Malam Panjang Ramadhan

#storytime #throwback

Entah kenapa setiap bulan Ramadhan, malamnya terasa lebih panjang. Mungkin karena pada malam hari masih banyak yang berkegiatan di luar rumah, dibandingkan dengan bulan lain.

Sama seperti saat itu di belahan bumi bagian utara. Ramadhan jatuh pada musim panas, sehingga matahari hanya tenggelam selama kurang lebih 4 jam. Meski demikian, malamnya masih terasa hidup.

Pukul 10 malam, hidangan buka puasa baru bisa disantap. Tiap urat di badan semua menuntut diberi nutrisi dan disegarkan kembali. Yah atau mungkin emang nafsu yang sudah ditahan kadang menjadi kelepasan, akhirnya hidangan diselesaikan dengan kilat.

Hari itu akhir pekan, tak ada keharusan berangkat pagi esok harinya. Mau berselimut saja tidak akan ada yang protes. Tapi malamnya musim panas itu menyenangkan—apalagi bulan Ramadhan. Aku ingin keluar malam itu.

Shalat tarawih berjamaah tak selalu kulakukan di Ramadhan itu. Jauh dan sudah terlalu larut malam, transportasi akan lebih sulit. Kecuali Jumat malam saat itu, transportasi akan selalu ada sampai cukup larut— karena penduduk lokal memiliki “jadwal” berkumpul dan bersosialisasi pada malam sebelum akhir pekan.

Lepas Maghrib munfarid di kamar kosan, bergegas aku berpakaian untuk keluar rumah. Sekali-kali mengejar tarawih di masjid! Aku berjalan menuju stasiun, yang kurang lebih 10 menit dari kos. Malamnya musim panas itu enggak gelap gulita, hanya membiru tua. Udaranya tidak panas, tetapi juga tidak begitu dingin.

Dari stasiun Bergshamra naik jalur merah, harus pindah ke jalur hijau di Gamla Stan—lebih mudah dibanding di T-Centralen yang harus pindah lantai. Dari jalur hijau kemudian keluar di Medborgarplatsen.

Medborgarplatsen adalah sentra keramaian di malam Sabtu. Letaknya ada di Sodermalm, daerah paling hipster se-Stockholm. Banyak club ngehits di sana. Syukurlah buat saya yang keluar sendirian pukul sebelas malam, suasana masih hingar bingar, jadi nggak takut!

Stockholms moskee letaknya di antara gedung-gedung 3 lantai. Penampilannya biasa aja, nggak ada yang heboh. Kalau sholat di sana, didominasi saudara-saudara dari Somalia. Aku nggak ingat ada khutbah.. atau karena aku datangnya mepet? Waktu itu langsung sholat aja.

Sholat selesai sekitar tengah malam, pukul 12. Lagi-lagi ketika turun ke stasiun nggak ngerasa serem alhamdulillah. Stasiun masih ramai, kadang ada teriakan orang mabuk, tapi santai aja. Walau sudah tengah malam, nggak ada rasa kantuk, karena sudah merasa re-fresh dari sholat berjamaah, dan merasa selalu ditemani sepanjang perjalanan. Alhamdulillah for the lovely summer nights.

IMG_1573

Mengingat Stockholm dari Jogja, tadinya cuman mau bikin status, gara-gara kopi eh jadi blog.

Jelajah Maroko Bagian 2: Indomie di Tengah Gurun Sahara

Pembaca yang budiman, saya persilahkan Anda semua untuk menimpuk penulis yang bertahun-tahun nggak ngelanjutin sequel tulisannya sejak tahun 2014 haha! :sungkem: Baru sekarang penulis merasa kemampuannya nulis agak memudar sehingga perlu kembali menulis. Eniwai, mari kita simak kelanjutan kisah jalan-jalan di Maroko yang bagian sebelumnya dituliskan di sini Jelajah Maroko Bagian 1: Gang Senggol Fez

Setelah seharian jalan-jalan di Fez, langsung pada malam harinya ketiga mahasiswa ini harus melanjutkan perjalanan ke Rissani naik bus CTM. Ngapain ke Rissani? Sebenernya Rissani itu bukan destinasi wisata kebanyakan di Maroko. Kami berencana untuk desert tour dan camping di  Gurun Sahara, dan setelah Googling sana sini, salah satu destinasi favorit untuk itu adalah ke kota Merzouga. Sebelumnya kami udah mencoba mencari tour Sahara yang paling ekonomis di internet, yang mana bukan perkara gampang. Tour yang murah meriah yang kami temuin, websitenya masih dengan format Microsoft Frontpage (bahkan belum jamannya WordPress) :)). Dari website itu kami kontak-kontakan dengan penyedia tour.

Sebenernya agak deg-degan juga. Bayangin kami kontakan cuman lewat email, gak dikasih nomor telpon, sementara informasi umum tentang Rissani dan Merzouga juga nggak terlalu banyak bisa ditemukan di dunia maya, udah gitu nama koresponden di email itu adalah Linda. Errr.. kayak bukan nama orang Arab pada umumnya. Pesan Linda cuma satu, pagi sesampainya di terminal bus di Rissani, kami bakal dijemput oleh Hassan Africa. Oke. Ciri-cirinya si Hassan gimana, dijemput naik apa, meeting pointnya dimana? Nggak tau! :)))

Mendadak Paranoid

Bismillah positif thinking kita jalanin aja dulu. Setelah sampai di Rissani, ternyata udah banyak orang yang nungguin kita di depan bis. Ada beberapa orang yang manggil-manggil “Merzouga.. Merzouga..” bikin timbul rasa penasaran kami, jangan-jangan ini yang orang mau jemput. Berhubung bangsa Maroko menggunakan bahasa Arab dan bahasa Perancis sebagai bahasa sehari-hari, ketika kami deketin si bapak itu,”Merzouga Tours?” | “Yes.. yes..” dan bapaknya langsung ngomong bahasa yang entah apa kami ga ngerti, jalan duluan, dan akhirnya kami cuma bisa ngikut aja. Dia membawa kami ke sebuah ada mobil jeep, dan kami akhirnya naik jeep itu. Sebelum naik jeep masih inget banget aku sempat nanyain “Hassan Africa?” tapi ga dijawab sama bapaknya……………..

Sepanjang jalan kami bertiga ga ngobrol banyak ataupun menikmati pemandangan gurun yang mulai terlihat di kanan dan kiri jalan, melainkan mikir dan berharap ini bener si bapak dari tour yang kita booking. Jalanan sudah mulai off-road, jeep kami memasuki kawasan jalan yang sudah bukan lagi aspal, melainkan pasir. Akhirnya kami memasuki satu bangunan di tengah gurun yang dikelilingi tembok semen lumayan tinggi mirip benteng. Sampai juga kami di Erg Chebbi, kawasan Gurun Sahara dekat dengan Merzouga.

Excitement melihat tempat singgah yang unik itu pudar sementara ketika sopir jeep tiba-tiba minta kami bayar masing-masing 25 dirham untuk ongkos perjalanan. Wadew, kirain udah sepaket sama tournya. Gak jadi hepi, balik lagi ke mode deg-degan, bisa dipercaya ga ini tournya?

Tour kami baru dimulai sore nanti. Kami menunggu di tempat singgah yang nuansanya khas Arab seperti di gambar di bawah ini nih. Karena trauma dengan pengalaman buruk yang baru saja terjadi, kami jadi hati-hati banget di situ, barang-barang nggak pernah luput dari pengawasan.. padahal aslinya tempat itu sepi, ga banyak turis, di tengah gurun pula. Namanya juga udah paranoid.

DSC_0104-COLLAGE (1)

Tempat singgah di Erg Chebbi

Jalan-jalan ke Gumuk Pasir/Sand Dunes

Walaupun lagi paranoid, daripada mati gaya kami jalan-jalan ke gumuk pasir (sand dunes) deket situ, tentunya setelah mengamankan barang-barang bawaan.

DSC_0124-COLLAGE

Erg Chebbi sand dunes

Yaampun masih gak nyangka lagi ada di Gurun Sahara, yang selama ini cuman tau dari buku IPS waktu SD. Berjalan di atas pasir nggak kalah sama berjalan di atas salju, sama-sama meninggalkan jejak kaki. Ditambah melihat hamparan pasir yang luas banget bergunduk-gunduk kecoklatan. Dan nggak terlihat apapun sejauh mata memandang selain hamparan pasir. Hashtag mengharukan. Hashtag masya Allah alhamdulillah allahu akbar :’).

Balik ke persinggahan, kami kemudian menghadapi realita selanjutnya. Laper. Gimana caranya kita bisa dapet makan di tempat kayak ini? Nggak ada warung makan di sekitar situ. Kami sempat ngobrol sama penjaga persinggahan sebenernya mereka udah cerita kalau mereka menyediakan makanan. Tapi kami curiga, pasti harganya mahal. Dan bener saja, waktu Sigit iseng nanya, harganya 100 dirham atau 10 euro atau 130 ribu rupiah. Alamak. Biasanya di kota cuma habis 40 dirham untuk makan besar. Terus gimana caranya kita makan? :))

Indomie Penyelamat Mahasiswa, Di Mana Saja, Kapan Saja

Sebelumnya saat perjalanan ke terminal bus di Fez, kami dikejutkan oleh sebuah toko yang menjual indomie. Nggak nyangka jauh-jauh ke benua Afrika bisa nemu mie instan kebanggan bangsa itu. Langsung kami beli beberapa untuk bekal. Karena teringat masih punya stok Indomie, kami langsung coba basa basi ke penjaga persinggahan siapa tahu boleh masak di dapur. Bayar buat sewa dapur nggak apa deh, daripada bayar buat makan.

Untungnya akhirnya penjaganya berbaik hati, kami diperbolehkan masak indomie! Ini epic banget, makan indomie di Gurun Sahara. Padahal Maroko itu negara muslim, makanananya jelas halal dan harga makannnya biasanya cukup terjangkau. Jauh-jauh ke Maroko mustinya makan kus kus, tagine, atau apa gitu, ini kita makan…. indomie. :))

DSC_0236.JPG

Muka bahagia bisa bikin indomie

Alhamdulillah berkat indomie kami bisa bertahan menunggu sampai tour dimulai di sore harinya. Saat itu dipersinggahan nggak banyak orang, ada dua atau tiga turis bule. Namun ternyata untuk keberangkatan tour sore itu kami cuman bertiga. Wih, eksklusip ya.

Tur Gurun yang Sebenarnya

Tournya ngapain aja sih? Jadi kalau kata “Linda” (yang akhirnya kami ga tau itu siapa, ga ketemu orangnya sama sakali), tournya termasuk menginap di tenda di tengah gumuk pasir/sand dunes, perjalanan naik onta pulang pergi, makan malam di tenda, tour guide, dan makan pagi. Total biaya semua 30 euro per orang.

 

DSC_0238-COLLAGE.jpg

Nah ini baru Desert tour sebenernya

Sore itu tiga onta sudah bersiap di samping persinggahan. Perbekalan mulai dimasukkan ke onta yang paling besar, yang juga jadi onta yang aku naiki berhubung aku paling berat. Perjalanan dengan onta kurang lebih sekitar 1.5 jam. Seru sensasi goyang kanan kirinya, apalagi berjalan di pasir, bukan di tanah yang rata.

Sesampainya di tenda langit sudah mulai gelap. Tour guide kami, Muhammad, mulai menyiapkan makan malam. Makan malamnya dimasak di api unggun yang baru saja dia nyalakan. Kami makan (kalo ga salah) tagine yang dimasak Muhammad, yang di sajikan di periuk tanah liat, dilengkapi juga dengan teh daun mint khas Maroko. Jangan bayangkan kayak makan di resto ya, tapi untuk makanan camping, udah cukup mewaaah.

Setelah makan kami bercerita dengan Muhammad, dengan bahasa Inggrisnya yang terbatas, dia cerita tentang suku Berber yang masih nomaden sampai sekarang, sering berpindah-pindah tempat tinggal di sekitar Gurun Sahara bagian Maroko, bahkan sampai Tunisia. Muhammad juga sempat menyanyikan sebuah lagu Berber dengan memainkan gendang.

Walaupun ceritanya lagi di tengah gurun, suhu saat itu super dingin. Memang saat itu lagi musim dingin, dan dinginnya malam di gurun nggak kalah sama dinginnya salju di eropa, serius. Idealnya dengan suasana di alam terbuka, ada api unggun, ada gendang, enaknya malam dihabiskan dengan bernyanyi sambil lihat bintang yah. Tapi kami udah ga tahan sama dinginnya, udah pengen langsung kemulan. Di tenda banyak disediakan selimut tebal, tapi entah kenapa nggak ngaruh. Padahal sudah 3 lapis. Selimutnya memang bukan tipe duvet, tapi selimut tebal dan berat, jadi nggak ngunci panas tubuh gitu. Untung cuma nginep semalem aja.

Pagi setelah matahari terbit kami sudah bersiap naik onta untuk kembali ke persinggahan. Di perjalanan naik onta mataharinya semakin tinggi, kami menikmati banget sorotan mentari selama perjalanan itu. Meskipun kadang-kadang terpaksa melihat onta kami berulah dengan buang hajat di perjalanan ahahha.

Kembali di persinggahan, kami harus memikirkan perjalanan selanjutnya, yaitu gimana caranya, dari tengah-tengah gurun antah berantah ini, kami bisa ke belahan Maroko lainnya: Marrakech. Biasanya kalau lagi travelling semua detail perjalanan udah diriset dan dipersiapkan sebelum berangkat. Tapi kali ini belum, karena minimnya informasi tentang kota yang kami singgahi saat itu. Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? 😀

 

(bersambung ke bagian 3… yang entah kapan ditulisnya. hahaha. Ini perjalanan terlalu banyak epic momentsnya sih, jadi harus ditulis semua. Tapi panjang jadinya, agak mager memulainya.)

 

 

 

Inspirasi untuk Essay Motivasi LPDP

Aslinya aku bingung mau ngasih judul apa. Mau dikasih judul “tips dan trik” gitu tapi sebenernya nggak bakal membahas hal yang seperti itu. Ini juga bukan blog tentang step by step atau contoh bikin essay motivasi. Sedikit masukan saja buat yang bingung nyusun essay motivasi dan rencana pasca studi LPDP.

Akhir tahun 2015 lalu sempat ngehits note dari Pak Lukito, dosen UGM yang sekarang bergabung jadi interviewer LPDP. Syukur banget loh ada interviewer baik hati yang mau berbagi opininya begini. Note ini ga butuh waktu lama untuk menjadi viral, langsung di-share di berbagai forum dan media sosial. Tanggapannya pun macem-macem.

 

https://www.facebook.com/notes/lukito-edi-nugroho/anda-memang-pintar-tapi-/10153784883703934

Inti dari note itu adalah, bahwa boleh bercita-cita setinggi langit, tapi cobalah tetap membumi dan kongkrit.

Mungkin buat teman-teman freshgrad, nggak gampang untuk sampai ke sana. Secara bulan-bulan terakhirnya kan pasti dihabiskan bertapa demi hasil skripsi yang baik. Ngegoa–istilahnya jaman aku ngerjain thesis dulu, alias nggak kemana-mana kecuali keperluan bertahan hidup dan skripsi.

Nah lalu bagaimana, dari yang barusan keluar gua bisa langsung bikin rencana indah untuk masa depan? Apalagi LPDP menuntut ga cuma untuk masa depan diri sendiri, tapi juga masa depan bangsa. Itu berat.

Yang pertama, mungkin bisa jadi kamu hoki. Hoki topik skripsinya lagi in banget, potensi bagus banget lah buat dilanjutkan untuk riset ke depannya. Atau ada jurusan spesialisasi S2 yang pas banget sama topik itu. Trus topiknya juga pas banget sama permasalahan di Indonesia. Enak deh, sambil berkutat di dalam gua bareng skripsi sambil mikir masa depan. Apalagi terus didukung sama network yang oke dan paper-paper yang kamu baca itu tepat dari ahlinya.

Tetapi ada juga yang pada romansa dengan skripsinya nggak terlalu nge-klik. Bisa jadi pasca kelulusan pengen coba hal baru atau pengen menggali passion yang pernah membara tapi belum pernah ditindaklanjuti. Nah itu mungkin kasus seorang temen saya yang minta masukan pada essay motivasinya. Pas aku baca keliatan banget lah semangatnya gimana. Tapi balik lagi ke note Pak Lukito, semangat itu aja sayangnya nggak cukup. Masalahnya temen-temen dengan situasi seperti ini mungkin kesulitan juga mencari cara membuktikannya gimana.

Nah kalau aku boleh ngasih saran sih, pertama, bisa dengan tunjukkin dengan track record kamu bahwa untuk bidang itu kamu kompeten dan kamu tau arah pergerakannya ke mana. Track record ini nggak cuman dari skripsi atau akademis aja, bisa jadi kamu pernah terlibat forum diskusi, organisasi, lomba, exchange, volunteering, dan masih banyak lagi.

Selain itu bisa juga karena beneran suka sama bidang itu, kamu jadi sering baca berita atau ngikutin di media sosial. Nah dari yang udah ada di berita atau sosmed kamu bisa nemuin potensi-potensi di bidang ini. Atau sebaliknya, kamu merasa apa yang ada sekarang malah berjalan belum sebagaimana mestinya. Momen-momen ketika kamu baca berita dimana kamu dalam hati bilang “yaampun ini sebenernya bisa begini begini loh” itu yang dicari.

Terakhir, akan sangat membantu buat cari inspirasi. Zaman sekarang cari inspirasi itu sebuah hal yang ubiquitous alias sering banget terjadi hanya saja kita nggak menyadarinya. Yang aku maksudkan adalah sebuah aktivitas bernama kepo. Yes..! Bukalah LinkedIn dan cari kata kunci yang sesuai dengan bidangmu. Lihat dimana saja orang pada bidang itu bekerja, seperti apa, apa saja tantangannya, bagaimana jenjang karirnya. Lihat perusahaan apa saja yang ada. Sekarang LinkedIn itu sudah dipakai buat headhunting alias pencarian SDM, jadi mestinya penggunanya sudah banyak dan informasi CV seseorang biasanya disajikan cukup lengkap. Nah dari sini juga bisa ketahuan, sudah sampai mana sih orang Indonesia menggeluti bidang itu dan apa saja yang masih bisa di-improve.

Kayaknya sih LPDP sekarang udah mewajibkan calon awardee bikin LinkedIn ya. Bagus deh, semoga ga cuman asal bikin dan asal add connection, tapi tau esensi dan tujuannya apa.

Disclaimer sedikit ya, saya awardee LPDP yang udah selesai studi, udah lupa dulu nulis apa di surat motivasi. LPDP juga sudah banyak berubah. Tips di atas saya racik dari opini, bukan berdasar pengalaman (i.e. belum ada yang terbukti lolos pake tips di atas huehe). Jadi silakan ambil baiknya, kasih saran buat yang belum baiknya.

Semoga tetap bisa sukses meraih mimpi setinggi langit kita yah. Kata Andrea Hirata kan bermimimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.

 

[InfoViz] Memvisualisasikan Berbagai Jenis Data

Beberapa tahun belakangan mulai ngetren yang namanya infographics, dimana informasi atau data disajikan dengan grafis atau visualisasi menarik. Sebuah informasi ternyata menjadi lebih menarik ketika disampaikan dalam bentuk infografis. Tadinya sebuah informasi bisa berupa berderet-deret angka dalam tabel atau bertumpuk-tumpuk paragraf. Infografis bisa merangkum informasi atau data dalam jumlah besar, sekaligus relasi antar variabelnya, dalam satu ilustrasi.

Dalam bidang penelitian HCI sendiri dikenal bidang information visualization (infoviz). Seiring dengan berkembang pesatnya big data, dibutuhkan cara yang tepat untuk menyajikan data yang besar itu. Kenapa harus divisualisasikan? Penglihatan adalah indera paling dominan manusia dan manusia mempunyai kemampuan yang bagus dalam mengenali pola-pola visual. Nah ketika kita bisa melihat pola dalam data, kita jadi tau lebih cepat bagian apa yang mau kita telusuri lebih lanjut. Selain itu informasi yang divisualisasikan juga jadi lebih gampang untuk dijelaskan.

Di bidang infoviz, banyak peneliti yang mengusulkan teknik visualisasi baru. Visualisasi data itu tak hanya bar chart, pie chart, scatterplot.. Setiap ada usulan baru harus dijelaskan kenapa teknik ini efektif, digunakan untuk data seperti apa, apakah usable, mudah dipahami, dan apa saja limitasinya. Media visualisasi juga menjadi faktor berkembangnya teknik visualisasi, misalnya buat wall-sized display bakal beda sama mobile display. Nah bagaimana kah cara mendesain visualisasi data yang baik?

Sebelum membuat suatu visualisasi, perlu dilihat dulu jenis datanya. Secara umum jenis data bisa dibagi menjadi:

  1. Nominal (data yang berbentuk kategori atau klasifikasi, contoh: jenis kelamin -> laki-laki, perempuan)
  2. Ordinal (data yang berupa order atau peringkat, contoh: kualitas barang tiruan -> KW I, KW II, dst, data ordinal bisa diurutkan, tetapi tidak bisa dilakukan operasi matematika)
  3. Kuantitatif interval (data yang berupa nilai atau rentang nilai, contoh: tanggal, jarak)
  4. Kuantitatif rasio (data yang berupa nilai, bisa diberi semua operasi matematika, contoh berat, panjang, jumlah, dsb)

Kenapa mengetahui jenis data itu penting? Ternyata untuk merepresentasikan setiap jenis data ada cara terbaiknya masing-masing. Apalagi ketika kita menyandingkan satu jenis data dengan jenis data yang berbeda, nggak semua cara bisa. Contohnya di grafik di bawah ini, apa yang salah?

grafik salah

sapi, kambing, ayam, kelinci itu tidak saling terhubung

Dalam membuat visualisasi dua dimensi ada yang namanya building blocks, antara lain :

  • Poin/titik
    Poin menggambarkan lokasi, tetapi belum tentu punya nilai besaran,
  • Garis
    Garis memiliki panjang yang bisa diukur, tapi nggak punya luas area. Garis bisa digunakan untuk menggambarkan koneksi, perbatasan, atau rute.
  • Bidang/Area
    Bidang punya luas yang dapat diukur. Sebuah bidang yang sama nilainya biasanya nggak akan berubah ukurannya, tetapi bisa berubah posisinya.

Building blocks di atas kemudian punya visual variable. Visual variable ini nanti yang memberikan nilai pada building blocks di atas. Visual variable antara lain ada shape, size, value, orientation, color, dan texture. Selain itu untuk visualisasi yang menggunakan layar komputer bisa memiliki visual variable tambahan seperti gerakan/motion, kedalaman, iluminasi, transparensi.

visual variable

Ibarat bermain game menggunakan weapon yang berbeda-beda, visual variable ini punya efek yang berbeda-beda. Efek ini disebut juga characteristic of visual variable yang  dideskripsikan dalam poin-poin di bawah ini.

  • Selective
    Apakah visual variable bisa dengan mudah membedakan satu nilai dari nilai yang lain?
  • Associative
    Apakah visual variable bisa dengan mudah mengelompokkan nilai-nilai?
  • Ordered
    Apakah visual variable bisa dengan mudah menunjukkan urutan dari sekumpulan nilai?
  • Quantitative
    Apakah visual variable bisa dengan mudah menunjukkan jumlah?
  • Length
    Seberapa banyak variasi visual variable yang bisa menunjukkan nilai yang berbeda-beda?

Karakteristik ini bersifat pre-attentive atau harus bisa dilihat/dipahami tanpa seseorang harus melihat secara fokus.

Kita lihat salah satu contohnya. Size misalnya. Gambar di bawah ini menunjukkan tiga building blocks dengan size yang berbeda.

Screen Shot 2015-12-02 at 10.31.18

Dari gambar di atas, apakah kita bisa langsung melihat walau sekilas (pre-attentively) variasi data dari size yang berbeda-beda? Bagaimana dengan mengelompokkan? Mengurutkan? Menunjukkan jumlah? Menurut Bertin [1], size memenuhi semua karakteristik kecuali menentukan jumlah (quantitative). Misalnya ada lingkaran besar yang mempunyai 2x luas dari sebuah lingkaran kecil. Kita tahu kalau lingkaran besar itu punya jumlah lebih banyak, tapi ketika masih dalam tahap pre-attentive, sulit untuk menemukan kalau ternyata si lingkaran besar ini jumlahnya tepat 2x lingkaran kecil. Contohnya pada gambar di bawah ini. Apakah mudah membayangkan jumlahnya? Bagaimana dengan proporsi lingkaran kecil dengan lingkaran yang besar?

Screen Shot 2015-12-02 at 10.50.15

Ternyata memang size tidak terlalu cocok untuk menggambarkan jumlah. Selain itu rasio mana yang dipakai? Radius atau luas? Menurut saya bar chart akan lebih jelas memberikan gambaran.

Karakteristik visual variable bisa dirangkum dalam tabel berikut. Perlu diingat selalu bahwa karakteristik ini dilihat dalam keadaan pre-attentive.

Screen Shot 2015-12-03 at 14.49.42

 

Kembali lagi ke jenis data yang kita bahas di awal. Setelah melihat visual variable yang memberikan efek atau karakteristik yang berbeda, maka, dalam menyajikan jenis data yang berbeda, dapat dipilih visual variable yang paling sesuai. Tabel di bawah ini merangkum setiap jenis data dengan visual variable yang digunakan dari yang paling akurat sampai tidak akurat untuk setiap jenis data. Mungkin ini yang saya bisa sebut tabel sakti yang jadi pedoman untuk visualisasi dengan jenis data yang bebeda.

Screen Shot 2015-12-03 at 15.09.58.png

Terakhir, berikut ini adalah salah satu contoh yang menarik dari penggunaan visual variable yang kurang sesuai. Dua grafik di bawah ini menunjukkan merk mobil dan dari mana asalnya. Semua variabel menggunakan data nominal (cek kembali tabel di atas kolom paling kanan). Grafik pertama menggunakan length sementara grafik kedua menggunakan position. Nah yang mana yang lebih mudah dipahami (dan tidak memberikan persepsi yang salah)?

Grafik sebelah kiri yang menggunakan length membuat kita beranggapan kalau mobil Volvo dan Saab buatan Sweden punya nilai lebih tinggi dari pada yang lain. Padahal itu bukan maksud dari grafik ini.

Nah itu kurang lebih demikian hal-hal dasar yang perlu diperhatikan untuk membuat visualisasi data yang baik. Teori yang dibahas di atas masih general, belum spesifik ke visualisasi menggunakan media komputer, dimana nanti bisa lebih “kaya” dengan interaksi.

Monggo kalau ada pertanyaan atau kritik, ditunggu di kolom komentar! 🙂

-dirangkum dari materi kuliah Interactive Information Visualization (01 Intro) oleh Aviz Lab Universite Paris-Sud –

[1] J. Bertin, Graphics and Graphic Information Processing. Berlin: Walter de Gruyter, 1977/1981

 

Mental Model di Warung Makan

Tempat makan (di Indonesia) itu banyak macamnya

  • Warteg
  • Fast food/take away
  • Restoran
  • Kafe
  • Warung gerobak

nah tiap tempat makan bisa punya cara pesen, makan, dan bayar sendiri. Di warteg, warung padang, warung nasi biasanya nasi, sayur dan lauknya ditata di sebuah lemari kaca. Pembeli bisa mengambil piring dan menunya sendiri atau diambilkan oleh penjaga warung (biasanya kalau dibungkus). Ada warung yang memberi harga dengan melihat apa saja isi piring, tapi ada juga warung yang cukup pembeli menyebutkan apa lauknya.

Di warung nasi menu bisa langsung dilihat dan diambil, kadang strategi penjualan itu berada di peletakan menu. Sama dengan ketika menata makanan di rumah biar makanan cepat habis harus bisa kelihatan sama yang mau makan (nasehat ibuk). Beda lagi strateginya kalau ada di restoran atau tempat makan yang harus masak dulu. Penjualan tempat seperti itu bergantung ke tulisan atau gambar pada menu (asumsinya si warung belom kondang ya).

Aktivitas terakhir adalah bayar. Ada yang bayar di depan sebelom dapet makanan, ada yang bayar berdasarkan penilaian kasir, ada yang pake nota, ada juga yang bayar berdasarkan kejujuran nyebut lauk apa yang dimakan.

Terus apa sih poin-nya tulisan ini?

Sebetulnya motivasi tulisan ini adalah pengalaman siang tadi beli makanan di warung geprek. Jogja mulai dua tahun yang lalu latah warung ayam geprek dan ada warung yang meniru 98% warung ayam gepreknya Bu Rum (pionir yang paling kondang menurut sejarah warung ayam geprek). Di warung Bu Rum sebelum makan biasanya antri, ambil sendiri nasi, sayur, terus ayamnya dibawa ke mas-mas biar digeprekin sambil menyebutkan berapa tingkat kepedesan yang diinginkan. Nah warung tadi siang tuh 95% mirip Bu Rum dari sisi bentuk piringnya, nasi ambil sendiri, ayam milih sendiri terus dibawa ke penggeprekan. Tetapi peletakannya sedikit berbeda dan ga ada penjaga warung yang ngasih tau. Udah lama ga makan di warung ayam geprek sih, jadi perlu sedikit me-refresh memori, tetapi melihat piring rotan yang dikasih alas kertas coklat bikin aku memasang mental model “oh, ini kaya di Bu Rum”. Tapi karena peletakan berbeda jadi “lho ini mulai dari mana? terus dikasihkan ke penggeprekan gimana?”

Jadiiii.. monggo yang akan mendesain sebuah sistem (apapun, di sini contoh simpelnya warung makan) untuk menginvestigasi apa sih yang sudah familiar dengan user. Trus ternyata tempat asal menentukan mental model seseorang. Bisa jadi kalo bukan orang Jogja atau gak familiar dengan ayam geprek Bu Rum gak akan bingung kaya saya tadi.

Tapi bukan berarti sistem baru harus selalu sama dengan sistem yang sudah ada dengan alasan “biar gampang”, tentu semua ada faktor lain yang menentukan (misalnya gimana biar antrian lancar, ga tabrakan, ato bahkan strategi biar penjualan lebih kenceng). Apalagi kalau sistemnya dipake ke banyak orang dan mulai ada diversity, mulai perlu identifikasi apa yang essential dan apa yang necessary.