HCI-UX untuk Terus Berinovasi

Akhir pekan ini saya jalan-jalan di socmed dan menemukan artikel menarik tentang disruptive innovation berikut Uber and Gojek just the start of disruptive innovation in Indonesia. Saya excited melihat term yang sering saya baca saat kuliah, mulai menjadi topik di Indonesia. Memang seru banget menyoroti startup yang sedang bikin heboh di masyarakat itu. Namun poin penting yang disampaikan dalam artikel ini adalah bahwa disruptive innovation itu nggak main-main. Apalagi ternyata disruptive innovation nggak hanya menggoncang sustaining companies, tetapi juga menyinggung masalah sosial dan menjadi PR besar para penyusun kebijakan. Seperti di Amerika, kata teman saya orang jadi susah beli rumah karena banyak orang kaya yang beli properti kemudian disewakan di Airbnb. Kemudian di Indonesia sendiri Gojek menimbulkan kegelisahan ojek tradisional yang sering berujung kekerasan.

Anyway, saya nggak akan bahas tentang permasalahan sosial atau kebijakan, tetapi lebih ke emergence HCI dan UX sebagai pendukung inovasi. Dulu waktu S1 yang saya pahami tentang HCI itu adalah bagian dari rekayasa perangkat lunak (software engineering), gimana cara mengemas cantik si software supaya mudah dipakai. Sejak kuliah S2 di Swedia, saya baru ngeh kalau HCI itu ikut dalam tahap desain juga. Ternyata bermacam-macam prinsip desain dan metode-metodenya itu diaplikasikan pretty much dari awal sampai akhir. Kemudian beda lagi pandangan saya ketika kuliah di Prancis. Kebetulan ada dosen saya aktif banget di riset HCI sejak lama, dan ketika ikut kuliah dia, saya dan teman-teman heran banget apa yang disampaikan dia tentang HCI itu ternyata beda banget sama di Swedia untuk judul kuliah yang sama.

Sejak diajar beliau itu saya baru paham kalau HCI adalah sebuah bagian ilmu di computer science (CS). Kalau prinsip di CS pada umumnya adalah input->process->output. Sementara di HCI, diagramnya menjadi sebuah loop, karena di bagian input dan output ada ‘process’ yang terjadi pada manusia, dan apa yang terjadi di antara manusia dan komputer ini disebut interaksi. Kemudian ternyata si loop ini ga berdiri sendiri, karena pada dunia nyata, process yang terjadi pada manusia ditentukan juga dengan apa yang terjadi di sekitarnya, kurang lebih seperti gambar berikut.

Dari keadaan ini, dosen saya menyebutkan bahwa HCI menjadi sebuah bidang yang kompleks dan multidisipliner. Menurut saya dan didukung oleh Pak Peter Wegner dalam artikel Interaction is More Powerful than Algorithm, HCI adalah bidang ilmu di computer science yang memiliki paradigma berbeda: kalau CS (maaf agak generalisasi sih ini) bercita-cita menciptakan teknologi yang punya kemampuan komputasi yang makin cepat, konektivitas makin tinggi, data yang makin besar untuk diproses, HCI adalah bidang yang mikirin juga apakah teknologi yang makin bermacam-macam ini baik juga buat manusia. HCI dan UX mengkaji kembali dalam konteks apa teknologi ini digunakan, oleh siapa, dalam situasi apa, dsb.

Nah, coba digaris bawahi lagi di kata ‘manusia’. Kalau kita balik pake otak bisnis di sini, berperan sebagai apakah ‘manusia’ ini? Yes, User dan consumer. Kalau balik lagi ke artikel tentang disruptive innovation di atas, saya kutip

Disruptive innovation allows a new population of consumers to access products or services that were historically only accessible to rich consumers.

.. These innovations disrupt the market by creating new demands and new type of consumers. …

Helloooo~! New consumer beberapa kali disebut di sini. Nah ini dia tanda-tanda dibutuhkannya riset dengan paradigma HCI dan UX. Di HCI dan UX sangat dikenal yang namanya user research. Ternyata, user research ini bisa dipakai di HCI dan UX, juga dalam inovasi bisnis.

Kalau saya inget-inget jaman kuliah di Swedia nih, ada dua mata kuliah yang punya aktivitas hampir mirip, yaitu kelas HCI Principles and Design (HCID) dan kelas Business Development Lab (BD Lab). Di kelas HCID waktu itu kami disuruh bikin solusi teknologi untuk shopkeeper. Yang harus dilakukan di sana bukan membayang-bayangkan seperti apa kerjaan shopkeeper, tapi kami harus terjun langsung ketemu dengan shopkeeper untuk bertanya dan observasi. Setelah punya hasil, kami mendesain sebuah solusi, dan balik lagi ketemu para shopkeeper ini untuk mendapatkan feedback mereka. Interaksi langsung dengan user seperti ini gampang-gampang susah, belum tentu mereka mau diganggu pas kerja, belum tentu mereka paham apa yang kita bicarakan, dan ketika kita menanyakan feedback, sering banget mereka nggak mau menyakiti hati kita, jadi sering kali mereka bilang, ‘wah bagus ya’, ‘boleh juga’, ‘menarik..menarik’ dst, dan akhirnya kita menganggap teknologi kita sudah keren padahal belom tentu.

Di kelas BD Lab, kami bekerja menggunakan Business Model Canvas (BMC) yang punya 8 building blocks seperti pada gambar di bawah. Kami mencoba menjelaskan satu bisnis baru menggunakan BMC. Setiap elemen pada BMC ini adalah hipotesis kami. Nah untuk membuktikan hipotesis ini lagi-lagi kami harus ketemu orang-orang terkait, nanya-nanya, membuktikan apakah hipotesis kami benar, atau BMC kami perlu diperbaiki lagi. Dari aktivitas ini nggak jarang kami merasa tertampar bahwa hipotesis yang kami susun ternyata nggak begitu adanya di kenyataan. Dari kelas ini banyak banget lesson learned yang kami dapat.

Business Model Canvas: AirBnB. Building blocks antara lain: Value Proposition, Customer Segments, Channels, Customer Relationships, Cost Structure, Revenue Streams, Key Activities, Key Resources, Partner Network

Contoh Business Model Canvas milik AirBnB. Building blocks BMC terdiri dari: Value Proposition, Customer Segments, Channels, Customer Relationships, Cost Structure, Revenue Streams, Key Activities, Key Resources, Partner Network

Dari dua kelas ini ada kesamaan yang bisa kita lihat, yaitu bahwa asumsi dari kita sebagai penyedia solusi teknologi maupun bisnis, tidak selalu benar. Seringkali desainer dan entrepreneur jatuh ke dalam jebakan ‘falling in love with an idea‘, padahal belum ide itu terjadi beneran di dunia nyata. Kalo emang nggak ada, harus cepet diubah, harus sering kembali ke consumer.

Jadi saya pengen banget menekankan bahwa di era nahlo-disruptive-innovation-mulai-bermunculan-kita-kudu-berinovasi-juga-dong ini, HCI dan UX menjadi salah satu bidang yang sangat penting dalam mendukung inovasi. HCI perlu dikenalkan sebagai salah satu bidang di computer science yang memiliki paradigma yang berbeda. Kesamaan concern tadi, yaitu selalu kembali ke user, membuat kita bisa sambil menyelam minum air: insight tentang user bisa kita gunakan untuk memperbaiki solusi teknologi, as well as menerapkan strategi-strategi bisnis yang lebih sesuai dengan consumer maupun ketika ingin merangkul consumer baru.

Tak lupa selain itu, bidang HCI adalah salah satu bidang yang sangat kaya akan ide-ide baru, seringkali riset di bidang HCI menjadi teknologi yang sangat trending dan menjadi disruptive technologies. Contohnya nih, wearable technology, augmented reality, virtual reality, tangible interaction, gesture interaction… dan banyak lagi!

footnote: sorry saya nggak banyak bahas soal UX, tapi tau-tau banyak nyebut UX di sini, sebenernya ga tau banyak di bidang itu. Jadi UX adalah kependekan dari User Experience, kurang lebih prinsip-prinsipnya sih hampir sama ya dengan HCI, cuman UX lebih banyak menggunakan prinsip desain dan usability

Baca juga: Kenapa teknologi trending suka naik turun? Tengok artikel Hidung Panjang Inovasi.

Story of Ramadan in Summer

Muslims all around the world are waiting for the holy month Ramadan. During Ramadan, we are going to be fasting for one whole month. Fasting here means that we do not eat any food or drink from the break of dawn until the sun sets.

Luckily (yeah we are lucky!) for us who live in the northern hemisphere, we will experience longer fasting since it is summertime. In most part of Europe, the day will last for 18 hours, while in Scandinavia, it can last until 20-22 hours. While in extreme parts of the globe will be given some exception (rukhsoh) based on rules of the current scholars (fatwa), most people (who are healthy and able) will just have to stick with it. In the place I reside in, the break of the dawn (fajr) is at 01.50 and the sun sets (maghrib) at 22.10. Yeah 20 hours!

It’s not only about struggling with hunger

When fasting, we are recommended to take early meal before the break of the dawn (suhoor) and we must eat as soon as the sun sets (iftar). Sticking to these times is part of the legibility of the fasting. This means, our biological clock will have to adapt. Not only the periods of meal, but also sleeping times as well as productive time.

Last year I had to fast when I was in southern France, for summer school. Maghrib was at 21.00 and Fajr was around 03.00, around 18 hours fasting in total. It wasn’t, alhamdulillah, that hard with the hunger and thirst. But it was very hard to get to sleep at night and wake up again before 03.00, then sleep again until 07.00 or 08.00. I have to really obey my phone’s alarm.

Biological clock

Sleeping-time-wise it is easier in Sweden. Say you have a routine at 9am until 5pm, you sleep as soon as you finish fajr prayer (around 2.30am), then wake up around 8am to get ready to work (much simpler since you don’t have to think about breakfast). Then as soon as you came back from work, say at 6pm, get to bed straight away. Three hours nap is good to help you stay up at night. Then wake up at 9pm to prepare some food, and finally at 10pm you can enjoy your iftar. Then you just stay up until fajr again.

Like having a long flight, we like to have as few transits as possible. When I was fasting in France, I had three sleep period or “transits”: after work, after night prayer and after morning prayer. In Sweden there are fewer “transits”: after work and after morning prayer.

But sometimes our body doesn’t follow that logic. It’s not easy to eat again after midnight after you had a big iftar meal. It isn’t easy to get to sleep when you don’t feel sleepy or get up when your eyes still wants to be closed. Suddenly your alarm clock and extra dark curtain become your most important equipment when Ramadan falls in summer.

Energy-saving mode

Most of the time at 9pm, you almost have no energy left. But you just have to prepare the food, if you haven’t already done so. Usually for me, I want to have the most delicious food for iftar. So I usually prepare a few things in the menu.

Therefore it is super important for me to be at “energy-saving mode” during the day. I try to do less of the unimportant things, to talk less, not to get into situation that I have to rush or make my body worn out, but still stay in focus of work and prayers.

Temptation 

To be honest, it is super hard not to be thinking about or be tempted by food during the day. But the temptation is not over after iftar. Prophet Muhammad SAW taught us to fill our stomach with: 1/3 food, 1/3 water, 1/3 air. However once we break the fast, there is a big temptation to eat a lot. If you go to a Muslim country like Indonesia, people just get sooooo creative in terms of cooking during Ramadan. The best of food are sold during this time. Ironically, sometimes we are prone to wasting food during the fasting period.

So, is it that hard?

Before coming to Europe, I had the question whether I will be able to fast when the day is long. When I arrived in Sweden, it turns out that the weather is much cooler than in my tropical country, even in summer. It is also not that humid. It’s like having a big air conditioner outside. My first fasting in Sweden was surprisingly easy, I don’t feel thirsty so much even after more than half day fasting. So even though we had 20 hours without food, we are given better weather to deal with it 😉

Ok that really was just to cheer myself up, but I’m not going to lie. Fasting is a struggle, fasting is difficult. In the summer and in tropical countries. But this is faith put into test. In Islam we believe that Allah will never put us with tests we cannot handle. He is always fair in every way. Plus remember the wisdom, the lesson, the good deeds given later in this world or in the hereafter.

 

Don’t Sweat Small Stuff

Setiap mata pisau mengiris selalu ada dua sisi.

Hidup berpindah-pindah negara rupanya banyak memberikan pelajaran buat saya. Di setiap tempat punya sistemnya sendiri, be it: sistem transportasi, sistem administrasi, tata kota, budaya, dan sebagainya.

Suatu ketika mungkin kita bisa terlena dengan satu sisi dari sistem. Mungkin sisi ini memberikan kenyamanan, atau pengalaman baru, atau kecanggihan teknologi. Tetapi semua yang “enak” itu pasti satu paket dengan konsekuensi, yang mungkin tidak kita rasakan saat itu juga. Sebaliknya, ketika berada di sisi yang kurang enak, kurang nyaman, kurang canggih, yakin lah pasti ada sisi menyenangkannya.

Saya barusan kembali ke negeri nan segalanya sudah serba online dan canggih. Segalanya serba cepat. Informasi diperoleh dengan mudah, transaksi serba cepat. Tetapi di negeri ini pula, segalanya perlu direncanakan sampai detail sebelum dijalani. Dan ketika harus menjalani, ya harus betul-betul mengikuti rencana. Kesempatan membuat perubahan di tengah jalan itu kecil sekali kalau masih mengharapkan output yang sama. Oke disiplin mengikuti rencana itu keren. Tetapi perubahan dan spontanitas itu adalah dinamika yang manusiawi.

Kemudian ceritanya saya inget di tanah air yang seringkali kita anggap mempunyai sistem ribet, lambat, sering kali tidak jelas. Tidak jarang pula kita menghabiskan banyak waktu untuk berkutat dengan hal yang tidak terkait dengan goal kita. Belum lagi ditambah mengeluhkan hal tersebut. Terkadang kita (baca: saya) juga kemudian jadi menarik diri untuk tidak mengejar goal ini dengan alasan proses yang sulit.

Nah saya ingin menekankan pada bagian terakhir tadi, mulai dari mengeluhkan sampai akhirnya menyerah. Beneran mau mengeluh? Beneran mau menyerah? Coba saja kalau kita ingat tentang teori dua sisi yang saya ungkapkan. Semua pasti datang dalam satu paket. Bahkan katanya, berlian itu indah karena ditempa dan kapal terbaik diciptakan untuk menaklukkan ombak terbesar. Apalagi di Indonesia ada motto: semua bisa diatur. Mlipir sedikit atau banyak dari sistem, masih bisa kok mendapatkan output yang sama.

Inti post kali ini bukan perbandingan satu negara dan negara lain. Tetapi dimanapun kita berada, yaudah sih teruslah berusaha survive di sana, don’t sweat the small stuff. Be it hidup di sisi ekstrim tidak jelas atau di sisi ekstrim sudah sangat jelas dari jauh-jauh hari. Beradaptasi itu kemampuan luar biasa dari setiap makhluk hidup.

Selamat beradaptasi.

Istilah dan Kosakata dalam Bahasa Prancis

Kalau dari bahasa pengantarnya, kuliah di Prancis ada dua macam, kuliah dalam bahasa Prancis dan kuliah dalam bahasa Inggris. Kalaupun kuliah dalam bahasa Inggris, tetap sangat disarankan untuk belajar bahasa Prancis untuk bertahan di kampus maupun dalam kehidupan sehari-hari, karena, ya begitulah (c’est la vie :p), banyak orang Prancis yang tidak mau diajak bicara bahasa Inggris, entah itu dia nggak bisa, nggak pede, atau nggak mau.

Nah kalo kasus saya sih, saya blas nggak belajar bahasa Prancis sebelumnya, muhaha, jangan dicontoh. Di kampus memang ada course bahasa Prancis, tapiiii bahasa Prancis tu syusyah kakaaak.. Satu kata bisa bermetamorfosis jadi beeerbagai bentuk. Cara baca beda sekali dengan penulisan dan berubah-ubah jika bertemu kata lain. Waktu sebentar itu gak cukup buat belajar bahasa.

Jadi, banyak sekali tuh istilah bahasa Prancis di kehidupan sehari-hari yang mungkin nggak diajarin di kursus bahasa tingkat pemula. Kadang istilah tersebut nggak ada padanannya di bahasa Inggris bahkan bahasa Indonesia. Tapi ya umumnya sih bisa dinalar kalo tau artinya. Cuman saya ga tau artinya hahahah. Seringkali istilah ini dipake oleh teman-teman mahasiswa Indonesia. Makin tampak cupu lah saya xD

Masa-masa tersulit bukan saja ketika pertama kali sampai di Prancis saja, namun juga sejak sebelum keberangkatan. Nah, siapa tahu Anda nanti akan kuliah atau hidup di Prancis, berikut saya kumpulkan istilah dan kosakata yang bakal sering muncul, beserta cara bacanya (kira-kira aja sih) dan arti dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Feel free kalau mau menambahkan atau mengoreksi di bagian komentar!

Tempat tinggal/Housing

  • Logement (lojemong) – housing – tempat tinggal
  • Residence (residong) – residence – kumpulan tempat tinggal, umumnya gedung atau kompleks isinya kamar/apartemen
  • Proprietere (proprieter) – landlord – yang punya rumah
  • Disponible (disponib/dispo) – available – siap huni
  • Rendez-vous (rande vhu) – appointment – janjian ketemuan
  • Arrondisement (arrongdismong) – district – distrik/daerah
  • Libre (lib) – free – bebas/kosong
  • Garant (garong) – guarantor – orang yang bisa menjamin kita lancar bayar rumah, biasanya orang yang sudah stabil pemasukannya dan sudah tinggal di Prancis cukup lama
  • Crous (krus) – student housing – ada kepanjangannya tapi saya lupa, intinya badan milik pemerintah pengelola tempat tinggal mahasiswa. Biasanya sewanya termurah, tapi antrinya panjaang.
  • Batiment (batimong) – building – bangunan, biasanya dalam satu komplek, bangunan diberi nama atau nomor
  • Etage (etazh) – floor/level – lantai (pertama, kedua, ketiga, dsb..)
  • Escalier (eskaliye) – stairs – tangga
  • Ascenceur (assongsehr) – elevator – lift
  • Par mois (pahr moa) – per month – per bulan
  • Cuisine (kuizin) – kitchen – dapur
  • Salle de bain (sal de bang) – bathroom – kamar mandi
  • Laverie (lav-ri) – laundry – tempat cuci baju
  • Chambre (syambhre) – room – kamar
  • Studio (s-cudio) – studio – satu kamar dengan kamar mandi dan dapur
  • Meublé (meu-bleh) – furnished – kamar yang sudah lengkap dengan perabotan
  • Studette (s-cudet) – small studio – studio versi kecil
  • Colocation (kolokasyong) – place sharing – biasanya satu apartemen buat bersama atau satu kamar bersama

Dokumen Penting/Important documents

  • Attestation (attestasyong) – statement – surat keterangan/pernyataan
  • RIB (rib) – bank information – dari kata Relevé d’Identité Bancaire yaitu surat keterangan informasi bank. Biasanya kalo di Indonesia sih buku tabungan, tapi ini cuman satu surat keterangan gitu
  • CAF (kaf) – social benefits for student – bantuan sosial untuk mahasiswa, favorit kita nih hehe

Transportasi/Transportation

  • Terminus (terminus) – pemberhentian terakhir
  • Sortie (sortie) – exit/jalan keluar
  • Arret (arret) – stop – pemberhentian
  • Descend (desong) – get off – turun dari transportasi
  • Prochain arret (prosyen arre) – next stop – pemberhentian selanjutnya
  • Reduction (reduksyong) – reduction – potongan harga, biasanya buat anak sekolah, remaja di bawah 26 tahun, atau yang sudah sangat sepuh
  • Reduit (redui) – reduced – mirip lah sama reduction, mungkin jenis katanya beda hehe
  • Valide/valides (valid) – validate – dari kata ‘valider’, artinya validasi kartu. Jadi kalo punya kartu bulanan harus di-tap dulu untuk validasi. Gak semua stasiun menggunakan pintu yang terbuka ketika kartu di-validasi loh.

Nama tempat umum/Public places

  • Boulangerie (bulongzheri) – bakery – toko roti, jenis rotinya lebih ke roti yang dimakan sehari-hari seperti baguette, croissant, dsb
  • Pattiserie (pattiseri) – pastry shop – toko pastry, jenis roti lebih ke makanan penutup atau yang dimakan bersama teh atau kopi
  • Bibliotheque (bibliotek) – library – perpustakaan
  • Libraire (librer) – book shop – toko buku

Kata seru/Interjection

  • Salut! (salu) – hi – hai (informal, biasanya kepada teman dekat)
  • Ça va? (sa va) – how are you doing?/okay? – apa kabar?/baik-baik?
  • Bonjour! (bongzhu) – good day/hello – halo
  • Bonsoir! (bongsua) – good evening – selamat malam
  • Au revoir! (au r’vua) – goodbye – selamat tinggal
  • Bon appétit! (bonapeti) – enjoy your meal! – selamat makan
  • Coucou! (kuku) – Cuckoo! – Hai!
  • Voila! (wala) – Here you go/here it is – Ini dia!
  • Merci! (mehrsi) – Thank you – terimakasih
  • Pardon! (pahrdong) – Sorry – maaf/permisi.. biasanya kalau mau lewat di keramaian
  • Pardon? (pahrdong) – Sorry?/What? – apa? gimana? biasanya kalo kurang jelas
  • Excusez-moi! (ekskuzhe moa) – excuse me – permisi.. biasanya saat pertama mengajak bicara orang
  • Désolé (dezole) – Sorry – maaf .. biasanya disertai kalimat penuh seperti je suis desole (zhe sui dezole) – saya minta maaf
  • D’accord! (dakohd) – okay! got it! – oke!
  • Attention! (attangsyong) – look out! – awas! hati-hati!
  • Attendez! (attonde) – wait! hang on! – tunggu! biasanya kalo kita ada barang ketinggalan
  • C’est bon? (se bong) – is it good? is it enough? – gimana? cukup? biasanya di tempat makan, ketika penjaganya memastikan apakah ada pesanan cukup, atau butuh apa gitu
  • C’est toutes? (se tu) – is it all? – sudah? biasanya di tempat belanja, penjaga memastikan sudah apakah sudah semua barang kita dapatkan, biasanya habis itu dia menyebutkan berapa kita harus bayar

Kampus/Campus

  • Etudiant(e) (etudiong/etudiont) – student – mahasiswa
  • Examen (egsamang) – exam – ujian
  • Cours (kuhr) – course – mata pelajaran
  • Stage (stazh) – internship – magang
  • Soutenance (sutenongs) – defence – ujian skripsi/thesis atau pendadaran
  • Vacances (vakongs) – holiday – liburan!

WARUNG IBU KUSMAN DINOYO

Pawons Gallery - Kuliner dan Hobby -

Sangat sederhana. Itulah kesan pertama saat kita melihat warung makan ini. Warung makan yang jauh dari kesan mewah. Tapi soal rasa, hmmmmm…top deh. Ga kalah kok dengan rumah makan-rumah makan mewah.

warung ibu kusman dinoyo

Warung ini sudah berdiri lama sekali. Bahkan sejak penulis masih kuliah. Tapi dulu saya sangat jarang kesini karena harganya yang tidak sesuai dengan kantong mahasiswa.

Namanya warung ibu Kusman. Menunya serba daging. Soto daging, rawon, sate komoh, dan nasi campur. Untuk nasi sotonya, rasanya sangat mantap. Dengan kuah yang tidak begitu kental dan daging yang sangat empuk. Jadi tidak terlalu eneg. Porsinya sangat pas untuk kaum hawa.

soto daging dinoyo

Begitu juga dengan nasi rawon. Kuah yang bening ditambah dengan empal suwir. Sangat nikmat saat pagi hari. Lihat porsinya…untuk bapak-bapak pasti kurang. Rasanya tidak terlalu berat. Pas deh.

nasi rawon dinoyo

Makan soto atau rawon saat pagi hari dengan langit yang mendung..hmmmm sangat nikmat bukan

Warung yang terletak di pinggir jalan MT. Haryono Malang ini…

View original post 32 more words