Inspirasi untuk Essay Motivasi LPDP

Aslinya aku bingung mau ngasih judul apa. Mau dikasih judul “tips dan trik” gitu tapi sebenernya nggak bakal membahas hal yang seperti itu. Ini juga bukan blog tentang step by step atau contoh bikin essay motivasi. Sedikit masukan saja buat yang bingung nyusun essay motivasi dan rencana pasca studi LPDP.

Akhir tahun 2015 lalu sempat ngehits note dari Pak Lukito, dosen UGM yang sekarang bergabung jadi interviewer LPDP. Syukur banget loh ada interviewer baik hati yang mau berbagi opininya begini. Note ini ga butuh waktu lama untuk menjadi viral, langsung di-share di berbagai forum dan media sosial. Tanggapannya pun macem-macem.

 

https://www.facebook.com/notes/lukito-edi-nugroho/anda-memang-pintar-tapi-/10153784883703934

Inti dari note itu adalah, bahwa boleh bercita-cita setinggi langit, tapi cobalah tetap membumi dan kongkrit.

Mungkin buat teman-teman freshgrad, nggak gampang untuk sampai ke sana. Secara bulan-bulan terakhirnya kan pasti dihabiskan bertapa demi hasil skripsi yang baik. Ngegoa–istilahnya jaman aku ngerjain thesis dulu, alias nggak kemana-mana kecuali keperluan bertahan hidup dan skripsi.

Nah lalu bagaimana, dari yang barusan keluar gua bisa langsung bikin rencana indah untuk masa depan? Apalagi LPDP menuntut ga cuma untuk masa depan diri sendiri, tapi juga masa depan bangsa. Itu berat.

Yang pertama, mungkin bisa jadi kamu hoki. Hoki topik skripsinya lagi in banget, potensi bagus banget lah buat dilanjutkan untuk riset ke depannya. Atau ada jurusan spesialisasi S2 yang pas banget sama topik itu. Trus topiknya juga pas banget sama permasalahan di Indonesia. Enak deh, sambil berkutat di dalam gua bareng skripsi sambil mikir masa depan. Apalagi terus didukung sama network yang oke dan paper-paper yang kamu baca itu tepat dari ahlinya.

Tetapi ada juga yang pada romansa dengan skripsinya nggak terlalu nge-klik. Bisa jadi pasca kelulusan pengen coba hal baru atau pengen menggali passion yang pernah membara tapi belum pernah ditindaklanjuti. Nah itu mungkin kasus seorang temen saya yang minta masukan pada essay motivasinya. Pas aku baca keliatan banget lah semangatnya gimana. Tapi balik lagi ke note Pak Lukito, semangat itu aja sayangnya nggak cukup. Masalahnya temen-temen dengan situasi seperti ini mungkin kesulitan juga mencari cara membuktikannya gimana.

Nah kalau aku boleh ngasih saran sih, pertama, bisa dengan tunjukkin dengan track record kamu bahwa untuk bidang itu kamu kompeten dan kamu tau arah pergerakannya ke mana. Track record ini nggak cuman dari skripsi atau akademis aja, bisa jadi kamu pernah terlibat forum diskusi, organisasi, lomba, exchange, volunteering, dan masih banyak lagi.

Selain itu bisa juga karena beneran suka sama bidang itu, kamu jadi sering baca berita atau ngikutin di media sosial. Nah dari yang udah ada di berita atau sosmed kamu bisa nemuin potensi-potensi di bidang ini. Atau sebaliknya, kamu merasa apa yang ada sekarang malah berjalan belum sebagaimana mestinya. Momen-momen ketika kamu baca berita dimana kamu dalam hati bilang “yaampun ini sebenernya bisa begini begini loh” itu yang dicari.

Terakhir, akan sangat membantu buat cari inspirasi. Zaman sekarang cari inspirasi itu sebuah hal yang ubiquitous alias sering banget terjadi hanya saja kita nggak menyadarinya. Yang aku maksudkan adalah sebuah aktivitas bernama kepo. Yes..! Bukalah LinkedIn dan cari kata kunci yang sesuai dengan bidangmu. Lihat dimana saja orang pada bidang itu bekerja, seperti apa, apa saja tantangannya, bagaimana jenjang karirnya. Lihat perusahaan apa saja yang ada. Sekarang LinkedIn itu sudah dipakai buat headhunting alias pencarian SDM, jadi mestinya penggunanya sudah banyak dan informasi CV seseorang biasanya disajikan cukup lengkap. Nah dari sini juga bisa ketahuan, sudah sampai mana sih orang Indonesia menggeluti bidang itu dan apa saja yang masih bisa di-improve.

Kayaknya sih LPDP sekarang udah mewajibkan calon awardee bikin LinkedIn ya. Bagus deh, semoga ga cuman asal bikin dan asal add connection, tapi tau esensi dan tujuannya apa.

Disclaimer sedikit ya, saya awardee LPDP yang udah selesai studi, udah lupa dulu nulis apa di surat motivasi. LPDP juga sudah banyak berubah. Tips di atas saya racik dari opini, bukan berdasar pengalaman (i.e. belum ada yang terbukti lolos pake tips di atas huehe). Jadi silakan ambil baiknya, kasih saran buat yang belum baiknya.

Semoga tetap bisa sukses meraih mimpi setinggi langit kita yah. Kata Andrea Hirata kan bermimimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.

 

Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan

Refleksi kuliah tahun pertama, bagian 2

Kalau memutuskan untuk melanjutkan kuliah lagi setelah sarjana, umumnya hal yang tidak kalah penting untuk direncanakan adalah dana untuk kuliah. Beasiswa adalah pilihan yang paling enak, tentunya. Seringkali mengejar beasiswanya terkadang lebih memakan waktu dan tenaga daripada mengejar masuk ke universitas. Ketika mencari sekolah, saya pun harus melihat apakah ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Jika tidak, maka universitas/program itu tidak menjadi pilihan saya.

Akhir tahun 2012 saya memulai perburuan beasiswa. Kebetulan perburuan ini terkonsentrasi pada benua Eropa karena waktunya paling pas. Beasiswa Erasmus Mundus Masters dari Uni Eropa saya ketahui sebagai beasiswa yang selalu ada setiap tahun, tersedia untuk berbagai macam bidang, tidak ada syarat pengalaman kerja maupun kontrak profesi tertentu, dan setelah lulus pun tidak ada ikatan. Selain itu saya juga mendaftar beasiswa dari Swedish Institute. Sementara untuk beasiswa di Australia menurut kabar, lebih diarahkan untuk Indonesia bagian timur atau para aktivis, dan masa perkuliahan baru dimulai awal tahun. Jadi nanti dulu. US? Kabarnya jika sudah diterima beasiswa Fulbright, baru akan berangkat setahun sesudahnya untuk proses admisi (mohon dikroscek ya, saya nggak terlalu paham).

Dari segala macam program yang saya daftar, alhamdulillah hanya satu saja yang tembus, hehe yaitu EIT ICT Labs Master School. Tapi sayang sekali saya masih harus memikirkan biaya hidup di sana nanti. Artinya perjuangan belum berakhir, saya harus mencari beasiswa. Kini pilihannya harus mencari beasiswa yang tidak terikat dengan program tertentu, yang bisa digunakan dimana saja. Nah baru saat itulah  saya melirik beasiswa dari dalam negeri. Salah satunya adalah program beasiswa baru dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Kementrian Keuangan. Saat itu LPDP masih belum banyak terdengar, masih menjadi pertanyaan besar ini beasiswa apa dan akan seperti apa. Jadwal pendaftaran pun masih belum jelas. Tapi paling tidak informasi itu ada, walaupun pengumuman saat itu masih sering mendadak. Dari “kemasan”nya saya saya dulu berpikir kalau beasiswa ini terlalu muluk-muluk. Dari persyaratannya LPDP seolah-olah meminta seseorang yang sempurna : punya nilai akademis tinggi, super aktif di masyarakat, punya jiwa kepemimpinan dan punya banyak prestasi. Orang seperti itu kan tidak banyak, gak salah nih–pikir saya. Selain itu LPDP pun tampak begitu menjanjikan dengan dana abadinya, kuota banyak, dan lain-lain. Melihat track record beasiswa dalam negeri, hal ini masih too good to be true.

Alhamdulillah ternyata saya lolos juga, walaupun I’m not all that. Sejak itu saya mulai mempelajari bahwa LPDP adalah suatu lembaga dengan komitmen yang sangat baik. Cita-citanya melahirkan pemimpin-pemimpin baru Indonesia–yang tadinya saya pikir muluk-muluk–ternyata didukung dengan langkah nyata di tahap terakhir seleksi, yaitu Program Kepemimpinan (PK). Pada PK, para calon penerima beasiswa “dicuci otak” agar cinta Indonesia dan punya keyakinan bahwa suatu saat nanti mereka pula yang akan memegang amanah masa depan bangsa (nah entah kenapa kalo ditulis begini terdengar muluk-muluk kan..). PK 3 yang saya ikuti, selain berisi materi, tugas kelompok, dan sosialisasi, terdapat juga sesi bersama TNI AD, pengabdian masyarakat, belajar kesenian daerah dan bermain-main di alam terbuka. Setiap PK berbeda tempat dan agenda, tetapi saya rasa sama serunya.

Rasanya beruntung sekali saya diberi kegagalan di beasiswa lain dan dipertemukan dengan beasiswa ini. Alhamdulillah dengan beasiswa ini urusan finansial lancar jaya. Birokrasi tetap ada namun tidak menyulitkan. Pihak LPDP pun informatif. Rasanya kebaikan-kebaikan ini pun menular ke awardee-nya. Senang sekali bisa bertemu teman-teman yang belajar ke seluruh belahan dunia dan berbagi semangat dengan mereka. Ini seperti dapat beasiswa plus plus plus.

Buat yang berminat daftar LPDP punya beberapa macam beasiswa. Dalam Beasiswa Pendidikan Indonesia terdapat program magister dan doktor untuk kuliah S2 & S3 di dalam maupun luar negeri, beasiswa thesis dan disertasi untuk yang butuh dana untuk penelitian, dan beasiswa afirmasi untuk yang berasal dari daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) atau yang pernah mengharumkan Indonesia lewat olimpiade sains, teknologi, olah raga maupun seni budaya.  Selain itu buat yang diterima di universitas 50 besar dunia dan punya cita-cita kepemimpinan yang “lebih”, bisa tuh daftar Presidential Scholarship. (source: http://www.lpdp.depkeu.go.id/beasiswa/, 17 sept ’14)

Secara garis besar pendaftaran dilakukan dengan seleksi dokumen, umumnya sudah bisa online, kemudian wawancara (dan FGD?) dan diakhiri dengan Program Kepemimpinan (untuk Magister dan Doktor). Persyaratan dokumen dan pendaftaran online sudah tersedia di website. Untuk wawancara biasanya pada periode tertentu. Informasi paling update silakan join Group Facebook (yang dikelola bukan oleh LPDP tapi oleh relawan-relawan awardee–efek penularan kebaikan tadi 😉 ) dengan nama “Beasiswa LPDP 2013“.  Wawancara biasanya diadakan di beberapa kota dan bisa teleconference. Untuk PK siapkan kurang lebih satu minggu untuk cuti kerja–buat yang bekerja. Tidak ada ikatan dinas dalam beasiswa ini. Syaratnya hanya pulang dan mengabdi di dalam negeri, boleh di perusahaan/lembaga negeri maupun swasta. Selengkapnya ada di group FB atau web http://www.lpdp.depkeu.go.id/

Terima kasih LPDP. Semoga dengan studi saya nanti bisa ikut mendukung apa yang menjadi cita-cita LPDP dan Indonesia 🙂

ps. kali ini bonus foto biar ga hoax.. hihi

1013692_10201396532888883_1199005961_n

Homba homba horsa!

993728_10201396765214691_1404684096_n

‘Tonji tonji’ secret code Kelompok 4 PK 3 😀

1185007_10151641610288602_1020188937_n

Angklung!

 

 

EIT ICT Labs Master School

Refleksi kuliah tahun pertama, bagian 1

Alhamdulillah setahun pertama sudah berlalu di kuliah S2 saya ini. Sedikit saya ingin flashback dan merekam dalam blog tentang setahun ini.

Sebelumnya saya cerita dulu tentang program yang saya ambil. Nama programnya adalah EIT ICT Labs Master School. Nggak heran sih kalau belum pernah dengar, memang program ini masih baru. Saya angkatan kedua dalam program ini. Saya mendeskripsikan program ini dengan “mirip-mirip Erasmus Mundus”. Namun EIT itu berbeda dengan Erasmus Mundus. Trus apa itu EIT? EIT sendiri adalah singkatan dari European Institute of Innovation and Technology. Lalu apa yang dilakukan badan ini?

The European Institute of Innovation and Technology (EIT) aims to enhance Europe’s ability to innovate, which translates into adapting quickly to the fast pace of development, being one step ahead in providing solutions to rapidly emerging societal problems and developing products that meet the demands and desires of consumers. (http://eit.europa.eu/eit-community/eit-glance)

Bidang yang digarap EIT berada dalam Knowledge and Innovation Communities (KIC). Sejauh ini baru ada 3 KIC: Climate-KIC, InnoEnergy, dan EIT ICT Labs. Nah EIT ICT Labs ini bergerak di bidang ICT (tentunya) dan menaungi universitas, industri dan riset di bidang ICT di Eropa. Untuk program akademik, EIT ICT Labs memiliki program Master School dan Doctoral School. Selain itu EIT ICT Labs punya co-location center (CLC) di kota-kota besar di Eropa untuk mempertemukan berbagai pihak tadi.

Di dalam program EIT ICT Labs Master School terdapat beberapa technical major, yaitu:

  • Digital Media Technology (DMT)
  • Distributed Systems and Services (DSS)
  • Embedded Systems (ES)
  • Human Computer Interaction and Design (HCID)
  • Internet Technology and Architecture (ITA)
  • Security and Privacy (SaP)
  • Service Design and Engineering (SDE)

total sebanyak 90 ECTS harus diselesaikan untuk major, sementara itu terdapat 30 ECTS untuk minor in Innovation and Entrepreneurship. Nah hal yang paling penting yang membuat saya memilih mendaftar di EIT ICT Labs adalah karena program ini menggabungkan antara ICT dengan entrepreneurship dan innovation. Sejak kuliah S1 saya memang sudah agak-agak melenceng ke bidang tersebut, jadi senang sekali bisa meneruskannya. Saya mengambil major Human-Computer Interaction and Design (HCID) dengan topik Situated Interaction.

Universitas yang tergabung dalam EIT ICT Labs merupakan universitas yang  memiliki ranking yang cukup baik di negaranya bahkan di Eropa, terutama di bidang teknologi informasi. Daftar universitas selengkapnya bisa diintip di sini. Program Master School mengharuskan mahasiswa menempuh studi di dua universitas di negara yang berbeda. Untuk memilih universitas, sebelumnya kita harus menentukan technical major terlebih dahulu. Kemudian EIT ICT Labs memberikan pilihan beberapa universitas untuk entry point. Sementara untuk universitas exit point dapat kita pilih dengan mempertimbangkan topik yang diangkat di masing-masing universitas. Waktu itu saya melamar KTH sebagai entry point, dan UCL sebagai exit point. Eh tapi yang diterima KTH-nya saja, exit point saya di Paris-Sud. No problem sih, topiknya tidak jauh berbeda. Walaupun sejujurnya saya tidak terlalu mempermasalahkan topik, hehehe..

Karena merupakan “payung” antara bisnis, akademik dan riset, banyak yang seru dalam EIT ICT Labs. Banyak event dan lomba (tapi saya ga pernah ikut, hahaha). EIT ICT Labs Master School juga mewajibkan summer school dan internship. Dari event ini mahasiswa diarahkan untuk “bertemu” dengan partner-partner EIT ICT Labs. Kabarnya banyak juga proyek mahasiswa yang sukses meraup funding dan mulai meluncur menjadi startup.

Walaupun banyak serunya, tentu ga luput dari minusnya. Karena tergolong program yang baru, terkadang kita menemukan ketidaksiapan universitas dalam mengakomodasi program ini. Misalnya waktu di KTH dulu, masih ada kuliah yang jadwalnya tabrakan, padahal dua-duanya mata kuliah wajib. Tentunya ga gampang menggabungkan banyak universitas, yang mana tiap universitas punya sistem dan kebijakan masing-masing. Selain itu, dari sudut pandang mahasiswa, ternyata pindah universitas dan menyesuaikan lagi di tempat baru itu butuh effort juga (eits curhat, hehehe).

Pendaftaran di program ini cukup mudah, daftar online kemudian mengirim berkas ke Swedia. Syaratnya pun standar: surat motivasi, sertifikat bahasa, ijazah, transkrip, paspor, cv, rekomendasi, dan seterusnya. Tambahannya perlu menyiapkan satu artikel tentang sebuah ide bisnis. Jadi inget, dulu saya sedih sekali kelupaan satu syarat ini. Tetapi EIT baik sekali sampai menelpon, bilang kalau saya bisa menyusulkan syarat ini lewat email. Dan pada akhirnya diterima, itu rasanya… sesuatu sekali.

Menurut saya program ini cocok banget buat yang berminat pada bidang ICT dan entrepreneurship & innovation. Mungkin ada yang tertarik atau ingin mendaftar, tafadol dibaca lebih lanjut di http://www.eitictlabs.eu/home/

..bersambung..

Antara TOEFL iBT, TOEFL ITP, dan IELTS (2-selesai)

Seusai tes iBT, saya sudah menduga nilainya akan kurang maksimal. Dan benar saja, masih berada di bawah batas minimal sekolah ke Eropa. *sigh*

Mau nggak mau saya harus tes lagi. Kemudian saya mulai membuka-buka lagi buku tes TOEFL milik Fajar untuk belajar. Padahal yang punya sampai sekarang belum memanfaatkan buku tersebut, hahaha (piss jar). Nah salah satu kesalahan saya lagi adalah nggak segera ndaftar tes lagi, karena masih belum pede. Ternyata eh ternyata jadwal tes di Jogja lagi penuh-penuhnya, nggak IELTS, nggak iBT. Yang terdekat ternyata IELTS pada tanggal 5 Januari. Bagaimana ini? Masa saya harus banting stir ke salah satu testnya yang nggak tau formatnya seperti apa, bisa-bisa saya kacau lagi seperti di iBT kemarin.

Sebelumnya saya sempet ngobrol sama Tatha, mbak dosen muda di FT yang juga lagi nyari sekolah. Tatha bercerita kalau ke Eropa sebaiknya IELTS, karena batas nilai yang menjadi syarat tidak terlalu tinggi, sementara nilai iBT yang yang dipersyaratkan cukup tinggi. Sementara kalau ke Amerika, iBT yang dipersyaratkan cukup rendah sementara IELTS nya tinggi. Wahhh ini.. ternyata ada tendensi. Saya belum survey terlalu mendalam, tetapi memang benar, untuk Eropa biasanya syarat IELTS 6.5 dan iBT 90 seperti ini. Sementara Amerika mensyaratkan IELTS 7 dan iBT 80 seperti ini. (Note: ini hanya survey terbatas beberapa universitas saja). Nah, berhubung target saya kebanyakan di Eropa (Amerika beasiswanya dikit sih) bismillah deh, saya ambil IELTS aja. Toh iBT saya bisa jadi masih kepake kalo kali-kali mau ke Amerika, hehe. Harganya US$ 220 jika tes di IDP Yogyakarta, dan US$ 195 jika tes di Real English (tapi sepertinya ada plus biaya admin 200 ribu rupiah). Continue reading

Antara TOEFL iBT, TOEFL ITP dan IELTS (1)

Bismillahirrahmanirrahiim..

Sehubungan dengan ikhtiar mencari sekolah lagi, yang saya harap mampu berjodoh dengan salah satu sekolah di luar Indonesia, otomatis terdapat persyaratan untuk memiliki sertifikat berbahasa inggris. Berhubung sertifikat TOEFL ITP saya sudah expired dan untuk jenjang S2 di luar sudah tidak bisa menggunakan sertifikat institusional, dimulailah kisah saya mengejar sertifikat bahasa inggris ini.

Mungkin banyak yang berkata, “Ah kalo Alvi mah kalo bahasa inggris udah nggak perlu ditanyakan lagi..” daaannn.. sayang sekali kenyataanya nggak sebegitu mulus kali ini.

Mulanya saya bingung menentukan mau tes apa. Biasalah orang sanguin tipe B. Setelah surfing kesana kemari, saya merasa kalau TOEFL iBT lebih widely accepted. Yang katanya UK sebagai basis tes IELTS pun masih menerima TOEFL iBT. Sementara di Amerika kok saya lihat ada universitas yan tidak menerima IELTS.

Dengan pertimbangan tersebut, saya kemudian mendaftar untuk tes TOEFL iBT di Real English Yogyakarta (lokasi di gedung IONs). Harga resminya lebih murah daripada IELTS yaitu US$175 plus biaya administrasi Rp 200.000. Jatuhnya nyaris 2 juta rupiah. Oya ternyata untuk pendaftaran bisa langsung online lewat ets.org dan bisa dilihat langsung tanggal dan tempat tesnya. Dan kalo daftar dan bayar online tidak kena biaya admin, menurut info kawan saya, Arif HW.

Jarak pendaftaran dan tes saya hanya dua minggu. Minggu pertama saya sama sekali nggak terpikir mau tes, jadi kesadaran mau belajar pun nggak ada. Huahaha. Oh, karena saya baru gres-gresnya masuk kerja sih trus kenapa. Sebelumnya saya sering main ke American Corner buat baca-baca buku IELTS/TOEFL iBT. Setelah kerja jadi ga bisa kesana lagi deh. Untung dipinjami buku TOEFL iBT nya Fajar yang baru saja dia beli secondhand dari Fahim. Nah minggu kedua saya mulai serius baca-baca bukunya, melihat tipe soal dan teknis soalnya. Tapi ini serius-serius nggak serius juga sih, belum pernah mencoba tesnya secara penuh. Saya belum ada bayangan jumlah soalnya berapa, waktunya berapa lama dll yang ternyata menjadi sebuah kesalahan yang fatal.

Hari ujian tiba. Continue reading