Inspirasi untuk Essay Motivasi LPDP

Aslinya aku bingung mau ngasih judul apa. Mau dikasih judul “tips dan trik” gitu tapi sebenernya nggak bakal membahas hal yang seperti itu. Ini juga bukan blog tentang step by step atau contoh bikin essay motivasi. Sedikit masukan saja buat yang bingung nyusun essay motivasi dan rencana pasca studi LPDP.

Akhir tahun 2015 lalu sempat ngehits note dari Pak Lukito, dosen UGM yang sekarang bergabung jadi interviewer LPDP. Syukur banget loh ada interviewer baik hati yang mau berbagi opininya begini. Note ini ga butuh waktu lama untuk menjadi viral, langsung di-share di berbagai forum dan media sosial. Tanggapannya pun macem-macem.

 

https://www.facebook.com/notes/lukito-edi-nugroho/anda-memang-pintar-tapi-/10153784883703934

Inti dari note itu adalah, bahwa boleh bercita-cita setinggi langit, tapi cobalah tetap membumi dan kongkrit.

Mungkin buat teman-teman freshgrad, nggak gampang untuk sampai ke sana. Secara bulan-bulan terakhirnya kan pasti dihabiskan bertapa demi hasil skripsi yang baik. Ngegoa–istilahnya jaman aku ngerjain thesis dulu, alias nggak kemana-mana kecuali keperluan bertahan hidup dan skripsi.

Nah lalu bagaimana, dari yang barusan keluar gua bisa langsung bikin rencana indah untuk masa depan? Apalagi LPDP menuntut ga cuma untuk masa depan diri sendiri, tapi juga masa depan bangsa. Itu berat.

Yang pertama, mungkin bisa jadi kamu hoki. Hoki topik skripsinya lagi in banget, potensi bagus banget lah buat dilanjutkan untuk riset ke depannya. Atau ada jurusan spesialisasi S2 yang pas banget sama topik itu. Trus topiknya juga pas banget sama permasalahan di Indonesia. Enak deh, sambil berkutat di dalam gua bareng skripsi sambil mikir masa depan. Apalagi terus didukung sama network yang oke dan paper-paper yang kamu baca itu tepat dari ahlinya.

Tetapi ada juga yang pada romansa dengan skripsinya nggak terlalu nge-klik. Bisa jadi pasca kelulusan pengen coba hal baru atau pengen menggali passion yang pernah membara tapi belum pernah ditindaklanjuti. Nah itu mungkin kasus seorang temen saya yang minta masukan pada essay motivasinya. Pas aku baca keliatan banget lah semangatnya gimana. Tapi balik lagi ke note Pak Lukito, semangat itu aja sayangnya nggak cukup. Masalahnya temen-temen dengan situasi seperti ini mungkin kesulitan juga mencari cara membuktikannya gimana.

Nah kalau aku boleh ngasih saran sih, pertama, bisa dengan tunjukkin dengan track record kamu bahwa untuk bidang itu kamu kompeten dan kamu tau arah pergerakannya ke mana. Track record ini nggak cuman dari skripsi atau akademis aja, bisa jadi kamu pernah terlibat forum diskusi, organisasi, lomba, exchange, volunteering, dan masih banyak lagi.

Selain itu bisa juga karena beneran suka sama bidang itu, kamu jadi sering baca berita atau ngikutin di media sosial. Nah dari yang udah ada di berita atau sosmed kamu bisa nemuin potensi-potensi di bidang ini. Atau sebaliknya, kamu merasa apa yang ada sekarang malah berjalan belum sebagaimana mestinya. Momen-momen ketika kamu baca berita dimana kamu dalam hati bilang “yaampun ini sebenernya bisa begini begini loh” itu yang dicari.

Terakhir, akan sangat membantu buat cari inspirasi. Zaman sekarang cari inspirasi itu sebuah hal yang ubiquitous alias sering banget terjadi hanya saja kita nggak menyadarinya. Yang aku maksudkan adalah sebuah aktivitas bernama kepo. Yes..! Bukalah LinkedIn dan cari kata kunci yang sesuai dengan bidangmu. Lihat dimana saja orang pada bidang itu bekerja, seperti apa, apa saja tantangannya, bagaimana jenjang karirnya. Lihat perusahaan apa saja yang ada. Sekarang LinkedIn itu sudah dipakai buat headhunting alias pencarian SDM, jadi mestinya penggunanya sudah banyak dan informasi CV seseorang biasanya disajikan cukup lengkap. Nah dari sini juga bisa ketahuan, sudah sampai mana sih orang Indonesia menggeluti bidang itu dan apa saja yang masih bisa di-improve.

Kayaknya sih LPDP sekarang udah mewajibkan calon awardee bikin LinkedIn ya. Bagus deh, semoga ga cuman asal bikin dan asal add connection, tapi tau esensi dan tujuannya apa.

Disclaimer sedikit ya, saya awardee LPDP yang udah selesai studi, udah lupa dulu nulis apa di surat motivasi. LPDP juga sudah banyak berubah. Tips di atas saya racik dari opini, bukan berdasar pengalaman (i.e. belum ada yang terbukti lolos pake tips di atas huehe). Jadi silakan ambil baiknya, kasih saran buat yang belum baiknya.

Semoga tetap bisa sukses meraih mimpi setinggi langit kita yah. Kata Andrea Hirata kan bermimimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.

 

[InfoViz] Memvisualisasikan Berbagai Jenis Data

Beberapa tahun belakangan mulai ngetren yang namanya infographics, dimana informasi atau data disajikan dengan grafis atau visualisasi menarik. Sebuah informasi ternyata menjadi lebih menarik ketika disampaikan dalam bentuk infografis. Tadinya sebuah informasi bisa berupa berderet-deret angka dalam tabel atau bertumpuk-tumpuk paragraf. Infografis bisa merangkum informasi atau data dalam jumlah besar, sekaligus relasi antar variabelnya, dalam satu ilustrasi.

Dalam bidang penelitian HCI sendiri dikenal bidang information visualization (infoviz). Seiring dengan berkembang pesatnya big data, dibutuhkan cara yang tepat untuk menyajikan data yang besar itu. Kenapa harus divisualisasikan? Penglihatan adalah indera paling dominan manusia dan manusia mempunyai kemampuan yang bagus dalam mengenali pola-pola visual. Nah ketika kita bisa melihat pola dalam data, kita jadi tau lebih cepat bagian apa yang mau kita telusuri lebih lanjut. Selain itu informasi yang divisualisasikan juga jadi lebih gampang untuk dijelaskan.

Di bidang infoviz, banyak peneliti yang mengusulkan teknik visualisasi baru. Visualisasi data itu tak hanya bar chart, pie chart, scatterplot.. Setiap ada usulan baru harus dijelaskan kenapa teknik ini efektif, digunakan untuk data seperti apa, apakah usable, mudah dipahami, dan apa saja limitasinya. Media visualisasi juga menjadi faktor berkembangnya teknik visualisasi, misalnya buat wall-sized display bakal beda sama mobile display. Nah bagaimana kah cara mendesain visualisasi data yang baik?

Sebelum membuat suatu visualisasi, perlu dilihat dulu jenis datanya. Secara umum jenis data bisa dibagi menjadi:

  1. Nominal (data yang berbentuk kategori atau klasifikasi, contoh: jenis kelamin -> laki-laki, perempuan)
  2. Ordinal (data yang berupa order atau peringkat, contoh: kualitas barang tiruan -> KW I, KW II, dst, data ordinal bisa diurutkan, tetapi tidak bisa dilakukan operasi matematika)
  3. Kuantitatif interval (data yang berupa nilai atau rentang nilai, contoh: tanggal, jarak)
  4. Kuantitatif rasio (data yang berupa nilai, bisa diberi semua operasi matematika, contoh berat, panjang, jumlah, dsb)

Kenapa mengetahui jenis data itu penting? Ternyata untuk merepresentasikan setiap jenis data ada cara terbaiknya masing-masing. Apalagi ketika kita menyandingkan satu jenis data dengan jenis data yang berbeda, nggak semua cara bisa. Contohnya di grafik di bawah ini, apa yang salah?

grafik salah

sapi, kambing, ayam, kelinci itu tidak saling terhubung

Dalam membuat visualisasi dua dimensi ada yang namanya building blocks, antara lain :

  • Poin/titik
    Poin menggambarkan lokasi, tetapi belum tentu punya nilai besaran,
  • Garis
    Garis memiliki panjang yang bisa diukur, tapi nggak punya luas area. Garis bisa digunakan untuk menggambarkan koneksi, perbatasan, atau rute.
  • Bidang/Area
    Bidang punya luas yang dapat diukur. Sebuah bidang yang sama nilainya biasanya nggak akan berubah ukurannya, tetapi bisa berubah posisinya.

Building blocks di atas kemudian punya visual variable. Visual variable ini nanti yang memberikan nilai pada building blocks di atas. Visual variable antara lain ada shape, size, value, orientation, color, dan texture. Selain itu untuk visualisasi yang menggunakan layar komputer bisa memiliki visual variable tambahan seperti gerakan/motion, kedalaman, iluminasi, transparensi.

visual variable

Ibarat bermain game menggunakan weapon yang berbeda-beda, visual variable ini punya efek yang berbeda-beda. Efek ini disebut juga characteristic of visual variable yang  dideskripsikan dalam poin-poin di bawah ini.

  • Selective
    Apakah visual variable bisa dengan mudah membedakan satu nilai dari nilai yang lain?
  • Associative
    Apakah visual variable bisa dengan mudah mengelompokkan nilai-nilai?
  • Ordered
    Apakah visual variable bisa dengan mudah menunjukkan urutan dari sekumpulan nilai?
  • Quantitative
    Apakah visual variable bisa dengan mudah menunjukkan jumlah?
  • Length
    Seberapa banyak variasi visual variable yang bisa menunjukkan nilai yang berbeda-beda?

Karakteristik ini bersifat pre-attentive atau harus bisa dilihat/dipahami tanpa seseorang harus melihat secara fokus.

Kita lihat salah satu contohnya. Size misalnya. Gambar di bawah ini menunjukkan tiga building blocks dengan size yang berbeda.

Screen Shot 2015-12-02 at 10.31.18

Dari gambar di atas, apakah kita bisa langsung melihat walau sekilas (pre-attentively) variasi data dari size yang berbeda-beda? Bagaimana dengan mengelompokkan? Mengurutkan? Menunjukkan jumlah? Menurut Bertin [1], size memenuhi semua karakteristik kecuali menentukan jumlah (quantitative). Misalnya ada lingkaran besar yang mempunyai 2x luas dari sebuah lingkaran kecil. Kita tahu kalau lingkaran besar itu punya jumlah lebih banyak, tapi ketika masih dalam tahap pre-attentive, sulit untuk menemukan kalau ternyata si lingkaran besar ini jumlahnya tepat 2x lingkaran kecil. Contohnya pada gambar di bawah ini. Apakah mudah membayangkan jumlahnya? Bagaimana dengan proporsi lingkaran kecil dengan lingkaran yang besar?

Screen Shot 2015-12-02 at 10.50.15

Ternyata memang size tidak terlalu cocok untuk menggambarkan jumlah. Selain itu rasio mana yang dipakai? Radius atau luas? Menurut saya bar chart akan lebih jelas memberikan gambaran.

Karakteristik visual variable bisa dirangkum dalam tabel berikut. Perlu diingat selalu bahwa karakteristik ini dilihat dalam keadaan pre-attentive.

Screen Shot 2015-12-03 at 14.49.42

 

Kembali lagi ke jenis data yang kita bahas di awal. Setelah melihat visual variable yang memberikan efek atau karakteristik yang berbeda, maka, dalam menyajikan jenis data yang berbeda, dapat dipilih visual variable yang paling sesuai. Tabel di bawah ini merangkum setiap jenis data dengan visual variable yang digunakan dari yang paling akurat sampai tidak akurat untuk setiap jenis data. Mungkin ini yang saya bisa sebut tabel sakti yang jadi pedoman untuk visualisasi dengan jenis data yang bebeda.

Screen Shot 2015-12-03 at 15.09.58.png

Terakhir, berikut ini adalah salah satu contoh yang menarik dari penggunaan visual variable yang kurang sesuai. Dua grafik di bawah ini menunjukkan merk mobil dan dari mana asalnya. Semua variabel menggunakan data nominal (cek kembali tabel di atas kolom paling kanan). Grafik pertama menggunakan length sementara grafik kedua menggunakan position. Nah yang mana yang lebih mudah dipahami (dan tidak memberikan persepsi yang salah)?

Grafik sebelah kiri yang menggunakan length membuat kita beranggapan kalau mobil Volvo dan Saab buatan Sweden punya nilai lebih tinggi dari pada yang lain. Padahal itu bukan maksud dari grafik ini.

Nah itu kurang lebih demikian hal-hal dasar yang perlu diperhatikan untuk membuat visualisasi data yang baik. Teori yang dibahas di atas masih general, belum spesifik ke visualisasi menggunakan media komputer, dimana nanti bisa lebih “kaya” dengan interaksi.

Monggo kalau ada pertanyaan atau kritik, ditunggu di kolom komentar!🙂

-dirangkum dari materi kuliah Interactive Information Visualization (01 Intro) oleh Aviz Lab Universite Paris-Sud –

[1] J. Bertin, Graphics and Graphic Information Processing. Berlin: Walter de Gruyter, 1977/1981

 

Mental Model di Warung Makan

Tempat makan (di Indonesia) itu banyak macamnya

  • Warteg
  • Fast food/take away
  • Restoran
  • Kafe
  • Warung gerobak

nah tiap tempat makan bisa punya cara pesen, makan, dan bayar sendiri. Di warteg, warung padang, warung nasi biasanya nasi, sayur dan lauknya ditata di sebuah lemari kaca. Pembeli bisa mengambil piring dan menunya sendiri atau diambilkan oleh penjaga warung (biasanya kalau dibungkus). Ada warung yang memberi harga dengan melihat apa saja isi piring, tapi ada juga warung yang cukup pembeli menyebutkan apa lauknya.

Di warung nasi menu bisa langsung dilihat dan diambil, kadang strategi penjualan itu berada di peletakan menu. Sama dengan ketika menata makanan di rumah biar makanan cepat habis harus bisa kelihatan sama yang mau makan (nasehat ibuk). Beda lagi strateginya kalau ada di restoran atau tempat makan yang harus masak dulu. Penjualan tempat seperti itu bergantung ke tulisan atau gambar pada menu (asumsinya si warung belom kondang ya).

Aktivitas terakhir adalah bayar. Ada yang bayar di depan sebelom dapet makanan, ada yang bayar berdasarkan penilaian kasir, ada yang pake nota, ada juga yang bayar berdasarkan kejujuran nyebut lauk apa yang dimakan.

Terus apa sih poin-nya tulisan ini?

Sebetulnya motivasi tulisan ini adalah pengalaman siang tadi beli makanan di warung geprek. Jogja mulai dua tahun yang lalu latah warung ayam geprek dan ada warung yang meniru 98% warung ayam gepreknya Bu Rum (pionir yang paling kondang menurut sejarah warung ayam geprek). Di warung Bu Rum sebelum makan biasanya antri, ambil sendiri nasi, sayur, terus ayamnya dibawa ke mas-mas biar digeprekin sambil menyebutkan berapa tingkat kepedesan yang diinginkan. Nah warung tadi siang tuh 95% mirip Bu Rum dari sisi bentuk piringnya, nasi ambil sendiri, ayam milih sendiri terus dibawa ke penggeprekan. Tetapi peletakannya sedikit berbeda dan ga ada penjaga warung yang ngasih tau. Udah lama ga makan di warung ayam geprek sih, jadi perlu sedikit me-refresh memori, tetapi melihat piring rotan yang dikasih alas kertas coklat bikin aku memasang mental model “oh, ini kaya di Bu Rum”. Tapi karena peletakan berbeda jadi “lho ini mulai dari mana? terus dikasihkan ke penggeprekan gimana?”

Jadiiii.. monggo yang akan mendesain sebuah sistem (apapun, di sini contoh simpelnya warung makan) untuk menginvestigasi apa sih yang sudah familiar dengan user. Trus ternyata tempat asal menentukan mental model seseorang. Bisa jadi kalo bukan orang Jogja atau gak familiar dengan ayam geprek Bu Rum gak akan bingung kaya saya tadi.

Tapi bukan berarti sistem baru harus selalu sama dengan sistem yang sudah ada dengan alasan “biar gampang”, tentu semua ada faktor lain yang menentukan (misalnya gimana biar antrian lancar, ga tabrakan, ato bahkan strategi biar penjualan lebih kenceng). Apalagi kalau sistemnya dipake ke banyak orang dan mulai ada diversity, mulai perlu identifikasi apa yang essential dan apa yang necessary.

HCI-UX untuk Terus Berinovasi

Akhir pekan ini saya jalan-jalan di socmed dan menemukan artikel menarik tentang disruptive innovation berikut Uber and Gojek just the start of disruptive innovation in Indonesia. Saya excited melihat term yang sering saya baca saat kuliah, mulai menjadi topik di Indonesia. Memang seru banget menyoroti startup yang sedang bikin heboh di masyarakat itu. Namun poin penting yang disampaikan dalam artikel ini adalah bahwa disruptive innovation itu nggak main-main. Apalagi ternyata disruptive innovation nggak hanya menggoncang sustaining companies, tetapi juga menyinggung masalah sosial dan menjadi PR besar para penyusun kebijakan. Seperti di Amerika, kata teman saya orang jadi susah beli rumah karena banyak orang kaya yang beli properti kemudian disewakan di Airbnb. Kemudian di Indonesia sendiri Gojek menimbulkan kegelisahan ojek tradisional yang sering berujung kekerasan.

Anyway, saya nggak akan bahas tentang permasalahan sosial atau kebijakan, tetapi lebih ke emergence HCI dan UX sebagai pendukung inovasi. Dulu waktu S1 yang saya pahami tentang HCI itu adalah bagian dari rekayasa perangkat lunak (software engineering), gimana cara mengemas cantik si software supaya mudah dipakai. Sejak kuliah S2 di Swedia, saya baru ngeh kalau HCI itu ikut dalam tahap desain juga. Ternyata bermacam-macam prinsip desain dan metode-metodenya itu diaplikasikan pretty much dari awal sampai akhir. Kemudian beda lagi pandangan saya ketika kuliah di Prancis. Kebetulan ada dosen saya aktif banget di riset HCI sejak lama, dan ketika ikut kuliah dia, saya dan teman-teman heran banget apa yang disampaikan dia tentang HCI itu ternyata beda banget sama di Swedia untuk judul kuliah yang sama.

Sejak diajar beliau itu saya baru paham kalau HCI adalah sebuah bagian ilmu di computer science (CS). Kalau prinsip di CS pada umumnya adalah input->process->output. Sementara di HCI, diagramnya menjadi sebuah loop, karena di bagian input dan output ada ‘process’ yang terjadi pada manusia, dan apa yang terjadi di antara manusia dan komputer ini disebut interaksi. Kemudian ternyata si loop ini ga berdiri sendiri, karena pada dunia nyata, process yang terjadi pada manusia ditentukan juga dengan apa yang terjadi di sekitarnya, kurang lebih seperti gambar berikut.

Dari keadaan ini, dosen saya menyebutkan bahwa HCI menjadi sebuah bidang yang kompleks dan multidisipliner. Menurut saya dan didukung oleh Pak Peter Wegner dalam artikel Interaction is More Powerful than Algorithm, HCI adalah bidang ilmu di computer science yang memiliki paradigma berbeda: kalau CS (maaf agak generalisasi sih ini) bercita-cita menciptakan teknologi yang punya kemampuan komputasi yang makin cepat, konektivitas makin tinggi, data yang makin besar untuk diproses, HCI adalah bidang yang mikirin juga apakah teknologi yang makin bermacam-macam ini baik juga buat manusia. HCI dan UX mengkaji kembali dalam konteks apa teknologi ini digunakan, oleh siapa, dalam situasi apa, dsb.

Nah, coba digaris bawahi lagi di kata ‘manusia’. Kalau kita balik pake otak bisnis di sini, berperan sebagai apakah ‘manusia’ ini? Yes, User dan consumer. Kalau balik lagi ke artikel tentang disruptive innovation di atas, saya kutip

Disruptive innovation allows a new population of consumers to access products or services that were historically only accessible to rich consumers.

.. These innovations disrupt the market by creating new demands and new type of consumers. …

Helloooo~! New consumer beberapa kali disebut di sini. Nah ini dia tanda-tanda dibutuhkannya riset dengan paradigma HCI dan UX. Di HCI dan UX sangat dikenal yang namanya user research. Ternyata, user research ini bisa dipakai di HCI dan UX, juga dalam inovasi bisnis.

Kalau saya inget-inget jaman kuliah di Swedia nih, ada dua mata kuliah yang punya aktivitas hampir mirip, yaitu kelas HCI Principles and Design (HCID) dan kelas Business Development Lab (BD Lab). Di kelas HCID waktu itu kami disuruh bikin solusi teknologi untuk shopkeeper. Yang harus dilakukan di sana bukan membayang-bayangkan seperti apa kerjaan shopkeeper, tapi kami harus terjun langsung ketemu dengan shopkeeper untuk bertanya dan observasi. Setelah punya hasil, kami mendesain sebuah solusi, dan balik lagi ketemu para shopkeeper ini untuk mendapatkan feedback mereka. Interaksi langsung dengan user seperti ini gampang-gampang susah, belum tentu mereka mau diganggu pas kerja, belum tentu mereka paham apa yang kita bicarakan, dan ketika kita menanyakan feedback, sering banget mereka nggak mau menyakiti hati kita, jadi sering kali mereka bilang, ‘wah bagus ya’, ‘boleh juga’, ‘menarik..menarik’ dst, dan akhirnya kita menganggap teknologi kita sudah keren padahal belom tentu.

Di kelas BD Lab, kami bekerja menggunakan Business Model Canvas (BMC) yang punya 8 building blocks seperti pada gambar di bawah. Kami mencoba menjelaskan satu bisnis baru menggunakan BMC. Setiap elemen pada BMC ini adalah hipotesis kami. Nah untuk membuktikan hipotesis ini lagi-lagi kami harus ketemu orang-orang terkait, nanya-nanya, membuktikan apakah hipotesis kami benar, atau BMC kami perlu diperbaiki lagi. Dari aktivitas ini nggak jarang kami merasa tertampar bahwa hipotesis yang kami susun ternyata nggak begitu adanya di kenyataan. Dari kelas ini banyak banget lesson learned yang kami dapat.

Business Model Canvas: AirBnB. Building blocks antara lain: Value Proposition, Customer Segments, Channels, Customer Relationships, Cost Structure, Revenue Streams, Key Activities, Key Resources, Partner Network

Contoh Business Model Canvas milik AirBnB. Building blocks BMC terdiri dari: Value Proposition, Customer Segments, Channels, Customer Relationships, Cost Structure, Revenue Streams, Key Activities, Key Resources, Partner Network

Dari dua kelas ini ada kesamaan yang bisa kita lihat, yaitu bahwa asumsi dari kita sebagai penyedia solusi teknologi maupun bisnis, tidak selalu benar. Seringkali desainer dan entrepreneur jatuh ke dalam jebakan ‘falling in love with an idea‘, padahal belum ide itu terjadi beneran di dunia nyata. Kalo emang nggak ada, harus cepet diubah, harus sering kembali ke consumer.

Jadi saya pengen banget menekankan bahwa di era nahlo-disruptive-innovation-mulai-bermunculan-kita-kudu-berinovasi-juga-dong ini, HCI dan UX menjadi salah satu bidang yang sangat penting dalam mendukung inovasi. HCI perlu dikenalkan sebagai salah satu bidang di computer science yang memiliki paradigma yang berbeda. Kesamaan concern tadi, yaitu selalu kembali ke user, membuat kita bisa sambil menyelam minum air: insight tentang user bisa kita gunakan untuk memperbaiki solusi teknologi, as well as menerapkan strategi-strategi bisnis yang lebih sesuai dengan consumer maupun ketika ingin merangkul consumer baru.

Tak lupa selain itu, bidang HCI adalah salah satu bidang yang sangat kaya akan ide-ide baru, seringkali riset di bidang HCI menjadi teknologi yang sangat trending dan menjadi disruptive technologies. Contohnya nih, wearable technology, augmented reality, virtual reality, tangible interaction, gesture interaction… dan banyak lagi!

footnote: sorry saya nggak banyak bahas soal UX, tapi tau-tau banyak nyebut UX di sini, sebenernya ga tau banyak di bidang itu. Jadi UX adalah kependekan dari User Experience, kurang lebih prinsip-prinsipnya sih hampir sama ya dengan HCI, cuman UX lebih banyak menggunakan prinsip desain dan usability

Baca juga: Kenapa teknologi trending suka naik turun? Tengok artikel Hidung Panjang Inovasi.

Story of Ramadan in Summer

Muslims all around the world are waiting for the holy month Ramadan. During Ramadan, we are going to be fasting for one whole month. Fasting here means that we do not eat any food or drink from the break of dawn until the sun sets.

Luckily (yeah we are lucky!) for us who live in the northern hemisphere, we will experience longer fasting since it is summertime. In most part of Europe, the day will last for 18 hours, while in Scandinavia, it can last until 20-22 hours. While in extreme parts of the globe will be given some exception (rukhsoh) based on rules of the current scholars (fatwa), most people (who are healthy and able) will just have to stick with it. In the place I reside in, the break of the dawn (fajr) is at 01.50 and the sun sets (maghrib) at 22.10. Yeah 20 hours!

It’s not only about struggling with hunger

When fasting, we are recommended to take early meal before the break of the dawn (suhoor) and we must eat as soon as the sun sets (iftar). Sticking to these times is part of the legibility of the fasting. This means, our biological clock will have to adapt. Not only the periods of meal, but also sleeping times as well as productive time.

Last year I had to fast when I was in southern France, for summer school. Maghrib was at 21.00 and Fajr was around 03.00, around 18 hours fasting in total. It wasn’t, alhamdulillah, that hard with the hunger and thirst. But it was very hard to get to sleep at night and wake up again before 03.00, then sleep again until 07.00 or 08.00. I have to really obey my phone’s alarm.

Biological clock

Sleeping-time-wise it is easier in Sweden. Say you have a routine at 9am until 5pm, you sleep as soon as you finish fajr prayer (around 2.30am), then wake up around 8am to get ready to work (much simpler since you don’t have to think about breakfast). Then as soon as you came back from work, say at 6pm, get to bed straight away. Three hours nap is good to help you stay up at night. Then wake up at 9pm to prepare some food, and finally at 10pm you can enjoy your iftar. Then you just stay up until fajr again.

Like having a long flight, we like to have as few transits as possible. When I was fasting in France, I had three sleep period or “transits”: after work, after night prayer and after morning prayer. In Sweden there are fewer “transits”: after work and after morning prayer.

But sometimes our body doesn’t follow that logic. It’s not easy to eat again after midnight after you had a big iftar meal. It isn’t easy to get to sleep when you don’t feel sleepy or get up when your eyes still wants to be closed. Suddenly your alarm clock and extra dark curtain become your most important equipment when Ramadan falls in summer.

Energy-saving mode

Most of the time at 9pm, you almost have no energy left. But you just have to prepare the food, if you haven’t already done so. Usually for me, I want to have the most delicious food for iftar. So I usually prepare a few things in the menu.

Therefore it is super important for me to be at “energy-saving mode” during the day. I try to do less of the unimportant things, to talk less, not to get into situation that I have to rush or make my body worn out, but still stay in focus of work and prayers.

Temptation 

To be honest, it is super hard not to be thinking about or be tempted by food during the day. But the temptation is not over after iftar. Prophet Muhammad SAW taught us to fill our stomach with: 1/3 food, 1/3 water, 1/3 air. However once we break the fast, there is a big temptation to eat a lot. If you go to a Muslim country like Indonesia, people just get sooooo creative in terms of cooking during Ramadan. The best of food are sold during this time. Ironically, sometimes we are prone to wasting food during the fasting period.

So, is it that hard?

Before coming to Europe, I had the question whether I will be able to fast when the day is long. When I arrived in Sweden, it turns out that the weather is much cooler than in my tropical country, even in summer. It is also not that humid. It’s like having a big air conditioner outside. My first fasting in Sweden was surprisingly easy, I don’t feel thirsty so much even after more than half day fasting. So even though we had 20 hours without food, we are given better weather to deal with it😉

Ok that really was just to cheer myself up, but I’m not going to lie. Fasting is a struggle, fasting is difficult. In the summer and in tropical countries. But this is faith put into test. In Islam we believe that Allah will never put us with tests we cannot handle. He is always fair in every way. Plus remember the wisdom, the lesson, the good deeds given later in this world or in the hereafter.