersambung ke Jelajah Maroko, Bagian 2: Indomie di Gurun Sahara)

Romansa Warung Lotek

Mbak Alfi! ….. Mbak Alfi!

Panggilan yang kedua terdengar lebih keras daripada panggilan yang pertama. Itu karena aku sedang duduk di teras sebuah warung lotek ternama itu. Di warung ini semua pesanan harus disertai nama pemesannya dan ketika pesanan sudah siap, kemudian pelayan bertugas mencari tuan dari pesanan ini dengan memanggilnya. Berbeda dengan rumah makan yang menggunakan nomor meja. Itu karena pembeli biasanya pesan dahulu baru sesuka hari menentukan dimana mereka akan duduk.

Warung lotek ini memang tidak besar dan tidak mewah, tetapi sudah cukup nyaman untuk mengundang kalangan menengah keatas untuk mampir ke warung ini. Yang datang mulai dari mahasiswa, pegawai dengan dandanan klinyis-klinyis, sampai bos-bos besar. Akibatnya, parkir kendaraannya pun sampai kemana-mana.

Letaknya yang tidak jauh dari kampus UGM tentu saja membuat warung ini sering dikunjungi mahasiswa UGM sepertiku (dulu). Itu membuatku sedikit malu ketika namaku disebut di depan banyak orang seperti itu. Awalnya aku hanya ingin pesan lotek untuk dimakan di kampus. Tetapi mendung siang itu sudah berubah menjadi hujan. Ya sudah, kursi kosong di meja-meja kecil itu masih banyak. Cukup nyaman buat aku yang makan sendirian.

Hanya saja ketika namaku disebut… Aih… Continue reading

Numpak Cruise

Saya itu orangnya suka telat nyadar. Sampe sebenernya rada heran aku ni cowo apa cewe si kok orangnya ga pekaan.. haha (opo hubungane)

Eniwei saya mau cerita tentang naik cruise.

Setelah kisah ini berlalu, setelah exchange saya selesai dan kembali ke tanah air, kemudian saya mulai hobi nonton tv kabel (di swedia ga punya tipi bok) terutama tv show tentang traveling, saya baru nyadar kalau naik cruise itu bener bener bener menyenangkan 😛 why? Ok sekarang posisinya Anda sedang mobilisasi dari suatu tempat ke tempat lain tapi blas tidak kerasa seperti sedang dalam perjalanan karena disuguhi dengan hal-hal yang sangat menyenangkan. Kalau dengan transportasi lain itu pasti masih kerasa “motion” nya. Tapi cruise itu beda deh sama naik kapal biasa (entah kenapa, mungkin karena speednya rendah ya)

Yak dan ini cerita saja dari saya waktu naik cruise ke Riga, Latvia lewat Stockholm, Swedia dalam rangka winter gathering PPI Swedia (yang setelah berbulan-bulan kepungkur baru kusadari itu asyik dan pengen lagi.. aaaaa)

Nama cruise nya waktu itu MS Romantika (uhui! :p) dari Tallink Silja Line, sepertinya sebuah cruise yang juga menyediakan perjalanan ke beberapa negara Skandinavia dan Baltik seperti Finland, Estonia, Latvia, dll. Tiap orang pesan satu bed dimana satu kamar bisa diisi 2-4 orang, dan semakin banyak orang semakin murah, jadi waktu itu kami dipesankan kamar untuk 3 orang. Lumayan murah loh! 200 SEK-an aja.. Rp250.000an.. (etapi ini pas diskon pa ya? lupa saya)

di dalam kabin, kayak kamar hotel cuman kasurnya lagi dipepetin dinding

sisi lain kamarnya, ada tipi, hanger jaket, toilet, dan tangga buat naik kasur

Nah selain tiap orang dapet kamar yang asik, si cruise ini menawarkan berbagaaaaai macam entertainment yang oke punyaa.

1. Deck

Nah deck ini cocok kalo pas baru aja lepas landas jadi masih bisa liat landscape sekitar, atau pas matahari bersinar terang (secara di Baltik matahari dicari-cari).

yuhuuu liat-liat kepulauaaan

berjemur? ah kita mah yang penting poto-poto 😀

2. Shopping

Entertainment kedua yang dijamah setelah deck yaitu shopping. Katanya sih, di sini banyak barang duty free. Dari dulu saya ga ngerti trus kalo duty free asiknya dimana, tetep aja mahal tuh.. kecuali wine dan semacamnya kali ya. Dan hobi dan motto saya kalo mampir duty free shop adalaaaah.. nyobain parfum satu-satu wkwkwkw.. Tapi akhirnya waktu itu beli juga coklat Toblerone yang fruit n berries yang segede gaban harganya termasuk murah.

belanja bu? apa nuker currency?

3. Panggung Pertunjukan

Trus ada juga panggung pertunjukannya, di sini ditampilkan pertunjukan musik, sulap, games, dan pertunjukan a la Karibian yang sayangnya si mbak-mbaknya bajunya kaya di pantai aja (trus knp ditonton? -_-). Waktu itu ada games geje dimana ada sejumlah cewek yang lebih banyak 1 orang ketimbang jumlah cowoknya, trus ketika musik berhenti mereka harus buru-buru naik ke atas punggung cowok, nah karena kelebihan 1 cewek, cewe yang ga dapet (dan satu cowo yang ditunjuknya? lupa) keluar deeh.. makanya jadi geje pol tapi kocak. 😆

bukan, ini bukan games yang gendong2an kok

4. Arcade

Berhubung entertainment lainnya agak mikir-mikir kalo mau ikutan, akhirnya nemu arcade dan iseng mainan di arcade, soalnya udah lama ga main semacam Timezone begini.

balap motooorr

5. Meeting Room

Sambil bersenang-senang, kita ngerjain yang serius-serius gimana? Asik pastinya. Nah waktu Winter Gathering selain main-main, kita juga ada meeting PPI Swedia nih..

meeting PPI Swedia di dalam cruise.. asiknyaa :3

6. Sauna, Pool, Restoran, Karaoke, Club, etc

Daaan masih banyak lagi entertainment yang saya nggak perlu jamah. Udah jalan-jalan keliling aja asik kok 😉

Asik ya! Perjalanan aja banyak banget hiburannya begini, rasanya mau sekalian yang jauh perjalanannya, ke Indonesia misalnya, 😛 Tapi ya sayangnya itu banyak yang “geje” sih, seandainya ada cruise untuk muslim seru banget tuh~! Sempet liat ada cruise Greece dan Turki :3 tapi saya yakin ini ga beda jauh gejenya, walaupun ke Turki juga. One day Indonesia harus punya cruise line juga nih (yang entertainmentnya pake ciri khas ketimuran lo yaa pastinyaa 😉 ) misalnya dari Jawa ke Pulau Komodo atau ke Belitong atau ke Sulawesi (kejauhan ga ya? hehe)

Aku kasi bonus foto interior yah..

lorong

tangga

mahasiswa banyak tugas pun masih bisa ngerjain

P.S. Pantesan ya orang dulu semangat banget bikin kapal macem Titanic gitu..